Baptisan Air


Silahkan KLIK pada gambar di samping untuk menyaksikan video.

Definisi umum: Baptisan dapat didefinisikan sebagai suatu tindakan untuk mempersatukan diri dengan kelompok tertentu. Baptisan Air menggunakan medium air untuk melakukannya.

Sejarah mengisyaratkan bahwa baptisan sudah dilakukan jauh sebelum zaman Kekristenan mula-mula, namun Alkitab mencatat bahwa Allah memerintahkan Yohanes Pembaptis untuk membaptis dengan air sebagai tanda pertobatan, dan Yesus Kristus menaati perintah Bapa-Nya ini dengan memberikan Diri-Nya dibaptis oleh Yohanes Pembaptis di sungai Yordan. Selanjutnya, di abad permulaan Masehi, orang-orang Kristen awal juga melakukan pembaptisan terhadap orang-orang yang percaya kepada Yesus Kristus dengan pembaptisan serupa.

Model atau metode pembaptisan ada bermacam-macam,  di antaranya adalah: baptis selam , baptis curah dan baptis percik. Dua yang terakhir sepertinya dapat dikategorikan sebagai baptisan klinis (clinic baptism) lantaran dulunya dilakukan pada orang sakit yang hampir meninggal. Baptis selam dilakukan oleh Yohanes Pembaptis, juga dilakukan oleh murid-murid Yesus hingga abad-abad permulaan tahun Masehi. Sejarah gereja mencatat bahwa pada abad-abad sesudah itu mulailah dilakukan baptis tuang dan baptis percik oleh gereja.  Di akhir artikel kami sajikan kutipan sejarah baptisan.

MAKNA BAPTISAN:

Setiap orang perlu memasuki sebuah kehidupan dengan pengalaman baru, melalui iman percaya kepada Tuhan Yesus, melalui kebenaran salah satu dasar kekristenan yakni tentang Baptisan Air. Setiap orang yang ingin mengalami baptisan air hendaklah memahami terlebih dahulu makna sebenarnya dari Baptisan Air ini.

Hakikat Baptisan Air adalah: bahwa kita mengalami PENGUBURAN TABIAT MANUSIA LAMA, serta mengalami kebangkitan untuk berjalan dengan Kristus dalam hidup yang baru. Dengan Baptisan Air seharusnyalah tubuh dosa kita hilang kuasanya sehingga kita tidak lagi menjadi hamba dosa (Roma 6:6). Baptisan Air menggenapi kehendak Tuhan Yesus, dan seharusnya dilakukan oleh orang percaya (Matius 3:15-17).

Melalui Baptisan Air ini, kita berbicara tentang PENGUBURAN dan KEBANGKITAN. Manusia lama kita hendaklah mengalami “kematian total” , kita menjadi satu dengan Tuhan Yesus dalam kematian-Nya, dan mengambil bagian dalam kehidupan kebangkitan-Nya (Kolose 2:12).

Baptis berasal dari kata “baptizo” (Yunani) yang bermakna “ditenggelamkan seluruhnya”, itulah sebabnya dahulu Allah memerintahkan Yohanes Pembaptis untuk membaptis dengan air (Yoh 1:33), yang merupakan baptisan pertobatan (Mat 3:11), dengan cara menenggelamkan seseorang yang dibaptis itu ke dalam air, lalu membangkitkannya dari air itu; waktu itu dilakukan di sungai Yordan.

Jadi Baptisan Air yang benar dilakukan dengan cara membenamkan seluruh tubuh ke dalam air baptisan dan bangkit keluar.

Air menggambarkan liang kubur, yaitu untuk menguburkan kita dari kuasa dosa. Baptisan Air dilakukan dalam nama Tuhan Yesus (Kisah Para Rasul 2:38); juga dapat dilakukan dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus (Matius 28:19). Tanda Baptisan Air adalah basah karena keluar dari air dan juga kita dapat mengalami kuasa kesembuhan dari sakit penyakit, roh-roh jahat dapat diusir, orang lumpuh dapat berjalan karena Kuasa dari Surga telah dicurahkan.

Selain kita dikuburkan dalam baptisan kematian, maka kita juga hendaklah menjadi sama seperti Yesus Kristus dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa dalam hidup yang baru (Roma 6:4).

Jadi, ketika kita dibaptis, kita mengalami sebuah pengalaman “kematian dan penguburan manusia lama” sebagaimana pengalaman Yesus ketika Dia mati dan dikuburkan (Rm 6:4). Sesudah kita menjadi satu dengan kematian-Nya itu, maka kitapun menjadi satu dengan kebangkitan-Nya (Rm 6:5); dahulu Yesus bangkit dari kubur, kitapun – pada waktu dibaptis – dibangkitkan dari air, yaitu “lobang kubur” manusia lama kita.

Karena itu, cara Baptisan Air yang benar adalah dengan cara tubuh kita ditenggelamkan atau dibenamkan seluruhnya ke dalam air baptisan atau kolam baptisan (Matius 3:16), dan pembatisan Air itu dilakukan dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus (Matius 28:19).

Tuhan Yesus memberkati.

Referensi:

“Bukti jelas yang paling awal atas baptisan bayi ditemukan didalam tulisan Tertullian yang menentangnya ( 185 AD.). Bukti langsung pertama yang mendukung baptisan bayi ditemukan pada tulisan Cyprian, didalam Sidang di Carthage, di Afrika tahun 253 AD. Didalam tulisan kepada salah seorang bernama Fidus, Cyprian mengambil alasan bahwa bayi harus segera dibaptis setelah lahir (Epistle of Cyprian, LVIII, 2). Namun pendapat ini tidak berdasarkan Alkitab dan tidak diterima oleh kalangan Kristen.

