7 gagasan untuk “Sejarah

  1. KILAS BALIK
    Peristiwa bersejarah, ketika Tuhan Yesus akan meninggalkan para murid-Nya di bukit Zaitun untuk pergi kepada Bapa di Sorga dicatat oleh Matius dalam Injilnya pasal 28:18-20 demikian: Yesus mendekati mereka dan berkata: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman”.

    1. Jadikan semua bangsa murid Tuhan Yesus.
    Terkait dengan Amanat Agung, Rick Joiner menulis dalam buku Pelayanan Apostolik: ”Pondasi Amanat Agung adalah bahwa segala otoritas telah diberikan kepada Yesus, baik di sorga maupun di atas bumi. Pada dasarnya, Amanat Agung merupakan penyataan dari otoritas-Nya”. Tidak dipungkiri lagi bahwa para murid, para rasul adalah pengemban tugas estafet karya besar rencana Tuhan untuk menyelamatkan orang-orang berdosa yang percaya kepada Tuhan Yesus sebagai Mesias. Tuhan melengkapi para murid dengan Roh Penolong, Roh Penghibur, Roh Kudus yang akan menuntun para rasul disetiap peristiwa yang di alami oleh para murid yang senantiasa taat dan setia di dalam tugasnya sebagai pengemban Amanat Agung. Dan sejarah membuktikan, bahkan Injil mencatat kinerja para rasul setelah Yesus naik ke sorga. Betapa dahsyat kinerja para rasul ketika menyampaikan kebenaran firman Tuhan di depan khalayak ramai, di tengah-tengah bangsa-bangsa yang berkumpul di Yerusalem. Para rasul mendapatkan kuasa yang sangat besar seperti apa yang tertulis dalam Kisah Para Rasul 1:8 yang dikatakan: ”Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi”. Perihal Amanat Agung, Dean Wiebracht mengatakan dalam bukunya: ”Jelasnya, Amanat Agung ini bukan sekedar untuk gereja mula-mula. Yesus berjanji untuk bersama-sama dengan pengikut-Nya sampai pada kesudahan alam”.

    2. Bentuk pelayanan para rasul.
    Pelayanan para rasul mula-mula, tidak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan Tuhan Yesus guru mereka, bahkan jangkauan pekerjaan para rasul lebih luas. Rachmat T. Manullang dalam tulisannya mengatakan, ”Alkitab menjelaskan prinsip yang harus diikuti, yaitu doa syafaat adalah pelayanan di dunia adikodrati atau dunia roh, dunia yang tidak kelihatan yang harusnya menjadi pendahuluan sebelum ada pelayanan yang lain di dunia nyata atau yang kelihatan”. Dengan tanpa kenal takut para rasul berbicara tentang kebenaran, tentang siapakah Yesus yang telah disalibkan. Para rasul juga ”mendemonstrasikan” mujizat yang pernah dilakukan oleh Tuhan Yesus. Bentuk pelayanan para rasul mula-mula tercatat dalam Kisah Para Rasul 2:46-47 demikian : Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.

    3. Penyertaan Tuhan dalam pelayanan para rasul.
    Pelayanan para rasul terkait erat dengan Gereja. Gereja sebagai tubuh Kristus. Rachmat T. Manullang menulis dalam bukunya, ”Gereja sebagai tubuh Kristus memiliki kekuasaan yang sama seperti yang dimiliki Yesus Kristus atas kuasa setan. Dengan demikian kepenuhan Allah dapat menerima semua tempat dan segala bidang kehidupan”. Bukti penyertaan Tuhan sangat jelas nampak pada mujizat yang dilakukan para rasul, banyaknya orang yang bertobat ketika para rasul menyampaikan seruan pertobatan. Banyak yang menjadi percaya kepada Tuhan Yesus, dan itu dinyatakan dengan kesedian mereka yang memberi diri dibaptis, dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat mereka. Ketika para rasul ditangkap para penguasa waktu itu bahkan dimasukkan ke dalam penjara, Tuhan memberikan pertolongan pada para rasul. Dokumen Konsili Vatikan II menjelaskan tentang penyertaan Tuhan pada para murid-Nya. ”Sebab Tuhan Yesus menyertai para Rasul-Nya seperti telah dijanjikan-Nya (lih. Matius 28:20), dan Ia mengutus Roh Pembantu kepada mereka, untuk membimbing mereka memasuki kepenuhan kebenaran (lih. Yohanes 16:13)”. Dalam bukunya Rick Joyner mengatakan:
    Gereja abad pertama mempunyai bukti yang melimpah tentang hadirat Tuhan bersama mereka. Hampir segala yang mereka kerjakan jauh melampaui ketulusan maupun kepandaian manusia. Sesungguhnya, gereja abad pertama tidak meninggalkan bangunan maupun program apapun di belakang mereka. Mereka hanya meninggalkan hidup yang diubahkan, keluarga, dan bahkan bangsa-bangsa.

    4. Dampak pelayanan para rasul pada Gereja mula-mula.
    Pekerjaan Tuhan yang dilanjutkan oleh para rasul di muka bumi membawa dampak yang sangat luar biasa. Hill Hamon menulis dalam bukunya.
    Rasul-rasul meletakkan fondasi lewat wahyu ilahi dan menghadirkan kebenaran dengan hikmat dan otoritas apostolik. Rasul-rasul biasanya bersedia mendengarkan situasi dari kedua sisi dan kemudian memberikan nasihat bijak. Nasihat itu akan mengoreksi dan menyelesaikannya dengan suara bijak, kedewasaan, dan otoritas ilahi. Jika diperlukan fondasi baru, rasul-rasul kemudian mengajar, mengkhotbahkan, dan menunjukkan doktrin-doktrin Allah dan meletakkan fondasi itu dengan dasar-dasar iman Kristen.

    Banyak jiwa dimenangkan bagi Tuhan. Hari pertama rasul Petrus berkhotbah Alkitab mencatat dalam Kisah Para Rasul 2:41-45 yang berkata, “Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa. Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa. Maka ketakutanlah mereka semua, sedang rasul-rasul itu mengadakan banyak mujizat dan tanda. Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing”. Rick Joyner dalam bukunya mengatakan,
    Itulah sebabnya mengapa Amanat Agung bukan sekedar membuat orang-orang bertobat, tetapi “menjadikan mereka murid”. Murid-murid sejati ini adalah mereka yang diajar untuk mempelajari semua yang telah diperintahkan oleh Yesus. Hari lepas hari para rasul mengajarkan apa yang telah diajarkan kepada mereka. Ini merupakan penggenapan Amanat Agung karena berkaitan dengan mengkhotbahkan Injil bagi keselamatan jiwa.

    C. Tujuan pemanggilan khusus sebagai rasul.
    1. Pengajaran para rasul pada jemaat mula-mula.
    Alkitab mencatat sosok Petrus sebagai pimpinan para rasul, waktu itu tampil kedepan dan berbicara kepada banyak orang di Yerusalem katanya, : Saudara-saudara, aku boleh berkata-kata dengan terus terang kepadamu tentang Daud, bapa bangsa kita. Ia telah mati dan dikubur, dan kuburannya masih ada pada kita sampai hari ini. Tetapi ia adalah seorang nabi dan ia tahu, bahwa Allah telah berjanji kepadanya dengan mengangkat sumpah, bahwa Ia akan mendudukkan seorang dari keturunan Daud sendiri di atas takhtanya. Karena itu ia telah melihat ke depan dan telah berbicara tentang kebangkitan Mesias, ketika ia mengatakan, bahwa Dia tidak ditinggalkan di dalam dunia orang mati, dan bahwa daging-Nya tidak mengalami kebinasaan. Yesus inilah yang dibangkitkan Allah, dan tentang hal itu kami semua adalah saksi. Petrus mendapatkan kekuatan dan hikmat luar biasa setelah menerima pencurahan Roh Kudus pada peristiwa Pentakosta. J.L.Ch. Abineno menyinggung peran Roh Kudus dalam bukunya, ”Roh Kudus… menurut kesaksian Alkitab … bukan saja bekerja dalam Israel dan dalam Yesus, tetapi Ia, sesudah Yesus, bekerja juga dalam orang-orang percaya dan di dalam dunia.”. Janji Tuhan untuk memberikan Roh Kudus kepada para murid-Nya juga ditulis oleh Barney Coombs, ”Yesus berjanji akan mengutus Roh Kudus untuk tinggal di dalam mereka dan memperlengkapi mereka”. Petrus kembali mengatakan, ”Sebab bagi kamulah janji itu dan bagi anak-anakmu dan bagi orang yang masih jauh, yaitu sebanyak yang akan dipanggil oleh Tuhan Allah kita” Dan dengan banyak perkataan lain lagi ia memberi suatu kesaksian yang sungguh-sungguh dan ia mengecam dan menasihati mereka, katanya: “Berilah dirimu diselamatkan dari angkatan yang jahat ini.” Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa. Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa”. Inilah cikal bakal jemaat mula-mula yang mendapatkan penjelasan dari rasul Petrus. Elmer L. Towns dalam bukunya menjelaskan tentang kehidupan orang Kristen:
    Orang Kristen tidak perlu khawatir atau resah tentang pekerjaan apakah yang harus dikerjakan ataupun di manakah ia harus melayani ada rencana Tuhan/Tuan bagi hidupnya (lihat Roma 12:1,2). Orang Kristen tidak harus prihatin jika ia dapat melakukan hal-hal yang dikehendaki Allah untuk dikerjakannya – Tuhan/Tuan menjanjikan karunia-karunia Roh Kudus untuk memampukan dirinya melayani Allah (lihat Roma 12:3-8) .

    Pengajaran tentang kebenaran Firman Tuhan sangat penting sebagaimana ditulis Chris Marantika: ”Bukankah firman Tuhan Allah berkata: Segala tulisan yang di ilhamkan [atau dinafaskan] Allah, memang bermanfaat untuk mengajar” (2 Tim.3:16). Jadi sikap yang benar dan wajib bagi setiap orang percaya adalah mempelajari Alkitab secara menyeluruh, termasuk nubuatan”.
    2. Janji penyertaan Roh Kudus.
    Walter M. Dunnett menulis tentang penyertaan Roh Kudus dalam bukunya:
    Dalam ucapan Tuhan Yesus yang terakhir sebelum kenaikan-Nya ke sorga, Ia menjanjikan kepada para murid, ”Kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu,” dan penggenapan janji itu terlihat dengan jelas dalam Kisah para Rasul. Roh Kuduslah yang menjadi daya penggerak dalam kesaksian dan pekerjaan mereka bagi Kristus”.

    Tuhan Yesus sendiri yang berjanji akan memberikan Roh Kudus yang juga adalah Roh Penghibur. Hal itu dikatakan-Nya kepada para murid waktu itu, kata-Nya, ”Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran. James A. Griffin menulis dalam bukunya, ”Roh Kudus” adalah nama yang diberikan kepada pribadi ketiga dalam Tritunggal Mahakudus oleh Yesus sendiri (Matius 28:19)”.
    3. Menjadi garam dan terang dunia.
    Khotbah Tuhan Yesus di bukit, begitu indah dan terkenal. Pada bagian khotbah-Nya, Tuhan Yesus berkata, “Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga”. (Matius 5:13-16).
    4. Menjadi penuai pada akhir zaman.
    Bekerja di ladang anggur Tuhan sebagai pengemban Amanat Agung Tuhan Yesus merupakan penggenapan perintah Tuhan dalam Lukas 10:2 yang dikatakan,: Kata-Nya kepada mereka: ”Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu. Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala”. Pekerjaan Tuhan melalui gereja-Nya ditulis oleh Chris Marantika: ”Adanya gereja sangat tergantung kepada Kristus yang agung ini. Dasar persatuan dan pengorbanan gereja bisa dikaitkan dengan peristiwa kematian-Nya. Kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus Kristus merupakan keyakinan inti dalam Perjanjian Baru”. Adalah sangat penting untuk diketahui bahwa Tuhan Yesus akan memberikan penuai-penuai pada akhir jaman, mintalah kepada Bapa dan Bapa akan memberikan yang dibutuhkan demikian Tuhan Yesus menyatakan. Barney Coombs dalam bukunya berbicara tentang siapakah para murid yang juga para rasul, ”Mereka adalah utusan Injil yang pertama: barisan depan dari orang-orang yang diutus untuk memberitakan Injil Kerajaan sampai ke ujung bumi”.

    D. Pemanggilan rasul sebagai Utusan Injil Kerajaan Sorga.
    1. Rasul sebagai ujung tombak pemberita Injil.
    Alkitab mencatat saat-saat terakhir Tuhan Yesus meninggalkan murid-murid-Nya di bukit Zaitun. Dalam Kisah Para Rasul 1:8-9 ada pesan khusus yang disampaikan Tuhan Yesus kepada para murid-Nya. Mesias yaitu Tuhan Yesus mengatakan: ”Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi. Sesudah Ia mengatakan demikian, terangkatlah Ia disaksikan oleh mereka, dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka”. Para murid Tuhan Yesus akan menjadi saksi hidup siapakah Yesus sebenarnya. Para murid Tuhan Yesus yang juga disebut para rasul akan memberitakan Injil Kristus bukan hanya seluruh Yudea dan Samaria, tetapi bahkan sampai ke ujung dunia. Tantangan yang dihadapi para murid tidak ringan, diantaranya adalah peperangan rohani. Perihal peperangan rohani Rachmat T. Manullang menulis dalam bukunya :
    Peperangan rohani yang dimaksudkan adalah berbeda dengan apa yang Yesus alami, karena pada waktu zaman Yesus setan belum dikalahkan, tetapi di zaman ini setan sudah dikalahkan sesuai dengan yang dinyatakan dalam Kolose 2:15: Ia telah melucuti pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa dan menjadikan mereka tontonan umum dalam kemenangan-Nya atas mereka.