Sidang jemaat mula-mula semuanya menolak baptisan bayi. Sidang di Elvira atau Grenada, 305 AD., mewajibkan penundaan baptisan selama 2 tahun (Hefele, History of the Councils, I, 155,Edinburgh, 1871). Sidang di Laodikia yang dilaksanakan pada tahun 360 AD., mensyaratkan mereka yang akan “dibaptis harus menghafalkan pengakuan iman didalam hati dan menyatakannya” (Hefele, II, 319). Sidang di Konstantinopel menetapkan bahwa calon yang akan dibaptis harus “tinggal suatu waktu yang lama didalam pelajaran Alkitab sebelum mereka menerima baptisan” (Ibid. II, 368). Dan Sidang di Carthage, tahun 398 AD. menetapkan bahwa “katekisasi harus dilakukan dan disiapkan untuk baptisan” (DuPin, Bibliotheque universelle, c. 4, 282).”

“Basil Agung lahir pada tahun 329 AD. dalam sebuah keluarga kaya dan saleh, dimana nenek-moyangnya dikenal sebagai para martir. Ibu dan neneknya adalah orang Kristen dan 4 saudara laki-laki dan 5 saudara perempuannya merupakan orang Kristen terkenal. Ia dibaptis pada usia 26. Dalam sebuah perikop luar biasa, 380 AD., ia dengan terus terang menyatakan penyimpangan zaman-zaman itu. Ia mengatakan:

“Apakah engkau keberatan dan mengembara serta menunda baptisan? Padahal sejak kecil engkau telah dikatekisasi didalam Firman, dan engkau belum juga mengenal kebenaran? Setelah demikian lama mempelajarinya, belumkah engkau mengetahuinya? Engkau adalah pengembara sepanjang hidupmu. Seorang peragu sampai tua. Kapan engkau akan menjadi seorang Kristen? Kapan akan kami melihat engkau menjadi bagian dari kami? Tahun lalu engkau menunggu sampai tahun ini; dan kini engkau berpikir untuk menanti sampai tahun berikutnya. Perhatikanlah, bahwa dengan mengatakan kepada diri sendiri engkau akan hidup lebih lama, maka engkau tidak sungguh-sungguh mendambakan pengharapanmu. Apakah engkau tahu perubahan apakah yang akan terjadi besok? (Migne, XXXI, 1514).

Semua ini menunjukkan bahwa orang Kristen mula-mula terus membaptis berdasarkan pengakuan iman; dan bahwa baptisan bayi tidak menghasilkan tempat pijakan yang permanen sampai berabad-abad setelah masa para rasul.

Baptisan bayi tidak berkembang secara mendadak. Augustine, Uskup dari Hippo-Regius, Afrika Utara (353-430 AD.) bukan orang pertama yang melaksanakannya; meskipun bukan dirinya saja yang membaptis bayi, namun ia merupakan pembela pertama dan yang paling kuat. Ia mengembangkan argumentasi theologis didalam pembelaannya. Sidang di Mela, Numidia, 416 AD., yang terdiri dari 15 anggota dan dibawah pimpinan Augustine, menetapkan:

Juga, merupakan hal yang menyenangkan bagi para uskup untuk memerintahkan bahwa terkutuklah barangsiapa yang menolak bahwa bayi yang baru dilahirkan oleh ibunya untuk dibaptis atau mengatakan bahwa baptisan dilaksanakan untuk penghapusan atas dosa-dosa mereka sendiri, tetapi bukan karena dosa asal yang diturunkan dari Adam, dan ditebus dengan penyucian kelahiran kembali (Wall, The History of Infant Baptism, I, 205).

Ini merupakan sebuah fakta yang bernada nubuatan masa depan bahwa sidang pertama yang mendukung praktek baptisan bayi yang disertai kutukan terhadap mereka yang tidak setuju dengan keputusan sidang. Selanjutnya ketetapan itu menunjukkan adanya penentang baptisan bayi pada masa itu, dan bahwa ritual baptisan bayi bukan merupakan kebiasaan universal pada masa-masa itu.

Ketentuan yang pertama yang dijadikan sebagai rujukan untuk mendukung baptisan bayi di Eropa, ditetapkan oleh Sidang Spanyol di Gerunda, 517 AD. Sidang tersebut terdiri atas 7 orang yang menganut 10 ketentuan. Patokan yang mencakup butir yang berkenaan disini adalah Pasal V:

Namun mengenai anak-anak kecil yang baru lahir, dengan sukacita kami tentukan, bahwa jika, sebagaimana biasanya, mereka lemah dan tidak minum air susu ibunya, meskipun pada hari yang sama dimana mereka lahir (jika mereka dipersembahkan, jika mereka dibawa) mereka boleh dibaptis.

Ketentuan itu merupakan instruksi katekisasi biasa yang mesti mendahului baptisan. Dalam kasus bayi sakit, karena ketakutan mereka akan terhilang karena mati sebelum dibaptis, maka mereka harus dibaptis selagi masih bayi. Tidak ada ketentuan yang dibuat untuk baptisan bayi yang kondisi kesehatannya baik. Juga terdapat keraguan apakah Sidang ini memang pernah dilangsungkan.”

“Charlemagne, 789 AD., mengeluarkan hukum pertama di Eropa untuk membaptis bayi. Ia terbelenggu perang yang sulit dihindarkan dengan orang Saxon, karena jenderalnya yang berani, Windekind, selalu mendapat sumber untuk mengalahkan rancangannya. Pada akhirnya sang kaisar berhasil menemukan sebuah cara yang mematahkan semangat Windekind, yakni dengan memisahkan pasukan darinya, dan hal ini benar-benar mengakhiri perang. Ini dilakukan dengan menhindarkan seluruh bangsa dari sebuah pilihan yang mengerikan; dibunuh oleh pasukan, atau menerima hidup dengan syarat mengaku sebagai orang Kristen dengan dibaptis; dan hukum-hukum yang keras masih tetap berlaku didalam kumpulan peraturan kerajaan ini, dimana mereka diharuskan, “dengan ancaman siksa kematian, untuk membaptis diri mereka, dan dengan denda yang berat untuk membaptis anak-anak mereka pada tahun kelahiran mereka”.

“Andre Lagarde mengatakan:

Sampai abad keenam, bayi-bayi hanya dibaptis ketika mereka ada didalam bahaya maut. Pada masa itu, praktek tersebut memperkenalkan pelaksanaan baptisan, meskipun mereka tidak sakit (Lagarde, Latin Church in the Middle Ages, 37).

Fakta-fakta ini semuanya menentang gagasan bahwa baptisan bayi merupakan praktek gereja-gereja purba. Ketika diperkenalkan, ia menghadapi perlawanan yang terbesar, dan hanya dibawah kutukan dan dengan todongan pedang, maka baptisan bayi dapat ditekankan kepada orang-orang Kristen yang tidak mau menerimanya; dan sikap intoleran mengikuti sejarahnya sampai kini.”

“Tentang bentuk baptisan yang dipraktekkan didalam gereja-gereja purba sedikitpun tidak ada keraguan. Dapat dipastikan bahwa cara selam merupakan ketentuan yang universal, dipelihara dengan baik oleh beberapa orang yang teraniaya.

Terdapat 6 gambaran terperinci atau ritual baptisan yang diturunkan kepada kita. Semuanya diketahui oleh gereja-gereja dan kesemuanya menggambarkan cara selam. Keenam gambaran tersebut dikenal dengan nama Egyptian Acts(Gebhardt dan Harnack, Texts and Researches, VI, c.4 (28);

TheCanon Hipolyte, abad ketiga (Hipolyte, Buku VII, (29); TheApostolic Constitutions or Canons, dalam versi bahasa Yunani, Koptik, dan Latin, 350-400 AD.;

Cyril of Jerusalem, 286 AD. (Migne XXXIII, 43);

Ambrose of Milan, 397 AD.(Bunsen, Analecta, II, 465), dan

Dionysius Areopagita, 450 AD. Ritual-ritual tersebut dipergunakan dengan luas didalam gereja-gereja dan menggambarkan praktek universal dengan cara selam.

Tentang praktek cara selam terdapat bukti di Afrika, Palestina, Mesir, Antiokhia dan Konstantinopel, serta di Kapadokia. Bagi orang Roma, kita memiliki kesaksian delapan ratus tahun tentang penggunaan cara selam. Tertullian menjadi saksi untuk abad kedua (Tertullian, De Bapt., c. 4); Leo Agung pada abad kelima (Fourth Letter to the Bishop of Sicily); Paus Pelagius pada abad keenam (Epist. Ad Gaudent); Theodulf dari Orleans pada abad kedelapan; dan pada abad kesebelas, orang-orang Roma menerapkan kepada subyek tersebut dengan selam “hanya dengan sekali” (Canisius, Lectiones Antiq., III, 281). Contoh-contoh ini menjawab cara yang digunakan orang Italia tersebut.

Ada juga kesaksian dari monumen Kristen mula-mula. Pada mulanya orang Kristen dibaptis di sungai-sungai dan mata air. Hal ini, menurut Walafrid Strabo, dilakukan dengan sangat sederhana (Migne, CXIV, 958). Kemudian oleh karena penganiayaan, orang-orang Kristen menyembunyikan diri; Catacombe-catacombe dilengkapi dengan banyak contoh tempat pembaptisan. Dr. Cote yang tinggal bertahun-tahun di Roma, dan dengan seksama meneliti masalah baptisan, mengatakan: “Pada masa kegelapan kekuasaan penganiayaan terhadap orang Kristen Roma purba, ditemukan tempat perlindungan yang dibuat tergesa-gesa di Catacombe-catacombe dimana mereka membangun tempat-tempat pembaptisan untuk melaksanakan upacara selam” (Cote, Archaelogy of Baptism, 151, London, 1876). Walaupun gambaran singkat mengenai tempat pembaptisan tidak bisa diuraikan disini, namun orang yang tidak dengan seksama mempelajari masalah tersebut akan terkejut dengan jumlah dan luasnya.

Kemudian ketika kebebasan beragama Kristen dijamin, banyak gereja yang didirikan. Pada mulanya tempat pembaptisan merupakan sebuah struktur tersendiri, terpisah dengan tempat kebaktian; namun kemudian menjadi kebiasaan untuk menempatkan tempat baptisan didalam gereja itu sendiri. Tempat-tempat pembaptisan demikian didirikan hampir di seluruh negeri dimana agama Kristen tersebar. Hal ini terutama di Italia. Cote memberikan daftar yang tak kurang dari 66 tempat pembaptisan didalam negeri itu saja (Cote, Baptisteries, 110). Setidak-tidaknya sampai pada abad kedelapan dan kesembilan tempat pembaptisan terus digunakan sepenuhnya di Italia. Tempat-tempat pembaptisan dibangun di Italia paling tidak sampai abad keempatbelas, sementara cara selam diteruskan di Kathedral Milan sampai berakhirnya abad kedelapanbelas.