    2. Penyertaan Tuhan sampai akhir zaman.
    Matius 28:19-20 berisi janji dan jaminan Tuhan Yesus Kristus kepada para murid-Nya, Tuhan Yesus mengatakan: ”Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman”. Saat ini jaman belum berakhir, pekerjaan Tuhan masih berlangsung, penginjilan ke seluruh dunia masih terus berjalan artinya penyertaan Tuhan pada para murid-Nya masih terus berlangsung. Smith Wigglesworth berbicara tentang penyertaan Roh Kudus yang menguatkan anak-anak Tuhan, ”Kita adalah anak-anak Allah yang dikuatkan oleh Roh-Nya dan Ia telah memberikan kuasa untuk mengatasi segala kuasa kegelapan ( Lukas 10:19)”.
    3. Penganiayaan terhadap para pemberita Injil.
    Tuhan Yesus menyatakan konsekuensi menjadi murid-Nya, Matius 10:17-18 mencatat pernyataan Tuhan Yesus kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: ”Tetapi waspadalah terhadap semua orang; karena ada yang akan menyerahkan kamu kepada majelis agama dan mereka akan menyesah kamu di rumah ibadatnya. Dan karena Aku, kamu akan digiring ke muka penguasa-penguasa dan raja-raja sebagai suatu kesaksian bagi mereka dan bagi orang-orang yang tidak mengenal Allah”. Hal ini dialami oleh para pemberita Injil, sebagaimana apa yang ditulis Elmer L. Towns, ”Tetapi seorang Kristen akan mengalami banyak tekanan dalam kehidupannya. ”Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai pencobaan” (Yakobus 1:2)”. Ada resiko ketika mau mengikut Tuhan yaitu kematian. Richard Brooks menulis: ”Kematian bukanlah ancaman bagi orang Kristen. Kematian membawa kita kepada Kristus dan penghiburan sorgawi”. Alkitab mencatat dalam Kisah Para Rasul 4:1-3 tentang peristiwa yang menimpa para murid-murid Tuhan Yesus, dikatakan: ”Ketika Petrus dan Yohanes sedang berbicara kepada orang banyak, mereka tiba-tiba didatangi imam-imam dan kepala pengawal Bait Allah serta orang-orang Saduki. Orang-orang itu sangat marah karena mereka mengajar orang banyak dan memberitakan, bahwa dalam Yesus ada kebangkitan dari antara orang mati. Mereka ditangkap dan diserahkan ke dalam tahanan sampai keesokan harinya, karena hari telah malam”. Menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat mengandung resiko yang tidak ringan, hal ini ditulis Seung Woo Byun dalam bukunya, ”Seseorang yang tidak bisa menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, sama sekali tidak bisa menerima Dia. Iman menerima penderitaan, pengampunan, dan kemuliaan Kristus, dan juga tunduk kepada kedaulatan, peraturan, dan jalan keselamatan-Nya”. Ketika derita menimpa para pemberita Injil, mereka tahu kemana mereka mendapat pertolongan seperti yang ditulis Josh MC Dowell: ”Bapa Teladan kita adalah Sumber Kekuatan, tempat yang aman bagi anak-anak-Nya. Di dalam Dia kita bisa mendapatkan keselamatan dari serangan dan tekanan dunia. Allah adalah tempat perlindungan”.
    4. Terjadinya Diaspora .
    Sejarah mencatat penghancuran bangsa Yahudi oleh tentara Romawi yang dipimpin oleh Nero. H.Jagersma menulis dalam bukunya: ”Pada awal tahun 70 Titus mulai dengan pengepungannya atas Yerusalem. Dalam lingkungan terdekatnya terdapat antara lain Josefus dan wali negeri yang lama Tiberius Julius Alexander,… Untuk pengepungan tersebut Titus telah mengerahkan seluruhnya empat divisi ditambah dengan tentara-tentara bantuan”. Kekalahan orang-orang Yahudi pada pemberontakan besar Yahudi pada tahun 70 dan pemberontakan Bar Kokhba pada 135 dalam menghadapi Kekaisaran Romawi merupakan salah satu faktor penting yang menyebabkan besarnya jumlah dan daerah pemukiman di diaspora, H. Jagersma menulis dalam bukunya:
    Hancurnya Bait Allah berarti, bahwa pusat keagamaan dan pusat nasional telah hilang. Hal tersebut mempunyai akibat-akibat terhadap negeri maupun terhadap diaspora. Mulai sekarang pada hari-hari raya tidak diadakan lagi perjalanan-perjalanan ziarah ke Yerusalem. Sebenarnya arti Bait Allah sebagai pusat dari kehidupan keagamaan tidak perlu dibesar-besarkan.

    Banyak orang Yahudi yang tersebar di seluruh kekaisaran. Peristiwa penyerangan bangsa Romawi terhadap bangsa Yahudi dicatat H. Jagersma dalam bukunya:
    Sekarang titik berat perang diarahkan pada bukit Bait Allah dengan bentengnya Antonia dan pada kota atas. Waktu yang terkepung berhasil menghancurkan rintangan-rintangan yang dipasang orang-orang Romawi, Titus memerintahkan membangun tembok yang mengelilingi seluruh kota. Hal tersebut selesai dalam tiga hari. Tidak lama kemudian dengan suatu serangan di waktu malam orang-orang Romawi berhasil merebut benteng Antonia. Setelah itu benteng tersebut diratakan dengan tanah.

    Pembantaian besar-besaran terjadi pada orang-orang Yahudi, J.I. Packer dalam bukunya menuliskan: ”Tahun 68-70 mereka bertempur dengan sangat patriotis dalam peperangan yang kemudian berakhir dengan kekalahan tragis. Yerusalem dan Bait Allah hancur berantakan, dibakar dan dibumiratakan tentara Romawi”. Peristiwa itu menimbulkan diaspora ke berbagi penjuru dunia.

  2. Lanjutan,…

    A. Sejarah Berdirinya Gereja Kerasulan.
    1. Gereja Kerasulan “sempalan“ dari Gereja Roma Katholik.
    Dimulai pada tahun 1828, di Negeri Inggris khususnya pada kalangan Gereja Roma Katolik terjadi perubahan politik dan kerohanian yang luar biasa. Berdasarkan Buku Pertanyaan dan Jawaban perihal Kepercayaan Kerasulan Baru yang ditulis Richard Fehr dikatakan:
    Revolusi politik dan kerohanian yang ada pada masa itu menyebabkan ketidak percayaan yang semakin hari semakin meluas, yang pembenarannya mereka dasarkan kepada pengakuan-pengakuan baru yang tidak sempurna, bahkan yang seringkali hanya merupakan tipuan belaka, dari ilmu pengetahuan yang sedang berkembang.

    Banyaknya aliran kepercayaan pada masa itu, membuat para pencari kebenaran yang percaya di negara-negara mohon pewahyuan Tuhan yang baru, demikian juga untuk penggenapan perjanjian Tuhan bagi zaman akhir, yang mereka akui telah tiba pada masa mereka itu. Dari sumber yang sama yaitu Buku Pertanyaan dan Jawaban perihal Kepercayaan Kerasulan Baru dikatakan:
    Dari tahun 1828 sampai 1832 orang-orang yang percaya di Jerman dan Inggris menerima wahyu Allah, bahwa Tuhan akan memberikan lagi tertib rasuli sebagaimana pada awalnya (dibangkitkannya kembali karunia-karunia Roh dan pemulihan kembali Jawatan Rasul). Pada tahun 1832 oleh nubuat Roh Kudus terpanggillah John Bate Cardale sebagai Rasul yang pertama dari 12 Rasul yang bekerja di Inggris.

    Kepercayaan Kerasulan Baru percaya bahwa jabatan rasul memainkan peranan penting. James A. Griffin menulis dalam bukunya: ”Pencurahan Roh Kudus atas diri para Rasul pada hari Pentakosta merupakan permulaan suatu zaman baru dalam hubungan Allah dengan umat-Nya, zaman Gereja”. Soetarman Soedirman Partonadi menulis dalam bukunya yang berbicara tentang peran rasul pada waktu itu.
    Mereka percaya bahwa para rasul adalah pemimpin gereja yang sah sejak Perjanjian Baru hingga kedatangan Kristus yang kedua. Kedudukan para rasul yang tinggi terbukti dalam kata-kata lagu ini: ”Jabatan rasul adalah batu karang tempat kami harus membangun. Ia adalah Tuhan kami kini, kepada siapa kami percaya”.

    I.H. Enklaar dalam bukunya mencatat tentang bidat-bidat yang bermunculan pada waktu itu, salah satu tulisannya demikian.
    Bidat ini didirikan kurang lebih tahun 1830 di Inggris oleh Edward Irving. Penganutnja jakin bahwa kedatangan kembali Tuhan telah dekat. Ada jang tahu berbitjara dengan ”bahasa lidah” dan ada pula jang menjembuhkan orang. Akan tetapi tjiri istimewa bidat Apostolis ialah mereka berpendirian, bahwa Geredja harus membaharui djabatan-djabatan lama (nabi dan ”malaekat”, Wahyu 2:1, dsb.) dan terutama djabatan rasul (”apostolos”, J.).

    Gerakan ini sekalipun termasuk kecil, tetapi sangat berpengaruh pada perkembangan kekristenan di Inggris pada waktu itu. I.H. Enklaar kembali menjelaskan pada tulisannya.
    Pada tahun 1836 ”keduabelas rasul” diutus untuk menjiapkan Geredja di Eropah pada kedatangan Kristus dan untuk ”memeteraikan” segala orang pilihan Anak Domba. Sedjak tahun 1840 bidat ini makin menjerupai Geredja Rum dalam tatakebaktiannja. Tatkala terdjadi lain dari pada jang dinanti-nantikan, jakni beberapa rasul meninggal sebelum kedatangan Tuhan, terbitlah perselisihan tentang soal perlu tidaknja djumlah mereka ditambah. Pertikaian itu mengakibatkan perpisahan orang ”Irvingian-Baru” atau Djumat Apostolis sejak tahun 1863 ; mereka menambah bilangan rasul-rasul.

    Ke 12 rasul yang bekerja di Inggris akhirnya meninggal satu demi satu dan setelah kematian beberapa orang rasul terpanggillah lagi rasul-rasul lain, yang hanya diterima oleh sebagian kecil sidang-sidang jemaat yang ada. Para rasul yang masih hidup di Inggris tidak mengakui hal ini. Keadaan ini menimbulkan perpecahan kembali. Richard Fehr dalam Buku Pertanyaan dan Jawaban perihal Kepercayaan Kerasulan Baru kembali menulis: ”Perpisahan yang terjadi (1863) adalah saat kelahiran Gereja Kerasulan Baru. Gereja yang dipimpin oleh para Rasul yang di Inggris, sejak tahun 1849 menamakan dirinya ”Gereja Kerasulan Katolik”. Perkembangan Gereja Kerasulan senantiasa berkembang semakin luas, dan di beberapa daerah Eropa berdirilah sidang-sidang jemaat baru. Di kemudian hari pekerjaan ini dapatlah juga di mulai di benua-benua lain dan pada zaman sekarang ini masih terus berkembang di seluruh dunia. Berdirinya Gereja Kerasulan yang juga disebut Apostolisch Kerk ditulis oleh Soetarman Soediman Partonadi demikian.
    Berdirinya Apostolische Kerk pada mulanya merupakan usaha membangun kembali kehidupan spiritual gereja yang didorong oleh perasaan bahwa kehidupan spiritual gereja yang ada mengalami kemunduran. Para anggotanya menginginkan jemaat yang serupa dengan gereja zaman dahulu yang dipenuhi oleh kuasa, semangat, dan berbagai kharisma, yang dipimpin oleh rasul-rasul yang menanti kedatangan Kristus yang kedua dengan setia.

    Tidak hanya di Inggris, tetapi juga di Jerman dan Belanda Apostolics Kerk atau Gereja Kerasulan berkembang dengan pesat. Suatu pertentangan mengenai suksesi jabatan rasul di samping masalah-masalah lain, mengakibatkan perpecahan yang tak terelakkan. Soetarman Soediman Partonadi dalam bukunya mengatakan.
    Sebuah denominasi baru yang menamakan diri Hersteld Apostolische Zending Gemeente muncul. Rasul Schwartz, yang mentahbiskan Anthing sebagai rasul pada tahun 1879, adalah anggota kelompok ini. Penggantinya Krebs, dianggap oleh rasul-rasul lain sebagai tunggul batang kayu, yang terbaik, terunggul) dan pada tahun 1897 ia mendirikan Hersteld Apostolische Zendings gemeente in de Eenheid der Apostolen.