Tempat-tempat pembaptisan tersebut dihiasi dan tentu saja penuh dengan emblem, mosaik dan lukisan yang ditujukan untuk memperjelas bentuk baptisan. Apa yang disebut dengan Seni Kristen ditemukan didalam catacombe-catacombe, terdapat pada interior gereja dan pada perlengkapan mebel dan peralatan. Gambaran yang paling lama bukan bertanggal sebelum masa Kaisar Constantine (Parker, The Archaelogy of Rome, XII, 11, Oxford, 1877); banyak yang secara terus menerus diperbaiki, dan beberapa diantara yang paling terkenal terus berubah sedemikian rupa sehingga kehilangan karakter aslinya (Crowe dan Cavalcaselle, History of Painting in Italy, I, 22). Tidak diperoleh kesimpulan yang pasti dari sumber ini, namun pengajaran dari semua karya seni mula-mula itu mengindikasikan cara selam sebagai bentuk baptisan. Gambar-gambar tersebut menunjukkan pemandangan sungai, orang yang akan dibaptis berdiri didalam air, dan keadaan sekitarnya semua menunjukkan pelaksanaan baptisan yang primitif. Pendapat para profesor arkheologi dari universitas-universitas besar secara bulat menyatakan bahwa gambar-gambar kuno mengenai baptisan didalam catacombe-catacombe tersebut dan di tempat-tempat lainnya, menunjukkan ritual itu dilaksanakan dengan cara selam (Lihat Christian’s Baptism in Sculpture and Art, Louisville, 1907).”

” Baptisan dengan cara curah merupakan perkembangan yang lamban. Kemungkinan penyebutan cara curah yang paling awal ditemukan didalam Teaching of the Twelve Apostles yang terkenal (Bryennios, Didacha ton Dodeka Apostolon, Konstantinopel, 1883), yang menurut berbagai pendapat dinyatakan sebagai berasal dari abad yang pertama dari tujuh abad lainnya.

Novatian (250 AD.) menyampaikan kasus pertama yang tercatat mengenai baptisan klinis atau baptisan untuk orang sakit (clinic baptism). Ketika terbaring sakit, ia dicurahkan air yang sebanyak-banyaknya, namun baptisannya dengan jelas disebut sebagai “pembatasan” atau “pengganti” (Eusebius, The Church History, 289, New York, 1890). Pencurahan hanyalah sekedar merupakan pengganti selam. Perancis merupakan negeri pertama yang mengijinkan baptisan dengan cara pencurahan demi menikmati kesehatan penuh (Wall, The History of Infant Baptism, I, 576). Hukum pertama untuk baptisan percik diberlakukan dengan cara sebagai berikut: “Paus Stephen III, ketika dibawa dari Roma oleh Astulphus, Raja dari Lombards pada tahun 753, melarikan diri kepada Pepin, yang baru saja merampas tahta Perancis. Waktu tinggal disana, para biarawan Cressy di Brittany berkonsultasi dengannya, menanyakan apakah alkitabiah jika pada saat dibutuhkan, baptisan dilaksanakan dengan menuangkan air ke atas kepala bayi. Stephen menjawab bahwa hal tersebut alkitabiah” (Edinburgh Encyclopedia, III, 236). Namun sampai pada 1311 AD., Sidang di Ravenna menetapkan: “Baptisan harus dilaksanakan dengan tiga kali percik atau selam” (Labbe dan Cossart, Sacrosancta Concilia, II, B, 2, 1586, Paris, 1671). Segera setelah itu, pemercikan menjadi sebuah kebiasaan di Perancis.

Selama 13 abad pertama, cara selam merupakan praktek yang normal di kalangan Kristen.

Kata Dollinger, “Baptisan dengan cara selam terus menjadi praktek yang umum Gereja sampai pada abad keempatbelas” (Dollinger, The History of the Church, II, 294, London, 1840-42). Cara selam dipraktekkan di beberapa bagian Jerman pada abad keenambelas. Di Inggris selam dipraktekkan selama 1.600 tahun.”

Sumber:

http://dedewijaya.blog.friendster.com/2008/12/sejarah-baptis-bag-2/

Selesai

5 thoughts on “Baptisan Air

  1. definisi baptisan kok tidak ada dasar alkitabnya, terlalu dangkal mengatakan baptisan masuk ke suatu kelompok tertentu, saya yakin bukan itu maksud yang tertulis dalam alkitab, alkitab tidak pernah dengan enteng mencatat segala sesuatu.

  2. Shalom. Ya, itu adalah definisi umum. Sejerah mencatat bahwa memang ada tradisi-tradisi kelompok tertentu yang melakukan prosesi baptisan untuk dapat bergabung ke dalam kelompok tersebut. Juga dalam tradisi (agama) Yahudi dikenal “Mikvah” atau “mikveh” ialah ritual pemurnian yang dilakukan dengan merendam seseorang ke dalam air, misalnya bagi seorang wanita yang sehabis mengalami masa haid (menstruasi) yang menurut kitab Taurat ia memiliki keadaan najis, dan untuk pemurnian kembali dilakukan ritual mikvah. (http://en.wikipedia.org/wiki/Mikvah). Lalu dalam kekristenan, baptisan juga merupakan sebuah ritual pemurnian untuk mulai masuk dan bergabung menjadi “tubuh Kristus”, yang dilakukan menggunakan media air, yang didahului dengan pertobatan kemudian dibarengi dengan janji dari hati yang suci untuk memohonkan hati nurani yang baik,… dan seterusnya, tergantung bagaimana tata cara gereja menerapkannya.
    Thanks untuk respons, Tuhan Yesus memberkati.

  3. UMAT ISLAM MEUNGGU KEDATANGAN NABI ISA
    Nabi Isa (as), sebagaimana rasul-rasul lainnya, merupakan seorang hamba pilihan Allah yang diutus kepada umat manusia untuk menyeru kepada jalan yang benar. Meskipun demikian, ada beberapa sifat Nabi Isa (as) yang membedakan dari rasul-rasul lainnya. Yang terpenting dari semua itu adalah dia telah diangkat Allah dan akan kembali lagi ke bumi.

    Berbeda dengan yang diyakini oleh mayoritas umat Kristen, Nabi Isa (as) tidaklah wafat disalib dan dibunuh ataupun meninggal dengan tujuan dan alasan tertentu. Al-Qur’an memberitakan kepada kita bahwa mereka tidak membunuhnya dan tidak pula menyalibnya, tetapi Allah mengangkatnya kepada-Nya.

    dan karena ucapan mereka : “Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, ‘Isa putra Maryam, Rasul Allah “, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan ‘Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) ‘Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah ‘Isa.
    (Terjemahan Qur’an Surat An Nisaa’4:157)

    Salah satu hikmah kembalinya nabi isa adalah untuk menolak anggapan orang-orang Yahudi bahwa mereka telah membunuh Isa ‘alaihissalam.

    Kemudian, kedatangannya yang kedua kali ke bumi merupakan suatu tanda menjelang kiamat.

    ‘ Rasulullah bersabda,
    ‘Hari kiamat tidak akan tiba sebelum kalian semua melihat tanda-tandanya sebelum itu.’ Rasulullah lalu menyebutkan tanda-tanda kiamat itu berupa asap, Dajjal, binatang melata (daabbah), terbitnya matahari dari sebelah barat, turunnya Isa bin Maryam ke bumi, Ya’juj dan Ma’juj, dan terjadinya gerhana di tiga tempat (satu gerhana di sebelah timur, satu lagi di barat, dan satu lagi tanah Arab), dan akhirnya adalah keluarnya api dari Yaman dan menggiring manusia pada tempat berkumpul mereka .’”
    (HR Muslim)

    Sebaliknya, kebanyakan orang mengasumsikan bahwa Nabi Isa (as) telah wafat beberapa ribu tahun yang lalu dan tidak mungkin akan kembali. Pendapat yang keliru ini muncul akibat kurangnya pengetahuan tentang Al-Qur’an dan As-Sunnah. Suatu penelitian yang dilakukan dengan cermat dan hati-hati tentang Al-Qur’an akan menghasilkan suatu pemahaman yang akurat akan ayat-ayat tentang Nabi Isa (as).

    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, ketika ditanya tentang masalah wafat dan diangkatnya Nabi Isa ‘alaihissalam, beliau berkata, “Segala puji kepunyaan Allah. Isa ‘alaihissalam masih hidup.

    Jumlah Hadits yang menjelaskan kemunculan Nabi Isa amat banyak dan di antara orang yang menghimpun hadits-hadits tentang akan turunnya Isa ‘alaihissalam ialah Syekh Muhammad Anwar Syah Al-Kasymiri dalam buku beliau At-Tashrih Bimaa Tawaatara Fii Nuzulil Masiih. Dalam kitab ini beliau mengemukakan lebih dari tujuh puluh hadits.

    Ciri-ciri Nabi Isa menurut beberapa riwayat ialah bertubuh sedang, tidak tinggi dan tidak pendek, berkulit merah dan berbulu, dadanya bidang, rambutnya lurus seperti orang baru keluar dari pemandian, dan rambutnya itu sampai di bawah ujung telinga (bagian bawah) yang disisir rapi dan memenuhi kedua pundaknya.

    Kapan kemunculan Nabi Isa as ?

    Setelah kemunculan Imam Mahdi dan keluarnya dajjal maka ‘Isa Al Masih akan turun ke bumi untuk membunuh dajjal sambil berkata kepadanya: “Sesungguhnya aku berhak menghajarmu dengan sebuah pukulan.”

    Rasulullah (saw) juga bersabda bahwa Nabi Isa (yang dimuliakan) akan diutus kembali ke bumi dan masalah waktunya, yang disebut dengan “akhir zaman”, kemungkinan adalah suatu masa di mana bumi pada saat itu akan mencapai kesejahteraan, keadilan dan perdamaian yang belum pernah terjadi sebelumnya.

    “Akhir zaman” ditujukan pada suatu periode waktu yang mendekati akhir kehidupan dunia. Menurut Islam, pada masa tersebut akan ada cobaan-cobaan yang mengerikan dari Dajjal, banyak terjadi gempa bumi dan munculnya Ya’juj dan Ma’juj. Setelah itu, Islam akan menang dan manusia akan mengikuti Islam.

    Pendapat yang lain mengungkapkan bahwa “akhir zaman” adalah suatu periode yang mencangkup keseluruhan konsep, “yang lebih baik”, “yang lebih indah” dan sebagainya. Saat itu merupakan suatu masa yang diberkahi yang dirindukan manusia sejak lama. Saat itu merupakan puncak kesejahteraan dan keadaan yang berlimpah-limpah, keadilan dan perdamaian. Saat itu merupakan masa di mana keberkahan-keberkahan ini akan menggantikan ketidakadilan, kerusakan moral, konflik dan peperangan.

    Apakah yang akan dilakukan oleh Nabi Isa pada kemunculannya yang ke dua ?

    Setelah Dajjal muncul dan melakukan perusakan di muka bumi, Allah mengutus Isa ‘Alaihissalam untuk turun ke bumi, dan turunnya adalah di menara putih di timur Damsyiq, Syiria. Beliau akan turun pada kelompok yang diberi pertolongan oleh Allah yang berperang untuk menegakkan kebenaran dan bersatu-padu menghadapi Dajjal. Turunlah beliau pada waktu sedang diiqamati shalat, lantas beliau shalat di belakang pemimpin kelompok itu.

    Nabi Isa memberikan penghormatan kepada umat Islam sesaat setelah kemunculannya di bumi.

    Hal pertama yang dilakukan Nabi Isa setelah turun dari langit adalah menunaikan shalat. Nabi Isa akan menjadi makmum dalam shalat yang di imami oleh Imam Mahdi.