    2. Visi dan Misi Gereja Kerasulan di Indonesia
    Secara spesifik, Gereja Kerasulan Baru di Indonesia tidak mencantumkan visi maupun misinya pada buku-buku tertentu termasuk Buku Pertanyaan dan Jawaban perihal Kepercayaan Kerasulan Baru. Tetapi penulis dapat menangkap ungkapan yang tertulis dalam tulisan Richard Fehr dalam bukunya yang bisa dikatakan Visi Gereja: “… setiap jiwa yang mencari kemurahan berkemungkinan untuk mencapai tujuan yang telah dijanjikan Tuhan Yesus”. Demikian juga tentang Misi Gereja. Bisa disimpulkan berdasarkan tulisan Richard Fehr dalam bukunya yang dikatakan: “… mempersiapkan jiwa-jiwa yang percaya bagi kedatangan Tuhan Yesus kembali”.
    3. Organisasi Gereja Kerasulan di Indonesia.
    Secara organisatoris Gereja Kerasulan Baru di Indonesia mengacu pada organisasi Gereja Kerasulan Baru International yang berpusat di Negeri Swiss. Mengacu pada buku yang ditulis oleh Richard Fehr dimana sebagai pimpinan tertinggi Gereja Kerasulan Baru dan hirarki kepengurusan seluruh dunia adalah Jawatan, yang dikatakan sebagai berikut: “Rasul Kepala, Rasul Distrik, Rasul, Uskup, Oudste Distrik (=Ketua Distrik), Evangelist Distrik, Oudste Sidang, Gembala (=Herder), Evangelist Sidang, Priester (=Imam), Diaken, Diaken Pembantu.” . Pengertian dari istilah jawatan adalah bentuk pelayanan yang dilaksanakan sesuai dengan tugas yang diberikan. Suatu jawatan rohani adalah bentuk pelayanan yang dilaksanakan oleh penugasan ilahi dan di dalam tenaga Roh Kudus. Richard Fehr dalam bukunya menulis:
    Tuhan Yesus Kristus hanya melembagakan satu Jawatan saja, yaitu Jawatan Rasul. Dari dalam Jawatan Rasul ini dilahirkanlah Jawatan-jawatan lain di dalam gerejaNya. Mereka ditahbiskan sesuai dengan kebutuhan dan berasal dari karunia-karunia Roh yang beraneka macam. Baru di kemudian hari berkembanglah suatu tertib yang mapan berkenan dengan Jawatan-jawatan gerejani.

    4. Perkembangan Gereja Kerasulan di Indonesia.
    Gereja Kerasulan Baru masuk di Indonesia dibawa oleh orang Belanda yang bernama Anthing. Muller Kruger mencatat latar belakang Anting dalam bukunya: ”Mr. Anting jang lahir pada tahun 1820, dapat dianggap sebagai seorang jang terkemuka di lapangan Pekabaran Indjil di Indonesia pada abad ke-19. Ia memegang djabatan jang paling tinggi di pengadilan Semarang, kemudian di Djakarta (1865)”. Pada permulaan pekerjaan penginjilan Anthing, ia mendapat pertolongan dari Perhimpunan Pekabaran Injil di dalam dan di luar Gereja. Apa yang terjadi kemudian Muller Kruger mencatat dalam bukunya.
    Kemudian ia mentjoba untuk memperoleh pertolongan dari perhimpunan-perhimpunan Pekabaran Indjil di Belanda. Akan tetapi usahanja itu gagal, sehingga ia ketjewa dan tertarik kepada bidat ”Kerasulan” jang baru muntjul ketika itu di Eropa. Ia sendiri mendjadi anggota bidat itu, serta diangkat menjadi ”rasul” di Djawa.

    Selanjutnya muncul seorang tokoh dari Jawa yang dikenal dengan nama Sadrach. Sejarah Gereja Indonesia menulis bahwa Sadrach berasal dari Jepara. Nama asli Sadrach ialah Radin, ketika ia muda ia adalah seorang pemuda yang gemar mencari ilmu. Ia pernah masuk pesantren di Jombang. Kemudian ia juga dikenal sebagai seseorang yang gemar mengembara, misalnya ke Semarang dengan memakai nama Radin Abas. Ada penginjil Belanda bernama Hoezoo yang mempengaruhi Radin Abas ini sehingga ia tertarik pada Kristen. Sampai kemudian ia bertemu dengan seorang Kyai yang lebih dahulu mengenal Yesus Kristus yang bernama Kyai Tunggul Wulung. Oleh Tunggul Wulung ia dianjurkan agar bertemu dengan Anthing di Jakarta. Sadrach pun akhirnya ke Jakarta dan seterusnya tinggallah ia di rumah Anthing dua tahun lamanya. Pada tanggal 14 April 1867 ia dibaptis di Gereja Sion di Jakarta. Seiring dengan berjalannya waktu dan gejolak yang terjadi antara penginjil Belanda dan pribumi pada waktu itu, terjadilah saling silang pendapat yang berakibat perpecahan. Penginjil Sadrah ketika diperkenalkan dengan Kerasulan merasa lebih tepat di situ sehingga akhirnya Sadrach pindah ke Kerasulan. Peristiwa itu dicatat pada tahun 1939 oleh J.D Wolterbeek orang Belanda dalam bahasa Jawa yang dikatakan demikian.
    Ing djaman poenika Kjai Sadrach wiwit tetepangan kalijan pasamoean Karasoelan, ingkang wonten ing Magelang. Goeroenipun Kristen Karasoelan ingkang kawitan poenika satoenggaling pandita Inggris, asalipun saking tanah Schot asma Ds. E. Irving ingkang ngadegaken pasamoean ingkang nganggep, bilih kalenggahan rasoel nalika sasedanipun para rasoelipun Goesti Jesoes boten sirna, nanging bilih djaman samangke ingkang ngadjengaken rawoehipoen Goesti Jesoes, preloe wonten rasoel oegi. ( Terjemahan bebas penulis: ”Pada waktu itu Sadrach mulai berkenalan dengan Gereja Kerasulan yang ada di Magelang. Guru Kristen Kerasulan yang pertama adalah orang Inggris yang berasal dari daerah Schot yang bernama Ds. E. Irving yang mendirikan gereja yang menganggap bahwa jabatan rasul ketika meninggalnya rasul-rasul Tuhan Yesus tidak hilang, tetapi pada jaman akhir diperlukan lagi jabatan rasul ”).

    Sadrach dikenal oleh para pengikutnya sebagai sosok sederhana yang kental dengan budaya Jawa. Selain dikenal arif dan bijaksana juga dikenal sakti dan memiliki banyak ilmu kejawen. Soetarman Soedirman Partonadi menulis tentang Sadrach yang tertarik kesederhanaan Apostolische Kerk dalam bukunya:
    … beberapa rasul di Belanda telah menerima wahyu dari Tuhan yang menyatakan Sadrach seharusnya ditunjuk sebagai rasul Jawa. Pandangan lain mengatakan bahwa karena Anthing juga telah ditahbiskan sebagai rasul di Apostolische Kerk, Sadrach semakin yakin akan kebenaran panggilan itu, lalu mengikuti jejak mantan gurunya.

    Banyak kisah beredar di antara pengikutnya, bagaimana Sadrach memiliki kelebihan dibanding dengan orang-orang kebanyakan pada jamannya. Perkembangan Sadrach selanjutnya dicatat oleh Muller Kruger dalam bukunya.
    Selanjutnya gerakan Sadrach itu menempuh djalannya sendiri. Beberapa tahun kemudian, jaitu pada tahun 1898, gerakan itu bergabung dengan bidat “Kerasulan”. Sadrach sendiri diangkat mendjadi “Rasul Djawa”. Djalan ini merupakan djalan jang satu-satunja bagi dia supaja diakui oleh pemerintah. Tetapi adjaran bidat itu tidak mempunjai arti apapun didalam gerakan itu.

    Lebih jauh tentang Sadrach, Soetarman Soediman Partonadi mengatakan dalam bukunya: ”Kesederhanaan Apostolische Kerk dalam hal organisasi, jabatan gereja (mereka tidak menuntut latar belakang pendidikan teologi yang istimewa untuk menjadi seorang rasul atau pejabat gereja)”. Tata cara kebaktian yang sederhana mungkin merupakan faktor yang penting dan menarik bagi Sadrach, hal ini diulas kembali oleh Soetarman dalam bukunya: ”Sadar bahwa ia sendiri ”tak berpendidikan” seperti anggota-anggota jemaatnya, Sadrach sangat tertarik dengan Apostolische Kerk. Faktor lain yang mendukung keputusannya adalah perasaan direndahkan oleh kecurigaan para pekabar Injil Belanda,…”. Sadrach yang dikenal sebagai Rasul Jawa memang sangat terkenal di kalangan Gereja Kerasulan Baru. Tokoh yang dikenal sakti oleh para jemaatnya, banyak ilmu kejawen dan memiliki kharisma dihati para pengikutnya. Kembali Soetarman menyoroti hubungan antara Sadrach dengan Gereja Kerasulan yang menulis dalam bukunya.
    Di sisi lain, hubungan antara Sadrach dengan Apostolische Kerk menjadi lebih formal, yang pada akhirnya mengakibatkan Sadrach ditahbiskan menjadi rasul Jawa. Apostolisch Kerk (yang dianggap suatu sekte) didirikan oleh pendeta Presbyterian Skotlandia, Edward Irving. Karena itu sekte ini kadang-kadang disebut Irvingisme.

    Dalam perkembangan selanjutnya, Sadrach meninggal dunia, seperti yang dicatat Soetarman dalam bukunya: ”Pada tanggal 14 Nopember 1924 dalam usia lebih dari 90 tahun, tokoh besar dalam pekabaran Injil di Karangjasa, Radin Abas Sadrach Suropranoto meninggal dengan tenang di rumahnya”. Sepeninggal Sadrach, rasul Schmidt datang dari Cimahi untuk menanyakan anak angkat Sadrach yang bernama Yotham, apakah mau ditunjuk sebagai rasul. Soeparman kembali menulis dalam bukunya: ”Yotham tidak segera memberikan jawaban, tetapi meminta waktu untuk memperhitungkan tawaran itu. Beberapa hari kemudian Yotham menulis surat yang menyatakan bahwa ia tidak bersedia menjadi rasul,…”.
    5. Pemangku Jawatan sebagai Pekerja di Gereja Kerasulan.
    Pemangku adalah orang yang mengemban tugas. Jawatan adalah pelayanan yang dilaksanakan sesuai dengan tugas yang diberikan. Pemangku Jawatan adalah orang yang ditahbiskan dalam pelayanan yang dilaksanakan sesuai dengan tugas yang diberikan. Jawatan rohani adalah pelayanan yang dilaksanakan oleh penugasan ilahi dan di dalam Roh Kudus. Richard Fehr dalam bukunya mengatakan, ”Jawatan apakah yang dilembagakan oleh Tuhan Yesus dengan hal itu ?. Tuhan Yesus melembagakan jawatan Rasul, yaitu jawatan Roh”. Lebih lanjut Richard Fehr menjelaskan tentang apakah Jawatan itu: ”Tuhan Yesus Kristus hanya melembagakan satu Jawatan saja, yaitu Jawatan Rasul. Dari dalam Jawatan Rasul ini dilahirkanlah Jawatan-jawatan lain di dalam gereja-Nya”. Dalam Gereja Kerasulan dikenal Hirarki Pemangku Jawatan. Jawatan apa sajakah yang ada dalam Gereja Kerasulan, Richard Fehr kembali menulis sebagai berikut: ”Rasul Kepala, Rasul Distrik, Rasul, Uskup, Oudste Distrik (=Ketua Distrik), Evangelist Distrik, Oudste Sidang, Gembala (=Herder), Evangelist Sidang, Priester (=Imam), Diaken, Diaken Pembantu”. Mereka ditahbiskan sesuai dengan kebutuhan dan berasal dari karunia-karunia Roh yang beraneka macam. Di dalam sidang-sidang jemaat gereja awal para rasul memiliki pembantu-pembantu di dalam jawatan sebagai berikut : Diaken-diaken ( Kisah Para Rasul 6:3-6), Ketua-ketua (oudste), lihat ( Kisah Para rasul 15:2,4,6), Uskup-uskup (Kisah Para rasul pasal 20, pasal 28). Gereja-sidang jemaat gereja awal belum memiliki tertib Jawatan yang mapan. Baru dikemudian hari berkembanglah suatu tertib yang mapan berkenaan dengan Jawatan-jawatan gerejani.

    B. Doktrin Gereja Kerasulan di Indonesia.
    1. Tugas dan wewenang para Rasul di Gereja Kerasulan.
    a. Rasul Kepala.
    Rasul Kepala adalah ‘Kepala Gereja’ yang kelihatan dan nyata, serta di dalam segala macam soal kegerejaan merupakan lembaga yang tertinggi. Richard Fehr menjelaskan kedudukan Rasul Kepala dalam bukunya:
    Rasul Kepala dianggap sebagai wakil Tuhan di atas bumi ini oleh semua anggota Gereja Kerasulan Baru, dan beliau sendiri senantiasa menyatakan dirinya sebagai penolong kepercayaan bagi para pemangku Jawatan dan saudara-saudarinya. Adalah kehendak Tuhan Yesus, agar gereja-Nya memiliki kepala yang kelihatan, yang kepadanya semua rasul dan semua percayawan menengadah (bandingkan dengan Yohanes 21:15-17). Oleh hal ini pekerjaan Tuhan dituntun kepada tujuan yang pasti dan manunggal.

    Dari kalangan pada Rasul, seorang Rasul ditahbiskan ke dalam tugas Jawatan Rasul Kepala berdasarkan tanda Ilahi yang diungkapkan kepada Rasul Kepala yang masih aktif atau kepada para rasul. Rasul Kepala khususnya mendapat tugas untuk menciptakan dan mempertahankan persatuan dan kesatuan di dalam kalangan para Rasul, sebagaimana yang diperintahkan, di inginkan dan dimohonkan oleh Tuhan Yesus (Yohanes 15:17). Selanjutnya Rasul Kepala bertugas untuk menetapkan Pemangku-pemangku Jawatan tertentu menjadi seorang Rasul, mengabarkan pengajaran Kristus.
    b. Para Rasul.
    Pembantu-pembantu Rasul Kepala yang terdekat adalah para Rasul Distrik dan para Rasul yang diperbantukan kepadanya. Apakah tugas para rasul pada zaman sekarang ini, Richard Fehr kembali menulis dalam bukunya:
    Seperti pada zaman para Rasul yang pertama, para pengemban tugas Jawatan Rasul pada masa kerampungan memiliki tugas-tugas :
    – Mengkhotbahkan Injil Yesus Kristus tanpa dipalsukan.
    – Sebagai terang dunia untuk menyebar-luaskan terang kebenaran ilahi.
    – Mempertahankan kebaktian-kebaktian di dalam tertib ilahi.
    – Membaptis dengan air.
    – Mengampuni dosa-dosa.
    – Membagikan Perjamuan Kudus di dalam roti tanpa ragi dan anggur.
    – Memetaraikan dengan Roh Kudus.
    – Mengelola gereja.
    – Mentahbiskan Jawatan-jawatan yang diperlukan.
    – Mengabarkan kedatangan Kristus kembali
    – Menghimpun para pilihan dan menghantarkan pengantin perempuan
    kepada Tuhan.

    2. Liturgi yang digunakan Gereja Kerasulan.
    Liturgika Kebaktian.
    a. Doa Pembukaan.
    Segera setelah berdiri di belakang mezbah pemimpin kebaktian hendaknya mohon sekali lagi pertolongan Allah yang istimewa di dalam sebuah doa yang pendek dengan mata tertutup, serta tidak bersuara. Richard Fehr dalam bukunya mengatakan: ”Pemimpin kebaktian memulai kebaktian dengan doa pembukaan : Di dalam Nama Allah Sang Bapa, Sang Putera dan Roh Kudus” (tanpa ”Amin”).
    Richard Fehr menjelaskan dalam bukunya tentang doa pembukaan ini dengan mengatakan: ”Setiap Pemangku Jawatan haruslah menyadari, bahwa tidak semua yang timbul di dalam hatinya, dapat diucapkan. Oleh sebab itu doa hendaknya singkat, tetapi berbobot dan bertenaga”. Tuhan Maha mengetahui, Tuhan sangat mengenal anak-anak-Nya, Tuhan akan mendengarkan dan mengabulkan, juga apa yang tidak dikatakan, bila hal tersebut mendatangkan berkat. Doa pembukaan diakhiri dengan kata-kata kira-kira sebagai berikut : Berdasarkan kehendak Tuhan Yesus (PuteraMu yang kekasih) ”atau” Di dalam Nama Tuhan Yesus. Amin !”.
    b. Pembacaan Nas Alkitab.
    Sebagai dasar untuk kebaktian digunakan firman di dalam Alkitab yang disebutkan di dalam ”Berita Jawatan” atau yang diberikan oleh Rasul Distrik. Segera setelah doa pembukaan nas Alkitab dibacakan dengan nyaring dan jelas.
    c. Penyampaian firman (khotbah).
    Kehendak Allah yang sesuai dengan keadaan dan waktu dikabarkan di dalam kebaktian melalui khotbah. Ini adalah suatu tugas yang penuh tanggung jawab dan berlimpah berkat, yang jangkauannya harus disadari oleh setiap Pemangku Jawatan. Richard Fehr mengatakan dalam bukunya: ”Semakin yang melayani menjadi alat yang menyenangkan dalam tangan Allah dan membiarkan diri dituntun sepenuhnya oleh dorongan Roh Kudus, maka pelayanannya akan semakin penuh berkat”.
    d. Membantu melayani.
    Bila Pemangku Jawatan yang hadir banyak, pemimpin kebaktian meminta beberapa Jawatan untuk membantu melayani. Waktu membantu melayani ditentukan sedemikian rupa, sehingga waktu kebaktian yang telah ditentukan tidak terlampaui. Dalam bukunya Richard Fehr menulis tentang khotbah yang melayani: ”Mengkritik dan mengoreksi khotbah yang telah disampaikan adalah tidak pada tempatnya dan hanya mengungkapkan, bahwa yang membantu melayani tersebut tidak timbul dari Roh Kristus”. Di dalam kebaktian semua hendaknya ditujukan untuk kepujian dan kehormatan Allah; oleh sebab itu tidaklah pada tempatnya untuk memuji-muji perihal apa yang telah dikatakan atau yang telah melayani.
    e. Membantu melayani oleh para Diaken Pembantu.
    Richard Fehr berbicara tentang pelayanan oleh diaken dengan mengatakan: ”Diaken dan Diaken Pembantu dari waktu ke waktu dapat diminta untuk membantu melayani, walaupun jawatan-jawatan keimaman yang lain hadir”. Adalah baik, jika Diaken dan Diaken Pembantu sewaktu-waktu mendampingi seorang Priester di dalam suatu sidang jemaat yang kekal, bila di sana Priester tersebut ditugaskan sebagai pemimpin kebaktian.
    f. Persiapan perayaan Perjamuan Kudus.
    Adalah sangat penting, bahwa pemimpin kebaktian mempersiapkan sidang jemaat, agar dapat menikmati Perjamuan Kudus dengan kepatutan dan senantiasa menunjukkan kembali akan arti sekramen ini. Sangat dianjurkan untuk senantiasa menunjukkan pada kalimat-kalimat tertentu di dalam doa ”Bapa Kami”. Selanjutnya hendaknya senantiasa ditunjukkan kembali kepada para peserta kebaktian perbedaan-perbedaan antara pengampunan dosa dan perayaan Perjamuan Kudus.

    g. Perayaan Perjamuan Kudus secara umum.
    – di dalam kebaktian-kebaktian hari Minggu.
    – di dalam kebaktian-kebaktian pada hari-hari raya gerejani.
    – di semua kebaktian Rasul.
    – di dalam kebaktian-kebaktian, di mana dilaksanakan Baptisan Suci
    dengan air, Penerimaan (Adopsi dan Konfirmasi).
    – di dalam setiap kebaktian tengah minggu.
    h. Tata cara perayaan Perjamuan Kudus.
    Setelah khotbah, sidang jemaat berdoa “Bapa Kami”. Di dalam doa Yesus ini, yang mencakup segalanya, sebagai anak-anak Allah kita membuka jiwa kita kepada Tuhan. Tentang pengampunan dosa Richard Fehr menulis dalam bukunya:
    Kemudian pemimpin kebaktian mengabarkan pengampunan dosa dengan kata-kata: Demi tugas pengutus dan Rasulku, kukabarkan kepadamu kabar yang menggembirakan: di dalam Nama Tuhan Yesus Kristus Sang Putera Allah yang hidup dosamu telah diampunkan, serta damai dari Yang Bangkit dari wafatnya menyertaimu. Amin.

    Sewaktu pemimpin kebaktian memanjatkan doa setelah firman Pengampunan dosa, Pemangku Jawatan yang telah ditentukan membuka piala Perjamuan Kudus. Doa yang selanjutnya hendaknya berisi pujian dan ucap syukur dan juga permohonan dan doa perantara. Untuk itu secara khusus pemimpin kebaktian memohonkan berkat untuk kurban yang telah dipersembahkan. Perjamuan Kudus adalah sesuatu yang sakral. Richard Fehr mengingatkan dalam bukunya: “Adalah penting, bahwa senantiasa ditunjukkan kembali akan arti Perjamuan Kudus, agar dapat dinikmati dengan kepatutan”. Meskipun penikmatan Perjamuan Kudus dilakukan hari Minggu dan hari Rabu, tidak boleh ia dijadikan sebagai kebiasaan atau dinikmati secara dangkal.
    i. Doa penutup.
    Pada akhir kebaktian sidang jemaat menghadap sekali lagi ke hadirat Tuhan. Sebagai penyambung lidah pemimpin kebaktian mempersembahkan ucap syukur kepada Tuhan dengan kata-kata yang mesra, di mana Umat-Nya telah dilayani dan diberkati lagi. Sidang jemaat diserahkan ke dalam perlindungan Yang Mahakuasa, baik untuk perjalanan pulang maupun untuk masa-masa yang akan datang, agar semuanya tetap terlindung di dalam roh, jiwa dan tubuh. Pemimpin kebaktian mengakhiri doa tersebut dengan “Amin”.
    j. Berkat penutup.
    Setelah doa penutup segera disusul dengan berkat penutup:
    “Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus dan kasih Allah dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian. Amin”
    k. Akhir kebaktian.
    Kebaktian berakhir dengan satu nyanyian paduan suara atau nyanyian terakhir yang ditentukan oleh pemimpin kebaktian, yang dinyanyikan sidang jemaat.
    l. Perpisahan/meninggalkan gereja.
    Pemimpin kebaktian mohon diri dari sidang jemaat dengan kata-kata yang mesra. Sesuai dengan kebiasaan-kebiasaan setempat, para Pemangku Jawatan memberi kesempatan kepada saudara dan saudari untuk bersalaman. Permainan organ dan/atau orkes; pada kebaktian-kebaktian agung juga nyanyian paduan suara, menyukakan para pendengar selama bersalaman tersebut.
    3. Kebaktian Istimewa di Gereja Kerasulan.
    a. Secara umum.
    Richard Fehr menjelaskan tentang Kebaktian Istimewa dalam bukunya yang mengatakan: ”Selain kebaktian-kebaktian biasa, ada juga kebaktian untuk mereka yang telah wafat”. Adalah suatu kewajiban yang suci bagi para Pemangku Jawatan, untuk mempersiapkan saudara-saudari terlebih dahulu untuk kebaktian tersebut. Meskipun jiwa-jiwa dari alam barzah (tempat sementara bagi roh orang yang sudah meninggal) diundang dan hadir pada setiap kebaktian, suatu penyucian yang khusus hendaknya terjadi sebelum kebaktian istimewa berlangsung. Hal ini membutuhkan doa-doa perantara yang terus menerus bagi para jiwa yang terbelenggu. Lebih lanjut Richard Fehr menjelaskan tentang mereka yang sudah meninggal: ”Di dalam gereja awal telah dimulai untuk memperantarakan dan mewakili mereka yang telah mati untuk mempersilahkan mereka ambil bagian dalam tindakan-tindakan kemurahan (bandingkan dengan I Korintus 15:29; II Timotius 1:16-18)”. Tuhan Yesus mempercayakan kunci kerajaan sorga kepada Rasul Petrus. Berdasarkan kuasa kunci ini Rasul Kepala senantiasa menggunakannya, agar para jiwa dapat dihantarkan pada mezbah kemurahan di dalam Jawatan Rasul Kepala dan Rasul, di mana mereka sesuai dengan keadaan jiwa mereka menerima pemberkatan yang ada di dalam rumah Allah yaitu Baptisan Suci dengan Air, Kemeteraian Suci dan Perjamuan Kudus.

    b. Pelaksanaan.
    Kebaktian Istimewa dilaksanakan oleh Rasul Kepala/Rasul Distrik/ Rasul. Richard Fehr menjelaskan cara menolong mereka yang sudah ada di alam barzah:
    Setelah perayaan Perjamuan Kudus dengan sidang jemaat, Rasul Kepala/Rasul Distrik/Rasul yang ditugaskan memberikan kepada dua orang Pemangku Jawatan yang ditentukan sebagai wakil jiwa-jiwa yang telah mempersiapkan diri dari alam barzah sakramen-sakramen:
    – Baptisan Suci dengan Air.
    – Kemeteraian Suci.
    – Perjamuan Kudus.
    Kemudian sidang jemaat atau paduan suara menyanyikan sebuah nyanyian yang sesuai. Lalu diikuti dengan doa penutup dengan berkat penutup. Kalau kebaktian Istimewa dilakukan oleh pemimpin kebaktian yang lain, setelah perayaan Perjamuan Kudus dan penerangan singkat pemimpin kebaktian di dalam doa menghantarkan jiwa-jiwa yang di alam barzah oleh pelayanan malaikat kepada belas kasihan Kristus pada mezbah kemurahan dari Rasul Kristus. Kemudian sidang jemaat atau paduan suara menyanyikan sebuah nyanyian yang sesuai. Lalu di ikuti dengan doa penutup dengan berkat penutup.