    Rasulullah lalu bersabda,
    ‘Kemudian, turunlah Isa bin Maryam dan pemimpin mereka berkata, ‘Ke sinilah dan pimpinlah kami dalam sembahyang’, namun dia akan berkata, ‘Tidak! Sebab sebagian kalian adalah pemimpin untuk sebagian yang lain, sebagai penghormatan Allah terhadap umat ini’”
    (Terjemahan HR Muslim)

    Dalam sabda Rasulullah yang lain:
    “Betapa gembiranya kamu apabila telah turun kepada kamu ‘Isa Ibn Maryam sedangkan Imam (pemimpin shalat) kamu adalah berasal dari kamu.” (Riwayat Muslim dan Ahmad dari Abi Hurairah)

    Setelah Nabi Isa melakukan mengikuti salat shubuh berjamaah maka beliau langsung membunuh Dajjal kemudian menghancurkan orang-orang Yahudi (para pengikut Dajal) yang masih tersisa.

    Rasulullah bersabda:
    “Ketika ia (dajjal) berbuat seperti itu, maka Allah pun mengutus ‘Isa putra Maryam……………….”

    Abu Hurairah (ra) meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda,
    “…………………………Isa akan menghancurkan Dajjal dan dia akan hidup di bumi selama empat puluh tahun dan kemudian dia meninggal. Kaum muslimin akan menyembahyangkan jenazahnya”.
    (Terjemahan HR Abu Dawud)

    Rasulullah saw bersabda, “…Ketika imam mereka maju ke depan untuk shalat Shubuh, maka turunlah Isa bin Maryam lalu imam itu mundur berjalan ke belakang supaya Isa maju menjadi imam. Isa meletakkan tangannya di antara kedua pundaknya kemudian dia berkata, ‘Majulah dan shalatlah karena shalat ini didirikan untukmu’. Lalu imam mereka shalat dengan mereka. Selesai shalat Isa berkata, ‘Buka pintunya’. Lalu mereka membuka pintu di mana Dajjal bersembunyi di belakangnya ditemani 70 ribu orang Yahudi, masing. masing dengan pedang yang berhias dan jubah (mantel). Apabila Dajjal melihat kepadanya maka ia meleleh (mencair) seperti garam yang mencair di air. Dajjal kabur. Isa AS berkata, ‘Sesungguhnya aku mempunyai pukulan untukmu, kamu tidak akan mendahuluiku dengannya. Isa menangkap Dajjal di pintu Lud sebelah timur lalu membunuhnya. Lalu Allah mengalahkan orang- orang Yahudi, maka tidak ada satu pun makhluk Allah awj yang digunakan oleh orang- orang Yahudi sebagai tempat persembunyian kecuali Allah menjadikannya berbicara. Batu, pohon, dinding, hewan semuanya berbicara kecuali gharqadah, ia tidak berbicara karena ia adalah pohon mereka. Semuanya berkata, ‘Wahai hamba Allah yang muslim, ini orang Yahudi kemarilah bunuhlah dia’.” (HR. Ibnu Majah no. 4128. dan al. Hakim 4/436. 437, dia menshahihkannya dan disetujui oleh adz. Dzahabi).

    Dari Abu Hurairah RA bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “…Ketika mereka sedang bersiap. siap untuk perang dan merapatkan barisan, tiba. tiba shalat dikumandangkan, lalu Isa bin Maryam as turun. Apabila musuh Allah melihatnya maka dia meleleh seperti garam di dalam air, seandainya dibiarkan niscaya dia pasti meleleh sehingga dia binasa, akan tetapi Allah membunuhnya lewat tangan Isa. Lalu Isa memperlihatkan darahnya di tombaknya kepada mereka.” (HR. Muslim no.2897)

    Kedatangan Nabi Isa yang kedua kalinya adalah sebagai penolong bagi umat islam. Nabi isa akan berjuang bersama umat islam untuk mengalahkan musuh. Jabir bin Abdullah berkata, “Saya mendengarkan Rasulullah bersabda,
    ‘Umatku tidak akan berhenti berperang untuk membela yang benar hingga datang hari kiamat’.

    Abu Hurairah (ra) meriwayatkan bahwa Rasulullah (saw) bersabda,
    “Demi Zat Yang jiwaku berada di tangan-Nya, putra Maryam benar-benar akan segera turun ke tengah-ketengah kamu sebagai hakim yang adil. Dia akan menghancurkan salib, akan membunuh babi, dan akan menghapuskan jizyah. Harta saat itu akan melimpah sehingga tidak ada seorang pun yang akan menerimanya. Sehingga sujud satu kali saja kala itu jauh lebih baik dari dunia dan isinya”.
    (Terjemahan HR Bukhari)

    Nabi Isa akan berperang di pihak umat Islam serta menghapuskan semua agama di zamannya kecuali Islam. Ini sebagaimana yang di sabdakan oleh Nabi Muhammad saw

    Abu Hurairah (ra) meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda,
    “Tidak ada seorang nabi pun antara saya dan Isa. Sesungguhnya, dia akan turun ke bumi. Maka jika kalian melihatnya, kenalilah dia. Dia adalah seorang laki-laki dengan ukuran sedang, berkulit putih kemerah-merahan. Dia memakai dua baju kuning terang. Kepalanya seakan-akan ada air yang mengalir walaupun sebenarnya ia tidak basah. Dia akan berperang melawan manusia untuk membela Islam. Dia akan menghancurkan salib, membunuh babi, menghapuskan jizyah. Allah akan menghapuskan semua agama di zamannya kecuali Islam. Isa akan menghancurkan Dajjal dan dia akan hidup di bumi selama empat puluh tahun dan kemudian dia meninggal. Kaum muslimin akan menyembahyangkan jenazahnya”.
    (Terjemahan HR Abu Dawud)

    Setelah membunuh dajjal, kemudian nabi isa menikahi wanita arab.
    Nabi Muhammad bersabda:
    “Isa putra Maryam turun kemudian menikah dan mempunyai anak……..”

    Ya’jud dan ma’jud keluar pada zaman Isa as, setelah dia berhasil membunuh Dajjal dan memadamkan fitnahnya. Mereka ini membuat kerusakan besar di muka bumi. Lalu Nabiyullah Isa berdoa kepada Allah Taala. Mereka kemudian binasa secara menyeramkan.

    Rasulullah bersabda : “Dinding pembatas Ya’juj dan Majjuj akan terbuka, maka mereka akan menyerang semua manusia, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat-tempat yang tinggi” (QS . Al Anbiyaa’ : 96). Maka mereka akan menyerang manusia, sedangkan kaum Muslim akan berlarian dari mereka ke kota-kota dan benteng-benteng mereka, sambil membawa binatang-binatang ternak bersama mereka. Sedangkan mereka (Ya’juj dan Majjuj) meminum semua air di bumi, sehingga apabila sebagian dari mereka melewati sebuah sungai maka merekapun meminum air sungai tersebut sampai kering dan ketika sebagian yang lain dari mereka melewati sungai yang sudah kering tersebut, maka mereka berkata: “Dulu di sini pernah ada air”. Dan apabila tidak ada lagi manusia yang tersisa kecuali seorang saja di sebuah kota atau benteng, maka berkatalah salah seorang dari mereka (Ya’juj dan Ma’juj):
    “Penduduk bumi sudah kita habisi, maka berikutnya yang tertinggal adalah penduduk langit”, kemudian salah seorang dari mereka melemparkan tombaknya ke langit, dan tombak tersebut kembali dengan berlumur darah yang menunjukkan suatu bencana dan fitnah. Maka tatkala rnereka sedang asyik berbuat demikian, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus ulat ke pundak mereka seperti ulat belalang yang keluar dari kuduknya, maka pada pagi harinya mereka pun mati dan tidak terdengar satu nafaspun. Setelah itu kaum Muslim berkata: “Apakah ada seorang laki-laki yang berani mati untuk melihat, apa yang sedang dilakukan oleh musuh kita ini?” maka majulah salah seorang dari mereka dengan perasaan tak takut mati, kemudian dia menemukan bahwa mereka semua (Yajuj dan Majjuj) telah mati dalam keadaan sebagian mereka di atas sebagian yang lain (bertumpukan), maka laki-laki tersebut berseru: “Wahai semua kaum Muslim bergembiralah kalian, sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala sendiri sudah membinasakan musuhmu”, maka mereka pun keluar dari kota-kota dan benteng-benteng dan melepaskan ternak-ternak mereka ke padang-padang rumput kemudian padang rumput tersebut dipenuhi oleh daging-daging binatang ternak, maka semua susu ternak tersebut gemuk (penuh) seperti tunas pohon yang paling bagus yang tidak pernah dipotong.”
    (Hadits diriwayatkan oleh. Ahmad, Ibn Majah, Ibn Hiban dan Hakim dari Abu Sa’id)

    Rasulullah bersabdaKetika Isa dalam kondisi demikian, Allah mewahyukan kepada Isa bin Maryam,Sesungguhnya Aku telah mengeluarkan hamba-hambaKu, tak seorang pun mampu memerangi mereka, maka bawalah hamba-hamba-Ku berlindung di At-Thur. Lalu Allah mengeluarkan Yajuj dan Maâjuj, dan mereka mengalir dari segala penjuru. Rombongan pertama melewati danau Thabariyah dan meminum airnya. Rombongan terakhir menyusul sementara air danau telah mengering, mereka berkata, Sepertinya dulu di sini pernah ada air. Nabi Isa AS dan teman-temannya dikepung sehingga kepala sapi bagi mereka lebih berharga daripada 100 dinar, lalu Nabi Isa AS dan kawan-kawan berdoa kepada Allah. Lalu Allah mengirim ulat di leher mereka, maka mereka mati bergelimpangan seperti matinya jiwa yang satu. Kemudian Allah menurunkan Nabi Isa dan kawan-kawannya ke bumi, maka tidak ada sejengkal tempat pun di bumi kecuali dipenuhi oleh bau busuk mereka. Lalu Nabiyullah Isa AS dan teman-temannya berdoa kepada Allah, kemudian Allah menurunkan hujan deras yang mengguyur seluruh rumah, baik yang terbuat dari tanah atau kulit binatang. Hujan itu membasuh bumi sehingga ia seperti cermin yang berkilauan.

    Kemudian manusia akan hidup dalam suatu kenikmatan yang belum pernah mereka rasakan sebab Nabi Isa akan memadamkan segala sebab peperangan. Maka terhapuslah rasa dengki, iri, permusuhan dan diangkat segala bisa (racun) dari semua binatang berbisa, sehingga seorang bayi perempuan tidak akan tersakiti apabila ia memasukkan tangannnya ke mulut ular, anak-anak akan bermain dengan singa-singa dan binatang-binatang buas sedangkan itu semua tidak akan menyakiti mereka, serigala akan berada ditengah-tengah gerombolan kambing seakan-akan ia adalah anjing penjaganya, Bumi akan mengeluarkan keberkatannya, langit akan menurunkan kebaikannya.

    Dalam hadits Nawas bin Sam’an, Rasulullah saw bersabda, “…Kemudian Allah menurunkan hujan deras yang mengguyur seluruh rumah baik yang terbuat dari tanah atau kulit binatang, hujan itu membasuh bumi sehingga ia seperti cermin yang berkilauan, kemudian dikatakan kepada bumi, ‘Tumbuhkanlah buah. buahanmu dan kembalikan barokahmu’. Pada hari itu sekelompok manusia memakan satu buah delima dan memakai kulitnya sebagai topi. Air susu diberkahi sehingga seekor onta muda cukup memenuhi kebutuhan banyak orang dan seekor sapi muda cukup memenuhi kebutuhan satu kabilah serta seekor kambing muda cukup memenuhi kebutuhan satu keluarga besar.”