    4. Pengajaran para Rasul pada Gereja Kerasulan.
    Para rasul mengajarkan bahwa Gereja Kerasulan adalah Gereja Tuhan Yesus Kristus, yang sama dengan sidang-sidang jemaat pada masa rasul-rasul awal. Sebagai pekerjaan kelepasan Tuhan yang telah didirikan kembali, yang diperintah dan dituntun oleh Roh Kudus. Richard Fehr menjelaskan dalam bukunya tentang Gereja Kerasulan:
    Di dalam Gereja Kerasulan ini, yang adalah persekutuan antara para rasul, para pemangku jawatan dan para anggotanya dengan Tuhan Yesus Kristus, maka kasih dan kemenurutan kepercayaan yang menjadi tenaga pendukung dari segala tindakan dan usaha. Roh Kristus sendiri adalah tenaga hidup dari semua jiwa yang telah dilahirkan baru di dalam Kristus.

    Firman Allah yang dinyatakan oleh Roh Kudus membangkitkan kepercayaan akan Allah yang abadi, akan Putera-Nya Yesus Kristus, akan Roh Kudus dan akan Gereja Tuhan beserta dengan sekramen-sekramennya dan karunia-karunia Jawatan. Tujuan pengajaran kepercayaan Kerasulan adalah mempersiapkan jiwa-jiwa yang percaya bagi kedatangan Tuhan Yesus kembali. Di dalam Gereja Kerasulan pekerjaan kelepasan yang telah dimulai oleh Tuhan Yesus, dirampungkan oleh para rasul. Dengan demikian tergenapkanlah tugas yang diberikan Tuhan Yesus kepada para rasul-Nya: ”Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir dunia ini”. (Matius 28:19-20 – Alkitab Jerman). Oleh firman yang dibangkitkan oleh Roh jiwa-jiwa yang percaya dipersiapkan untuk hidup kekal. Di dalam persekutuan yang erat dengan para Pemangku Jawatan dan oleh penerimaan sakramen-sakramen dengan kepercayaan, maka setiap jiwa yang mencari kemurahan berkemungkinan untuk mencapai tujuan yang telah dijanjikan Tuhan Yesus. Kelepasan manusia adalah pembebasan jiwa dari salah dan dosa oleh jasa kurban Kristus (Roma 3:24) dan persiapan ciptaan yang baru oleh kelahiran baru dengan air dan Roh.

    5. Alkitab yang digunakan Gereja Kerasulan.
    Gereja Kerasulan menggunakan Alkitab seperti yang digunakan agama Katholik, yaitu ada sisipan Kitab Deuterokanonika di antara Kitab Perjanjian Lama dan Kitab Perjanjian Baru. Kitab Deuterokanonika juga disebut dengan Kitab Apokrif. Richard Fehr menjelaskan: ”Kata ’Apokrief’ berarti kitab-kitab yang tersembunyi. Yang dimaksudkan dengan hal ini adalah kitab-kitab yang tidak mendapat pengakuan penuh sebagai Kitab Suci”. Hal ini sebagian disebabkan oleh perselisihan-perselisihan di antara aliran-aliran agama Yahudi, tetapi kemudian juga berdasarkan beberapa konferensi gereja-gereja yang menyusul. Dr. Martin Luther dengan beberapa pengecualian telah menyalin kitab-kitab Apokrief ini kedalam Bahasa Jerman, dan menerangkannya sebagai kitab-kitab ’yang tidak dapat dipersamakan dengan Alkitab, akan tetapi bermanfaat dan baik sekali untuk di baca’

    6. Upacara-upacara di Gereja Kerasulan.
    Upacara yang dimaksud adalah mengenai Sakramen-sakramen. Sakramen-sakramen adalah tindakan-tindakan yang suci, yang olehnya Allah mengadakan perjanjian dengan manusia dan mempersambungkan dengan manusia. Sakramen-sakramen ini diberikan oleh hamba-hamba Allah dan membentuk dasar untuk menjadi anak Allah. Dalam Gereja Kerasulan terdapat tiga sakramen yaitu :
    a. Baptisan Suci dengan air.
    Baptisan Suci adalah sebagian dari kelahiran baru dan syarat mutlak yang dibutuhkan untuk dapat menerima Roh Kudus. Selanjutnya Baptisan Suci adalah Perjanjian dari hati yang suci dengan Allah (Yohanes 3:5; 1 Petrus 3:21). Richard Fehr mengatakan dalam bukunya: ”Berkaitan dengan Baptisan Suci dengan air ini adalah juga penghapusan dosa-dosa warisan, yang ditimbulkan oleh kejatuhan Adam dan Hawa ke dalam dosa, yang menyebabkan dosa warisan umat manusia.” Di dalam pelaksanaan Baptisan Suci dengan air, Allah membukakan jalan yang menuju kepada kelepasan yang sempurna bagi manusia oleh jasa kurban Yesus Kristus. Baptisan yang dilakukan di dalam nama Allah Tritunggal oleh perkumpulan-perkumpulan kristiani lain, diakui oleh Gereja Kerasulan sebagai sakramen yang berlaku.
    b. Perjamuan Suci.
    Perjamuan Suci atau Perjamuan Kudus lebih dilembagakan oleh Tuhan Yesus sendiri sebagai peringatan akan kurban-Nya yang tunggal dan sempurna, dan akan kesengsaraan serta kematian-Nya yang teramat pahit (Matius 26:26-28; Lukas 22:19-20). Penikmatan Perjamuan Suci dengan kepatutan mempertahankan hidup kekal jiwa dan memberi jiwa jaminan tetap tinggal di dalam Yesus dan Yesus di dalamnya, dan persekutuan hidup yang erat dan mesra dengan Yesus Kristus Tuhan kita (Yohanes 6:51-58). Orang-orang Kristen Kerasulan menghayati Perjamuan Suci tidak hanya sebagai perayaan peringatan saja, lebih dari itu Sang Putera Allah, yang di ingat oleh para percayawan, ada di tengah-tengah mereka. Selain itu Perjamuan Suci adalah suatu perayaan kesukaan, suatu puja-puji dan suatu ucap syukur. Berdasarkan Matius 26:27 dan 1 Korintus 11:24 berkembanglah pada zaman orang-orang Kristen yang pertama nama ”Ekaristi”(=terima kasih). Sebagaimana Tuhan Yesus mengambil roti dan anggur dan mengucap syukur, demikianlah sidang jemaat datang kepada Allah dengan roti dan anggur untuk memuji-Nya dan berterima kasih kepada-Nya atas jasa kurban Putera-Nya.
    c. Kemeteraian Suci dengan Roh Kudus.
    Apakah yang dimaksud dengan Kemeteraian Suci, Richard Fehr menjelaskan:
    Kemeteraian Suci adalah pemberian Roh Kudus, yaitu bagian yang terpenting dari kelahiran baru (Kisah Para Rasul 8:14-17; Efesus 1:13-14; 4:30). Kemeteraian Suci adalah dasar pembaharuan yang sempurna dari manusia batiniah (Roma 8:9; II Korintus 5:17; Wahyu 21:5. Oleh Kemeteraian Suci seorang manusia menjadi anak Allah dengan hak atas warisan Kristus (Roma 8:17). Dengan demikian pemilikan Roh Kudus adalah jaminan untuk kemuliaan abadi (Yohanes3:5; Efesus 2:17-20). Kemeteraian Suci juga dinamakan:
    – Baptis Roh dan api (Matius 3:11; Kisah para Rasul 1:5).
    – Pengurapan Suci (II Korintus 1:21-22).

    Sebagaimana di gereja awal, begitu juga di dalam Gereja Kerasulan para rasul bekerja untuk memberikan Roh Kudus (II Korintus 3:6,8). Richard Fehr menjelaskan siapa yang dapat menerima Roh Kudus.
    Orang yang dapat menerima Roh Kudus adalah orang yang siap sedia dan berkeinginan untuk menerima Roh Kudus dan haruslah memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
    – Ia harus sudah menerima baptisan dengan air.
    – Ia harus, oleh firman yang berasal dari khotbah memperoleh
    kepercayaan pada pengajaran para Rasul.
    – Ia harus menerima pengampunan atas dosa-dosanya.
    – Ia harus mengakui dan berkeputusan untuk menyesuaikan hidupnya
    dengan dasar-dasar pengajaran para rasul, yang adalah pengajaran
    Tuhan Yesus.

    Anak-anakpun menerima Roh Kudus oleh tumpangan tangan seorang Rasul. Pada diri anak-anak, maka pengakuan ini, telah diwakili orang tuanya pada saat Baptisan Suci, untuk tanggung jawab mendidik anaknya di dalam pengajaran para rasul.
    Sebagai bukti yang meyakinkan bahwa Tuhan telah menetapkan ketiga sekramen ini terdapat di dalam tiga hal yang bekerja sebagaimana hal ini didasari oleh ketritunggalan Allah: ”Inilah Dia yang telah datang dengan air dan darah, Yaitu Yesus Kristus, bukan saja dengan air, tetapi dengan air dan dengan darah. Dan Rohlah yang memberi kesaksian, karena Roh adalah kebenaran. Sebab ada tiga yang memberi kesaksian di dalam Surga: Bapa, Firman dan Roh Kudus; dan ketiganya adalah satu. Dan ada tiga yang memberi kesaksian di bumi: Roh dan air dan darah dan ketiganya adalah satu” (1 Yohanes 5:6-8). James A.Griffin menulis tetang Roh Kudus:
    ”Roh Kudus” adalah nama yang diberikan kepada pribadi ketiga dalam Tritunggal Mahakudus oleh Yesus sendiri (Mat.28:19). Dia adalah napas Allah yang memberikan kehidupan . Dia juga disebut ”Paracletus” karena Dia merupakan pembela kita dihadapan Bapa. Dia disebut ”Roh Kebenaran” karena Dia merupakan sumber semua kebenaran lewat para murid Yesus, dengan mengingatkan mereka ”segala sesuatu yang diajarkan oleh Yesus”.

    7. Sikap Gereja Kerasulan yang eksklusif.
    Seorang rasul dari Gereja Kerasulan mengatakan dalam tulisannya,”Tidak ada anak Allah yang akan tersesat, apabila mereka dengan setia mengikuti Rasul Kepala dan para rasul”. Hal ini dikuatkan dengan pernyataan penulis buku yang sama yang mengatakan:
    Dalam semua peperangan, pengujian, pencobaan dan dalam memenuhi kewajiban-kewajiban hidup kita, kemenangan itu terbatas oleh luasnya kesempatan yang kita berikan kepada Roh Kudus untuk menggenapi tujuan-Nya di dalam jiwa kita. Di luar kepercayaan ini tidak ada kemenangan. Di mana tidak ada kemenangan, tidak ada Roh Kudus – dan juga tidak terdapat hidup yang kekal; karena Yesus dan Pekerjaan Keselamatan-Nya serta Roh Kudus-Nya tidak dapat dipisahkan – dan tidak ada jalan lain lagi yang diberikan.

    Dikatakan eksklusif karena pandangan Gereja Kerasulan yang menekankan bahwa pengajaran Gereja Kerasulan adalah yang paling benar.

  3. Mengenal lebih dekat Rasul-Rasul awal.

    Para Rasul dan Penginjil

    Para Rasul adalah orang-orang yang dipilih, diajarkan dan ditugaskan oleh Yesus Kristus untuk mewartakan Kabar Gembira (Injil) untuk membaptis, mendirikan, mengarahkan, dan memelihara Gereja-Nya sebagai pelayan-pelayan Allah dan penjaga misteri-misteri-Nya. Mereka adalah uskup-uskup Gereja Katolik yang pertama.

    Injil Santo Matius (Matius 10:1-4) menunjukkan daftar para Rasul dalam urut-urutan seperti ini: Simon Petrus, Andreas, Yakobus, Yohanes, Filipus, Bartolomeus, Thomas, Matius, Yakobus, Yudas Thadeus, Simon dan Yudas Iskariot. Matias diangkat untuk menggantikan tempat Yudas Iskariot. Paulus menjadi Rasul oleh panggilan khusus dari Yesus Kristus. Barnabas disebut juga sebagai seorang Rasul.
    Dua diantara empat penginjil (penulis kitab Injil) yaitu Yohanes dan Matius, termasuk dalam bilangan 12 rasul. Dua yang lainnya, Lukas dan Yohanes Markus, sangat erat hubungannya dengan kumpulan para Rasul.

    Santo Petrus:
    Nama aslinya Simon bin Yunus, lahir di Bethsaida, saudara Santo Andreas, keduanya bekerja sebagai nelayan. Dinamakan Kefas (bahasa Aram) atau Petrus (transliterasi dalam bahasa Yunani) yang berarti batu karang, oleh Yesus Kristus (Yohanes 1:42, Matius 16:18) yang menjadikannya pemimpin para Rasul dan kepala Gereja sebagai imam-Nya.
    Popularitas Santo Petrus diantara bilangan para Rasul sangat menyolok. Analisa secara statistik menunjukkan bahwa namanya disebutkan sebanyak 195 kali [!!!] dalam keempat kitab Injil dan Kisah Para Rasul, sedangkan gabungan ke-11 rasul lainnya disebutkan sebanyak 130 kali saja. Santo Yohanes dalam posisi runner-up namanya hanya disebutkan sebanyak 29 kali saja. Santo Petrus selalu disebutkan sebagai yang pertama dalam bilangan para Rasul dalam ketiga Injil sinoptik (Matius, Markus dan Lukas) maupun Kisah Para Rasul.
    Bersama Santo Yakobus bin Zebedeus dan Santo Yohanes, Santo Petrus menjadi saksi atas dibangkitkannya putri Yairus dari kematian (Markus 5:21-43), transfigurasi Yesus Kristus di atas bukit (Matius 17:1-8), sengsara Yesus di Taman Getsemani (Matius 26:36-46).
    Santo Petrus adalah yang pertama-tama mewartakan Injil di dan seputar Yerusalem, dan merupakan pemimpin komunitas Kristen yang pertama. Dia mendirikan gereja setempat di Antiokia. Dia memimpin konsili Gereja Katolik yang pertama di Yerusalem di tahun 51 (Kisah Para Rasul 15:7). Dia menulis dua surat dalam Kitab Perjanjian Baru, yaitu Surat Petrus 1 dan 2 kepada umat di Asia Kecil. Dia mendirikan pusat pengajarannya sebagai uskup di Roma dimana dia menghabiskan tahun-tahun terakhirnya dan menjadi martir dengan cara disalibkan pada tahun 64 atau 67 selama penindasan oleh Kaisar Nero.
    Patut dicatat bahwa meskipun diketahui bahwa Santo Petrus meninggal di Roma sesuai Tradisi Apostolik dan catatan sejarah, tetapi tidak diketahui dimana tepatnya letak makamnya. Pada tahun 315, kaisar Romawi, Konstantinus, yang bersikap baik terhadap umat Kristen, membangun gereja yang altarnya tepat berada di atas makam Santo Petrus. Di kemudian hari basilika (gereja ukuran raksana) yang baru dibangun di atas bangunan gereja tersebut dan setiap kali bangunan yang baru dibangun di atas pondasi bangunan yang lama sedemikian rupa hingga akhirnya menjadi Basilika Santo Petrus, Vatikan, seperti yang kita kenal sekarang ini. Sepanjang masa tersebut, pengetahuan akan letak makam Santo Petrus sudah menghilang dari sejarah. Sekitar 1500 tahun kemudian, dengan diawali oleh sebuah sebuah peristiwa kecelakaan seorang pekerja di tahun 1939, pada tahun 1958 makam Santo Petrus akhirnya ditemukan di salah satu katakombe dan letaknya persis di bawah altar yang terletak di bawah kubah Santo Petrus, Vatikan. Salah satu tulisan yang diukirkan disana berbunyi: “Petrus berbaring di dalam sini”. Tidak bisa tidak, kita pasti akan teringat akan kata-kata Yesus pada Matius 16:18 Dan Akupun berkata kepadamu: “Engkau adalah Petrus (Aram:Kefas), dan diatas batu karang (Aram:Kefas) ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku (=Gereja, Ecclesia) dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di Sorga.” Kepastian penemuan letak makam Santo Petrus tersebut, telah memberikan dimensi tambahan terhadap makna Injil Matius 16:18, yang memberi bukti tambahan bahwa Gereja Katolik adalah satu-satunya Gereja Yesus yang sejati.
    Dalam dunia seni, Santo Petrus dilambangkan membawa dua kunci, simbol kekuasaannya dalam Gereja. Lambang lainnya juga serupa, dengan dua kunci bersilangan lambang kekuasaannya dan sebuah salib yang diposisikan terbalik yang merujuk pada posisi penyalibannya. Dirayakan tiap tanggal 29 Juni (bersama Santo Paulus) dan 22 Februari (Tahta Petrus).

    Santo Andreas:
    Lahir di Bethsaida, saudara dari Simon Petrus, murid dari Yohanes Pembaptis, seorang nelayan, Rasul yang pertama dipanggil (Matius 4:18, Markus 1:16, Yohanes 1:40). Ketika Yohanes Pembaptis menunjuk kepada Yesus dan berkata: “Lihatlah Anak Domba Allah” dengan serta merta dia meninggalkan Yohanes Pembaptis untuk mengikuti Yesus. Menurut legenda, dia mewartakan Kabar Gembira di Yunani bagian Utara, yaitu Epirus dan Scythia, dan menjadi martir di Patras sekitar tahun 70 dengan cara disalibkan pada salib yang berbentuk huruf X. Dia tidak dipakukan pada kayu salib tetapi diikatkan. Dia bertahan selama dua hari dalam kesengsaraan dan masih terus berkhotbah kepada mereka yang mengelilinginya. Dalam dunia seni, dilambangkan dengan salib berbentuk huruf X, yang disebut Salib Santo Andreas; dihormati sebagai Santo pelindung Russia dan Skotlandia dan Patriarch Ekumenikal. Dirayakan tiap tanggal 30 November.

    Santo Yakobus bin Zebedeus (Yakobus Besar):
    Orang Galilea, putra Zebedeus, saudara Rasul Yohanes, dimana mereka berdua disebut oleh Yesus sebagai Boanerges, artinya putera halilintar (Markus 3:17). Dia juga seorang nelayan.
    Agaknya Petrus, Yakobus dan Yohanes bertiga punya tempat yang spesial. Hanya mereka bertiga yang menjadi saksi atas: dibangkitkannya putri Yairus dari kematian (Markus 5:21-43), transfigurasi Yesus di atas bukit (Matius 17:1-8), sengsara Yesus di taman Getsemani (Matius 26:36-46). Hanya mereka bertiga yang diberi nama khusus oleh Yesus.
    Tidak mengherankan kalau Yakobus dan Yohanes merasa berhak untuk menemui Yesus dan meminta apapun yang mereka inginkan. (Injil Matius 20:20-28 mengisahkan tentang permintaan ibunda Yakobus dan Yohanes yang datang kepada Yesus untuk mengajukan suatu permohonan khusus). Sebagai tanda kasihNya, Yesus tidak memarahi mereka tetapi menanyakan apa yang mereka minta. Permintaan mereka agar mereka bisa duduk di sebelah kanan-kiri Yesus jika Yesus nanti datang dalam kemuliaanNya, menunjukkan bahwa mereka tidak mengerti tugas misi mereka yang sebenarnya. Yesus menjawab bahwa mereka tidak tahu apa yang dimintanya. Mereka tidak melihat salib kesengsaraan melainkan tahta duniawi. Bisakah mereka meminum cawan yang Yesus minum? Mereka bilang “kami dapat.” Yesus meyakinkan bahwa memang mereka akan turut meminum cawanNya. Ke-10 rasul lainnya pun marah-marah setelah mendengar permintaan kedua bersaudara itu. Yesus menggunakan kesempatan ini untuk mengajarkan kepada mereka bahwa untuk menjadi besar seseorang harus menjadi pelayan.
    Lebih jauh lagi Yakobus dan Yohanes menunjukkan ketidak-mengertian mereka ketika Yesus ditolak oleh orang-orang Samaria (Lukas 9:51-56). Mereka berdua ingin menggunakan kuasa yang didapatnya bukannya untuk menyembuhkan melainkan untuk menurunkan api dari langit untuk membinasakan orang-orang Samaria yang berani menolak Yesus tersebut. Barangkali Yesus memberi nama mereka Boanerges – putera-putera halilintar – karena semangat mereka, antusiasme mereka atau temperamen mereka. Yesuspun memarahi mereka karena pandangan mereka yang ingin menggunakan kuasa mereka dengan tanpa ampun dan balas dendam.
    Meskipun dengan segala kekurangan mereka, Yesus tetap memilih Petrus, Yakobus dan Yohanes untuk menemaniNya di taman Getsemani. Yesus pasti sangat bersedih ketika menemukan mereka sedang tertidur pulas pada malam yang sengsara itu.
    Yakobus sungguh minum dari cawan yang diminum Yesus. Dia adalah Rasul pertama yang mati terbunuh, atas perintah raja Herodes Agripa dengan sebilah pedang (Kisah Para Rasul 12:2).
    Ada keragu-raguan akan perjalanan legendaris yang dilakukannya ke Spanyol dan juga mengenai keotentikan (keaslian) relikwi-relikwi yang disebut sebagai miliknya di Santiago de Compostela, karena kurangnya bukti sejarah. Yakobus dihormati sebagai Santo pelindung Spanyol dan para penziarah dan para pekerja. Dalam dunia seni, digambarkan membawa sebuah bel peziarah. Lambangnya adalah tiga kulit kerang yang merujuk pada penziarahan. Dirayakan tiap tanggal 25 Juli (Ritus Roma/Latin) dan 30 April (Ritus Bizantium/Timur).

    Santo Yohanes, Penginjil:
    Orang Galilea, putra Zebedeus, saudara kandung Yakobus Besar, dimana mereka berdua dinamakan Boanerges, putera-putera guruh (Markus 3:17), oleh Yesus. Dia adalah juga seorang nelayan, mungkin seorang murid Santo Yohanes Pembaptis, merupakan salah satu penginjil (penulis kitab Injil), dan yang sering disebut-sebut sebagai “murid yang terkasih” (Yohanes 19:26, 21:20).
    Bersama Petrus dan Yakobus bin Zebedeus, hanya mereka bertiga yang diajak Yesus ketika: putri Yairus dibangkitkan dari kematian (Markus 5:21-43), transfigurasi Yesus di atas bukit (Matius 17:1-8), sengsara Yesus di Taman Getsemani (Matius 26:36-46).
    Rasul Yohanes adalah satu-satunya yang tidak meninggalkan Yesus ketika saat-saat sengsara penyaliban Yesus. Dari kayu salib, Yesus Kristus menyatakan Bunda Maria sebagai ibu kepada Yohanes dan sebaliknya menyatakan kepada Bunda Maria bahwa Yohanes adalah anaknya (Yohanes 19:26). Sabda Yesus yang signifikan ini merujuk kepada Maria sebagai hawa yang baru, hawa yang kedua. Yohanes mewakili seluruh umat Kristen dan dengan demikian Bunda Maria menjadi ibu bagi segenap umat manusia (Lukas 1:48).
    Rasul Yohanes mengarang Kitab Injil ke-empat, tiga Surat Yohanes, dan Kitab Wahyu. Injil karangannya punya karakter yang berbeda secara menyolok. Kalau Injil Matius, Markus dan Lukas dikategorikan sebagai Injil sinoptik – disebut demikian karena isinya berupa ringkasan ministri Yesus -, Injil Yohanes ditulis dengan ‘gaya bebas’ dan topikal, sesuai tujuan yang ingin dicapai oleh sang penulis, dan mengandung makna teologis yang mendalam. Menurut tradisi, dia dibawa ke Roma dan atas perintah Kaisar Domitian dia dimasukkan kedalam belanga berisi minyak mendidih tetapi Yohanes selamat tanpa cedera sedikitpun. Yohanes lantas diasingkan ke pulau Patmos selama setahun.
    Rasul Yohanes adalah satu-satunya diantara bilangan para Rasul, yang diketahui secara pasti tidak meninggal sebagai martir. Menarik untuk direnungkan apa yang dikatakan oleh Yesus dalam Injil Yohanes 21:20,21,23 : Ketika Petrus berpaling, ia melihat bahwa murid yang dikasihi Yesus (yaitu Yohanes) sedang mengikuti mereka, yaitu murid yang pada waktu mereka sedang makan bersama duduk dekat Yesus dan yang berkata: “Tuhan, siapakah dia yang akan menyerahkan Engkau?”….Ketika Petrus melihat murid itu, ia berkata kepada Yesus: “Tuhan, apakah yang akan terjadi dengan dia ini?” …. Maka tersiarlah kabar di antara saudara-saudara itu, bahwa murid itu tidak akan mati. Yohanes memang sungguh-sungguh berumur panjang. Dia tinggal di Efesus di Asia Kecil untuk beberapa lamanya dan masih hidup ketika Roma dipimpin oleh Paus Santo Clement I yang suratnya kepada umat di Korintus sangat terkenal dan dijadikan bahan bukti untuk mendukung otoritas Sri Paus. Yohanes meninggal secara alami pada sekitar tahun 100 dan diatas makamnya dibangun gereja yang megah. Akan tetapi berabad-abad sesudahnya, penguasa Islam merubah gereja itu menjadi mesjid.
    Dalam dunia seni, dia dilambangkan dengan seekor elang, sebagai simbol kehebatan isi kitab Injil karangannya, potret kemampuan dirinya yang menonjol dalam menyelami misteri-misteri Allah. Lambang lainnya yaitu kaliks (piala) yang dililit oleh seekor ular menurut legenda dimana dia diberikan piala berisi racun dalam suatu usaha untuk membunuhnya. Dirayakan tiap tanggal 27 Desember (Ritus Roma/Latin) dan 8 Mei (Ritus Bizantium/Timur).