    Dalam hadits Abu Umamah yang panjang Rasulullah saw bersabda, “…lalu Isa bin Maryam turun pada umatku sebagai hakim yang adil dan imam yang bijaksana, dia menghancurkan salib, mematikan babi, menghapus jizyah, membiarkan sedekah kambing dan onta tidak ada yang mau menerima, kebencian dan permsuhan dihapuskan. Binatang beracun ditarik racunnya sehingga seorang bocah memasukkan tangannya ke dalam mulut ular dan itu tidak membahayakan dirinya, seorang bocah perempuan melewati singa tetapi singa itu tidak mengganggunya, srigala berada di antara kambing seperti anjing yang menjaganya. Bumi dipenuhi keselamatan seperti bejana dipenuhi oleh air. Kalimat manusia menjadi satu. Tidak ada yang disembah kecuali Allah, perang dihentikan, orang. orang Quraisy kehilangan kerajaannya. Bumi seperti piring besar dari perak, ia menumbuhkan pohon. pohon dengan janji Adam sehingga beberapa orang memakan setangkai anggur dan mereka kenyang, dan beberapa orang memakan satu buah delima dan mereka kenyang. Sapi jantan harganya segini. segini. Sementara kuda hanya dengan beberapa keping dirham….” (HR. Ibnu Majah no. 4128. dan al. Hakim 4/436. 437, dia menshahihkannya dan disetujui oleh adz. Dzahabi).

    Abu Hurairah (ra) meriwayatkan bahwa Rasulullah (saw) bersabda,
    ……………………………….Harta saat itu akan melimpah sehingga tidak ada seorang pun yang akan menerimanya. Sehingga sujud satu kali saja kala itu jauh lebih baik dari dunia dan isinya”.
    (Terjemahan HR Bukhari)

    Kemudian Nabi Isa akan menunaikan haji ke Ka’bah.
    Sabda Rasulullah:
    “Demi Dzat yang diriku berada ditangannya, sungguh ‘Isa Ibn Maryam akan mengucapkan tahlil dengan berjalan kaki untuk melaksanakan haji atau umrah atau kedua-duanya dengan serentak.” (Hadis Riwayat Ahmad dan Muslim dari Abi Hurairah. Dalam Ash Shahihah Al Albaani, nomer 2457)

    Kemudian Nabi Isa akan berada di bumi selama 7 tahun. Dalam sebuah hadis yang shahih disebut bahwa ia akan menetap selama 40 tahun. Sedangkan ‘Isa akan wafat setelah Allah membinasakan Ya’juj dan Ma’juj.

    Bagaimanakah akhir dari Nabi Isa?

    Nabi Isa akan hidup selama empat puluh tahun, ini sebagaimana yang disampaikan Nabi Muhammad saw

    Abu Hurairah (ra) meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda,
    “……………….Isa akan menghancurkan Dajjal dan dia akan hidup di bumi selama empat puluh tahun dan kemudian dia meninggal. Kaum muslimin akan menyembahyangkan jenazahnya”.
    (Terjemahan HR Abu Dawud)

    • Dear Ferry,
      Nampaknya Anda belum jalan-jalan dengan benar di Blog ini. Silahkan baca-baca dahulu kesaksian dan pengajaran di blog ini, semoga Anda memperoleh hidayah Alloh.
      Memaksakan kebenaran Al Quran tanpa mau mengujinya adalah sebuah tindakan bodoh, akan membuat Anda memiliki IMAN YANG BUTA.
      Silahkan baca juga artikel kami berjudul Roh Agamawi, mudah-mudahan Allioh memberi Anda petunjuk untuk membedakan yang benar dari yang bathil.
      Salam.

  4. Informasi mengenai asal mula baptisan percik berawal tatkala seluruh kekaisaran Romawi harus memeluk agama Kristen, karena Kaisar Theodosius di tahun 380 M, mengeluarkan “dekrit/edict Theodosius” yang isinya mengatakan bahwa “Agama kekaisaran Romawi adalah agama Kristen“.

    Dampak dari keputusan tersebut, adalah Kristenisasi massal di seluruh wilayah kekaisaran Romawi (Kalau tidak menjadi Kristen, akan berhadapan dengan tentara Romawi dan dihukum). Akibat kristenisasi massal tersebut, maka terjadilah baptisan selam besar-besaran. Situasi yang seperti itu, membuat kolam-kolam dan sungai-sungai menjadi sangat sesak. Akibatnya untuk memudahkan, maka orang-orang tersebut akhirnya dipercik dengan air. Alasan “praktis” yang terjadi karena sikon yang darurat itu, kemudian dijadikan “tradisi” oleh gereja Katolik (ingat saat itu di Barat, tidak ada aliran2 gereja, hanya ada gereja Katolik).

    Penggunaan baptisan percik yang terbatas dalam sikon darurat tsb, dikukuhkan dalam “the Council of Nemours” (A.D. 1284) yang mengeluarkan kebijakan bahwa “limited sprinkling to cases of necessity.”

    Lalu di tahun 1311 dalam Konsili Ravenna, Gereja Katolik meresmikan “baptisan percik” sebagai satu-satunya cara baptis yang dilakukan gereja. Alasannya adalah baptisan selam tidak lagi penting sebab cara baru yaitu dengan dipercik adalah cara baptis yang dipakai gereja. (Baptism went for many years without change until the Catholic Church made the distinction that full immersion was no longer necessary in 1311 at the Council of Ravenna. They determined that full immersion was unnecessary and the term ‘pouring’ was the new accepted way of performing the baptism).

    Demikianlah baptisan percik menjadi satu-satunya cara membaptis bagi petobat baru yang dipakai oleh Gereja Katolik sejak tahun 1311.

    Sumber: http://rohsuci.blogspot.com/2014/05/sejarah-baptisan-air.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s