    Santo Filipus:
    Lahir di Bethsaida, Galilea. Pada awalnya Santo Filipus mungkin adalah murid Santo Yohanes Pembaptis. Hanya Injil Yohanes yang menyebutkan dua kisah tentang Santo Filipus ini. Dia dipanggil oleh Yesus sendiri dan dia membawa Natanael besertanya (Yohanes 1:43-51). Aksi Santo Filipus selanjutnya bisa dibaca dalam Kisah Para Rasul 8:4-13. Menurut tradisi, dia mewartakan Kabar Gembira di Phrygia dan menjadi martir dengan cara disalibkan terbalik di Hierapolis, Yunani, pada masa pemerintahan Kaisar Domitian.
    Lambang Santo Filipus adalah sebuah salib yang didampingi oleh dua bundaran yang melambangkan dua potong roti. Dua potong roti Ini merujuk pada kata-kata Yesus yang ditujukan kepada Filipus mengenai pemberian makan kepada ribuan orang dalam Injil Yohanes 6:5-7 ..berkatalah Ia kepada Filipus: “Dimanakah kita akan membeli roti, supaya mereka ini dapat makan?” Hal itu dikatakan-Nya untuk mencobai dia, sebab Ia sendiri tahu apa yang hendak dilakukan-Nya. Jawab Filipus kepada-Nya: “Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka ini, sekalipun masing-masing mendapat sepotong kecil saja.” Dirayakan tiap tanggal 3 Mei (Ritus Roma/Latin) dan 14 November (Ritus Bizantium/Timur).

    Santo Bartolomeus (Natanael):
    Satu hal yang diketahui pasti tentang Santo Bartolomeus adalah namanya disebutkan dalam bilangan para Rasul. Namanya berarti “putera Tolomai” (bar = bin = putera) dan dikenal juga sebagai Natanael dari Kana, sahabat Filipus (Yohanes 1:43-51). Ia dibawa kepada Yesus oleh Filipus, dimana Yesus memujinya sebagai orang Israel sejati yang tidak memiliki kepalsuan didalamnya.
    Menurut berbagai tradisi, dia mewartakan Kabar Gembira di Etiopia, India, Persia dan Armenia, dimana dia menjadi martir dengan cara dicacah dagingnya hidup-hidup dengan pisau dan dipenggal oleh raja Astyages. Tempatnya meninggal adalah di Abanopolis, di tepi barat Laut Kaspia. Dalam dunia seni, digambarkan memegang sebilah pisau, salah satu alat yang dipakai untuk membunuhnya. Lambang Santo Bartolomeus adalah tiga bilah pisau. Dirayakan tiap tanggal 24 Agustus (Ritus Roma/Latin) dan 25 Agustus (Ritus Bizantium/Timur).

    Santo Thomas Didimus:
    Santo Thomas orang Yahudi yang termasuk dalam bilangan 12 rasul. Ketika Yesus berkata bahwa Ia ingin kembali ke Yudea untuk mengunjungi sahabatnya Lazarus yang menderita sakit keras (Yohanes 11), Thomas menyemangati para rasul lainnya untuk ikut menemani Yesus dalam perjalanan yang penuh bahaya maut. Pada perjamuan terakhir (Yohanes 14), ketika Yesus memberitahu para muridNya bahwa Ia akan pergi untuk menyiapkan tempat bagi mereka kemana mereka akan datang karena mereka juga tahu tempat dan jalannya, Thomas berkata bahwa mereka tidak mengerti. Yesus lantas meyakinkan bahwa Kristus adalah Jalan, Kebenaran dan Hidup.
    Namun yang paling kita ingat dari Santo Thomas yaitu keragu-raguannya akan Kebangkitan Yesus seperti disaksikan oleh para rasul pada hari Minggu Paskah yang pertama (Yohanes 20:19-20). Delapan hari sesudahnya, pada penampakan Kristus yang kedua, Yesus menegor Thomas dengan lembut karena ketidak-percayaannya dan selanjutnya memberikan bukti-bukti seperti yang dituntut oleh Thomas – tangan yang berlubang bekas paku dan luka di lambungNya. Santo Thomas menjadi yakin akan Kebangkitan Yesus dan dengan serta-merta berseru “Ya Tuhanku dan Allahku”. Dengan demikian Santo Thomas menyatakan pengakuan iman akan ke-Allah-an Yesus (Yohanes 20:24-29). Santo Thomas juga disebut dalam peristiwa penampakan Kebangkitan Yesus lainnya di tepi danau Tiberias (Yohanes 21).
    Menurut tradisi, setelah para rasul berpisah setelah peristiwa Pantekosta, Santo Thomas dikirim untuk mewartakan Kabar Gembira di berbagai tempat dari Laut Kaspia, Parthian, Medes, sampai Teluk Persia dan akhirnya mencapai India dimana banyak penduduk asli di negara bagian Malabar menjadi Kristen dan menyebut diri mereka sebagai “umat Kristen Thomas”. Ritus khas mereka yaitu Syro-Malabar dan Syro-Malankara adalah dua diantara 22 ritus yang dikenal dan diakui oleh Gereja Katolik. Rasul Thomas menjadi martir di sekitar kota Madras, India di tempat yang bernama Calamine; mati dengan cara ditombak.
    Dalam dunia seni, Santo Thomas digambarkan berlutut dihadapan Kristus yang bangkit dengan mulia, dan lambangnya adalah sebuah penggaris-siku tukang kayu dan sebilah tombak, alat yang digunakan untuk membunuhnya. Santo Thomas adalah santo pelindung para arsitek. Dirayakan tiap tanggal 3 Juli (Ritus Roma/Latin) dan 6 Oktober (Ritus Bizantium/Timur).

    Santo Matius, Penginjil:
    Orang Galilea, salah satu dari ke-12 rasul. Rasul Matius adalah putera Alfeus (Markus 2:14) dan dipanggil untuk menjadi rasul sewaktu sedang duduk-duduk di kantor pajak di Kapernaum (Matius 9:9). Sebelum bertobat ia bekerja sebagai pemungut cukai/pajak. Dia diidentifikasi sebagai Lewi oleh Markus dan Lukas (Markus 2:13-17 dan Lukas 5:27-32). Santo Matius adalah salah satu penulis Kitab Injil.
    Injil Santo Matius ditulis untuk memenuhi kebutuhan yang mendesak bagi orang Yahudi, baik mereka yang percaya maupun yang tidak percaya. Bagi orang Yahudi Injil Matius dipergunakan untuk memberi semangat bagi cobaan-cobaan yang akan datang, terutama kemungkinan mereka kembali memeluk agama Yahudi. Bagi mereka yang tidak percaya, Injil Matius didesain untuk meyakinkan mereka bahwa Mesias telah datang dalam ujud Yesus dimana semua nubuat tentang Mesias telah terpenuhi secara spiritual dan bukan secara fisik. “Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini”. Oleh karenanya, Injil Matius menjawab pertanyaan yang diajukan oleh murid-murid Santo Yohanes Pembaptis, “Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?” (Matius 11:2-18)
    Santo Matius menulis Injil dalam bahasa aslinya yaitu bahasa Aram. Segera setelah itu, pada masa penindasan oleh raja Herodes Agripa I di tahun 42, Santo Matius berangkat ke luar wilayah. Tradisi lain menyebutkan bahwa Santo Matius menulis kitab Injilnya antara saat keberangkatannya hingga Konsili Yerusalem, yaitu antara tahun 42 dan 50. Yang pasti, Injilnya yang menggambarkan Kota Suci, Yerusalem, dengan altar dan Bait Suci (sinagoga) yang masih utuh dan tanpa referensi kepada pemenuhan nubuat oleh Yesus, menunjukkan bahwa Injilnya ditulis sebelum penghancuran kota Yerusalem oleh orang-orang Romawi di tahun 70 dan bukti-bukti ini menguatkan tradisi sebelumnya.
    Menurut berbagai tradisi, dia mewartakan Kabar Gembira di Yudea, Etiopia, Persia dan Parthia, dan menjadi martir. Dalam dunia seni, digambarkan sebagai orang suci yang bersayap karena perannya sebagai Penginjil (Evangelis) dan Injilnya yang menggambarkan sifat-sifat manusiawi Yesus Kristus. Lambangnya adalah tiga kantung uang yang merujuk pada pekerjaannya sebagai pemungut cukai/pajak sebelum ia dipanggil untuk mengikuti Yesus. Dirayakan tiap tanggal 21 September (Ritus Roma/Latin) dan 16 November (Ritus Bizantium/Timur).

    Santo Yakobus (kecil):
    Anak Alfeus Kleofas, menulis salah satu surat dalam Kitab Perjanjian Baru, yaitu Surat Yakobus. Ibunya, Maria, adalah saudari perempuan atau kerabat dekat dari Bunda Maria. Oleh karena itu, sesuai adat Yahudi, dia sering disebut sebagai saudara Yesus. Bahasa Aram tidak memiliki kata yang terpisah untuk membedakan sebutan kakak/adik kandung, sepupu atau misan. Dia disebut “kecil” karena dia lebih muda umurnya atau lebih kecil postur tubuhnya dibanding Santo Yakobus Besar (Yakobus bin Zebedeus).
    Rasul Yakobus bin Alfeus memegang peran penting dalam komunitas Kristen di Yerusalem. Menurut tradisi, dia adalah Uskup Yerusalem yang pertama dan hadir dalam Konsili Yerusalem di tahun 50 (Kisah Para Rasul 15). Tradisi mengakui bahwa ia sebagai pengarang Surat Yakobus. Bukti-bukti berupa bahasa, gaya tulisan, dan ajaran dalam surat tersebut menunjukkan pengarangnya sebagai seorang Yahudi yang paham akan Kitab Perjanjian Lama, dan seorang Kristen yang paham akan ajaran-ajaran Injil. Bukti-bukti lain dari para Bapa Gereja dan Konsili-konsili Gereja menguatkan keaslian dan kanonitas Surat Yakobus. Tanggal surat itu ditulis tidak diketahui dengan pasti. Ada yang percaya bahwa surat itu ditulis tahun 49, sementara lainnya menduga surat itu ditulis setelah Santo Paulus menulis surat kepada umat di Roma (tahun 57-58). Mungkin juga ditulis pada sekitar tahun 60 – 62.
    Dia menjadi martir, dilempar kebawah dari atap Sinagoga/Bait Allah di Yerusalem dan dibunuh dengan cara dilempari batu atau dihabisi dengan sepotong pemukul. Ahli sejarah pada waktu itu, Eusebius dan Hegesippus menyatakan bahwa Santo Yakobus menjadi martir iman, dibunuh oleh orang-orang Yahudi pada musim semi tahun 62. Mereka sangat mengagumi sifat perilakunya dan menjulukinya “Yakobus si orang benar”. Dalam dunia seni, digambarkan dengan sebilah tongkat pemukul atau gada besar. Dirayakan tiap tanggal 3 Mei (Ritus Roma/Latin) dan 9 Oktober (Ritus Bizantium/Timur).

    Santo Yudas Thadeus:
    Santo Yudas dikenal juga sebagai Thadeus, adalah saudara Santo Yakobus kecil, dan juga kerabat Yesus. Dia menulis salah satu surat dalam Kitab Perjanjian Baru, yaitu Surat Yudas.
    Berbagai tradisi menyebutkan bahwa ia mewartakan Kabar Gembira di Yudea, Samaria, Idumaea, Siria, Mesopotamia, Persia dan Libia. Menurut sejarawan Eusebius, Santo Yudas Thadeus kembali ke Yerusalem pada tahun 62 dan membantu pemilihan saudaranya, Santo Simeon, sebagai Uskup Yerusalem. Dia juga menulis surat kepada Gereja-gereja di Timur, terutama kepada kaum Yahudi Kristen yang ditujukan untuk melawan pembangkangan/penyelewengan kaum Simonian, Nikolait, dan Gnostik. Santo Yudas Thadeus dikabarkan menjadi martir di Armenia yang waktu itu dibawah kekuasaan Persia. Santo Yudas Thadeus adalah murid yang menanyakan Yesus pada perjamuan terakhir mengapa Ia tidak memanifestasikan diriNya kepada seluruh dunia setelah KebangkitanNya.
    Menurut legenda dia mengunjungi Beirut dan Edessa dan mungkin menjadi martir di Persia bersama Santo Simon. Doa-doa kepada Santo Yudas dipanjatkan dalam situasi-situasi yang sangat genting karena suratnya dalam Perjanjian Baru menekankan bahwa umat harus bertekun/tabah dalam situasi yang berat, kondisi-kondisi sulit, sama seperti para pendahulu kita. Oleh karena itu Santo Yudas Thadeus adalah santo pelindung kasus-kasus yang genting. Devosi terhadap Santo Yudas Thaddeus, yang disebut sebagai Santo bagi hal-hal yang mustahil (The Saint of the impossibles) cukup populer dan digalakkan di Amerika Serikat dan berbagai negara lain.
    Dalam dunia seni, dilambangkan dengan sebuah halberd (sejenis senjata yang merupakan gabungan dari kampak dan tombak, seperti yang sering dipakai di abad pertengahan), yang merupakan alat yang dipakai untuk membunuhnya. Dirayakan tiap tanggal 28 Oktober (Ritus Roma/Latin) dan 19 Juni (Ritus Bizantium/Timur).
    Santo Simon:
    Disebut orang Kanaan atau Zealot (Matius 10:4, Markus 3:18, Lukas 6:15) karena menjalani hukum Yahudi dan hukum Kanaan secara ketat. Menurut legenda, Santo Simon mewartakan Kabar Gembira di berbagai tempat di Timur Tengah dan didampingi oleh Santo Yudas Thadeus dalam berbagai perjalanan misionarisnya. Dia menjadi martir dengan cara digergaji tubuhnya dibelah dua.
    Dalam dunia seni dilambangkan dengan sebilah gergaji, alat yang dipakai untuk membunuhnya, atau dilambangkan dengan sebuah buku, simbol semangatnya akan Hukum Allah. Dirayakan tanggal 28 Oktober (Ritus Roma/Latin) dan 10 Mei (Ritus Bizantium/Timur).

    Santo Matias:
    Tindakan para rasul yang pertama setelah Yesus naik ke surga adalah memilih pengganti Yudas Iskariot. Mereka memfokuskan diri untuk mencari rasul kedua belas. Angka dua belas penting bagi bangsa yang terpilih, karena mewakili ke-12 suku bangsa Israel. Kalau Israel yang Baru datang dari murid-murid Yesus, maka dibutuhkan rasul ke-12. Tetapi Yesus telah memilih ke-12 rasul, bagaimana mereka tahu siapa yang akan mereka pilih? Seratus dua puluh orang berkumpul dan berdoa di ruang atas ketika Petrus berdiri untuk mengajukan cara melakukan pemilihan. Petrus menentukan kriterianya: rasul yang baru harus sudah menjadi murid Yesus sejak awal dan tetap setia ketika banyak orang meninggalkan Yesus karena ajaran-ajaranNya. Dua orang memenuhi kriteria: Matias dan Yusuf yang disebut Barsabas. Mereka membuang undi dan Matias terpilih untuk ditambahkan kedalam bilangan 12 rasul (Kisah Para Rasul 1:15-26).
    Beberapa tradisi melaporkan bahwa Santo Matias mewartakan Kabar Gembira di Palestina, Kapadokia atau Etiopia. Dia meninggal sebagai martir. Dalam dunia seni dilambangkan dengan sebuah salib dan sebuah halberd (semacam kampak dengan ujung tombak), alat yang dipergunakan untuk membunuhnya. Lambang lainnya adalah sebilah kapak dengan buku putih terbuka yang bertuliskan “super Mathiam”. Dirayakan tiap tanggal 14 Mei (Ritus Roma/Latin) dan 9 Agustus (Ritus Bizantium/Timur).

    Santo Paulus:
    Lahir di Tarsus, dari suku keturunan Benyamin, dan seorang warganegara Roma. Dia turut mengambil bagian dalam menindas umat Kristen sampai pada saat pertobatannya yang mukjijat di tengah perjalanannya ke Damsyik (Damaskus, Siria) (Kisah Para Rasul 9:1-18). Ia mendapat panggilan dari Yesus Kristus sendiri, yang menyatakan diri-Nya kepada Paulus dengan cara yang khusus. Dia menjadi rasul yang tidak kenal lelah bagi kaum non-Yahudi.
    Dia tetap tinggal di Damaskus untuk beberapa hari setelah pembaptisannya dan lantas menuju ke Arabia mungkin selama satu dua tahun untuk mempersiapkan aktivitas misionarisnya. Sekembalinya ke Damaskus, dia tinggal disana untuk beberapa waktu, berkhotbah di sinagoga-sinagoga bahwa Yesus adalah Kristus, Putera Allah. Hal ini membangkitkan kebencian orang Yahudi dan dia harus melarikan diri dari sana. Dia lantas pergi ke Yerusalem untuk menemui Petrus dan bersilaturahmi kepada sang kepala Gereja.
    Dalam perjalanan misionarisnya yang pertama bersama Barnabas, Paulus mendirikan gereja-gereja di seluruh Asia Kecil: Pisidian, Antiokia, Iconium, Lystra dan Derbe. Setelah Konsili Yerusalem, Paulus ditemani oleh Silas, dan kemudian oleh Timotius dan Lukas melakukan perjalanan misionaris keduanya. Pada perjalanan misionarisnya yang ketiga, Paulus mengunjungi tempat-tempat yang sama dan sempat tinggal di Efesus selama hampir tiga tahun. Dia dipenjarakan selama dua tahun di kota Roma, setelah sebelumnya ditangkap di Yerusalem (Kisah Para Rasul 21:30) dan dipenjarakan di Kaisarea (Kisah Para Rasul 23:23-24). Menurut tradisi, setelah dua tahun Santo Paulus dibebaskan dari penjara Roma dan lantas melakukan perjalanan ke Spanyol, lalu kembali ke Timur, dan kembali lagi ke Roma dimana dia kembali dipenjarakan untuk kedua kalinya. Akhirnya dia menjadi martir di Roma dengan cara dipenggal, di luar tembok-tembok kota pada tahun 67 selama penindasan oleh Kaisar Nero. Tempat ia dipenggal dikenal dengan nama Tre Fontane (Three Fountains – Tiga Mata Air) karena munculnya tiga mata air yang mukjijat di tempat kepalanya jatuh ke bumi.
    Tidak kurang dari 14 surat-surat dalam Kitab Perjanjian Baru ditulis olehnya. Akan tetapi bisa dipastikan bahwa Santo Paulus menulis lebih banyak lagi surat-surat yang telah hilang. Dalam surat-suratnya Santo Paulus menunjukkan bahwa ia adalah seorang pemikir religius yang sangat menonjol dan perannya yang masih dapat dirasakan dalam perkembangan iman Kristiani.
    Dalam dunia seni, dia digambarkan secara bermacam-macam, juga bersama-sama dengan Santo Petrus, diantaranya dengan sebilah pedang dalam adegan pertobatannya. Lambangnya adalah sebilah pedang dibelakang sebuah buku terbuka yang bertuliskan “Spiritus Gladius” (=Pedang Roh). Dirayakan tiap tanggal 29 Juni (berbareng dengan Santo Petrus) dan 25 Januari (pertobatannya).
    Santo Barnabas:
    Orang Yahudi yang lahir di Siprus (Kisah Para Rasul 4:36-37). Nama aslinya Yusuf tetapi dinamakan Barnabas oleh para Rasul (Kisah Para Rasul 4:36), dimana dia dihargai sebagai seorang rasul oleh karena kerjasamanya dengan Rasul Paulus (a.l. Kisah Para Rasul 11:19-30). Merupakan sepupu Santo Markus dan anggota komunitas Kristen di Yerusalem.
    Dia menjual harta bendanya dan menyerahkan uang hasil penjualan kepada para rasul. Dia meyakinkan para Rasul untuk menerima Paulus (Kisah Para Rasul 9:27), dan dikirim ke Antiokia, Siria untuk menengok umat Kristen disana dan membawa Paulus besertanya. Bersama Paulus, dia membawa sumbangan umat Antiokia kepada umat di Yerusalem waktu terjadi bencana kelaparan, dan kembali ke Antiokia bersama sepupunya, Santo Yohanes Markus. Mereka bertiga melakukan perjalanan misionaris ke Siprus, Perga (dimana Yohanes Markus melanjutkan ke Yerusalem) dan Antiokia di Pisidia dimana Paulus dan Barnabas ditolak habis-habisan oleh orang Yahudi sehingga mereka memutuskan untuk mewartakan Injil kepada kaum pagan. Mereka lalu melanjutkan ke Ikonium dan Listra di Lycaonia, dimana awalnya mereka dianggap sebagai dewa dan kemudian dilempari batu dan diusir dari kota. Mereka kembali ke Antiokia di Siria.
    Ketika ada perselisihan mengenai hukum agama orang Yahudi Kristen, Paulus dan Barnabas pergi ke Yerusalem, dimana dihadapan konsili, diputuskan bahwa kaum non-Yahudi tidak perlu disunat untuk dibaptis. Sekembalinya mereka ke Antiokia, Barnabas ingin membawa serta Yohanes Markus, tetapi Paulus menolak karena Yohanes Markus meninggalkan mereka di Perga. Paulus dan Barnabas berpisah, dan Barnabas kembali ke Siprus bersama-sama dengan Yohanes Markus. Tidak ketahuan lagi berita selanjutnya, namun dipercaya bahwa Barnabas dan Paulus akhirnya berdamai.
    Tradisi menyebutkan bahwa ia menjadi martir di Salamis, Siprus pada tahun 61 selama penindasan terhadap umat Kristen oleh Kaisar Nero. Lambangnya adalah 6 mawar berbentuk segitiga terbalik. Dirayakan tiap tanggal 11 Juni.

    Santo Lukas, Penginjil:
    Santo Lukas adalah pengarang Injil Lukas dan Kisah Para Rasul (Kisah Para Rasul 1:1), dan disebutkan sebagai “tabib yang kekasih” oleh Rasul Paulus (Kolose 4:14), yang didampinginya selama tugas-tugas misionaris Santo Paulus (Kisah Para Rasul 16:10-40).
    Santo Lukas adalah orang Yunani yang menjadi Kristen, satu-satunya pengarang Injil yang bukan Yahudi. Dalam surat Kolose 4:10-14, Rasul Paulus menyebutkan sahabat-sahabat yang bersamanya dari golongan mereka yang bersunat, dengan kata lain Yahudi, dan dia tidak memasukkan Santo Lukas dalam group ini. Injil Lukas adalah satu-satunya yang menyebutkan perumpamaan “orang Samaria yang baik hati” (Lukas 10:25-37), Yesus yang memuji iman kaum non-Yahudi seperti janda di Sarfat di tanah Sidon dan Naaman orang Siria (Lukas 4:25-27), dan kisah seorang Samaria penderita kusta yang berterima kasih (Lukas 17:11-19). Hanya dari Injil Lukas kita mendapat nyanyian pujian Maria (magnificat). Menurut sejarawan Eusebius, Santo Lukas lahir di Antiokia, Siria.
    Pada masa kini, kita berasumsi bahwa seorang dokter pastilah kaya-raya. Tetapi para teolog melontarkan argumentasi bahwa mungkin Santo Lukas dilahirkan sebagai budak. Tidak jarang bagi keluarga-keluarga kaya pada jaman itu untuk mendidik budaknya dalam bidang obat-obatan, supaya mereka mempunyai dokter pribadi. Tidak hanya melalui kata-kata Santo Paulus, tetapi juga Santo Jerome, Santo Irenaeus, Caius – penulis abad kedua, mereka semua menuliskan bahwa Lukas adalah seorang dokter.
    Untuk mengikuti jejak-jejak pelayanan Santo Lukas, kita harus meneliti Kisah Para Rasul. Kita tidak memiliki informasi kapan Santo Lukas bertobat dan menjadi Kristen, tetapi dengan meneliti tulisan pada kitab tersebut, kita bisa melihat dimana dia bergabung dengan Santo Paulus. Kisah Para Rasul ditulis dengan perspektif orang-ketiga, seperti seorang sejarahwan menuliskan fakta-fakta sejarah, sampai dengan pasal ke enam belas. Pada Kisah Para Rasul 16:8-9, kita mendengar pendamping Paulus “Setelah melewati Misia, mereka sampai di Troas. Pada malam harinya tampaklah oleh Paulus suatu penglihatan: ada seorang Makedonia berdiri di situ dan berseru kepadanya, katanya: ‘Menyeberanglah kemari dan tolonglah kami!’” Lalu tiba-tiba di pasal 16:10 kata “mereka” berubah menjadi “kami”: “Setelah Paulus melihat penglihatan itu, segeralah kami mencari kesempatan untuk berangkat ke Makedonia, karena dari penglihatan itu kami menarik kesimpulan bahwa Allah telah memanggil kami untuk memberitakan Injil kepada orang-orang di sana.” Jadi Santo Lukas bergabung dengan rombongan Paulus pertama kali di Troas pada sekitar tahun 51 dan menemaninya ke Makedonia dimana mereka melewati Samotrake, Neapolis, dan akhirnya Filipi. Santo Lukas lantas kembali merobah gaya tulisan ke orang ketiga yang agaknya menunjukkan bahwa ia tidak dimasukkan ke penjara bersama-sama dengan Santo Paulus dan bahwa ketika Paulus dibebaskan dan meninggalkan Filipi, Santo Lukas tetap tinggal disana untuk mendukung Gereja disana. Tujuh tahun berlalu sebelum Santo Paulus kembali ke daerah itu dalam perjalanan misionarisnya yang ketiga. Dalam pasal 20:5, kembali digunakan kata “kami” yang menunjukkan bahwa Santo Lukas telah meninggalkan Filipi untuk bergabung dengan Santo Paulus pada tahun 58 di Troas, di tempat mereka pertama kali bergabung. Mereka berkelana bersama melalui Miletus, Tire, Kaisarea ke Yerusalem. Lukas adalah pendamping yang setia yang tinggal bersama Santo Paulus ketika ia dipenjarakan di Roma sekitar tahun 61: “Salam kepadamu dari Epafras, temanku sepenjara karena Kristus Yesus dan dari Markus, Aristarkhus, Demas dan Lukas, teman-teman sekerjaku” (Filemon 1:23-24). Dan semua orang lain meninggalkan Santo Paulus sewaktu ia dipenjara dan sengsara terakhir kalinya, adalah Santo Lukas yang tetap tinggal bersama Santo Paulus “Hanya Lukas yang tinggal dengan aku” (2 Timotius 4:11).
    Inspirasi dan informasi bagi Injilnya dan Kisah Para Rasul berasal dari hubungannya yang erat dengan Santo Paulus dan rombongannya seperti yang Lukas jelaskan dalam pembukaan Injilnya: “Teofilus yang mulia, Banyak orang telah berusaha menyusun suatu berita tentang peristiwa-peristiwa yang telah terjadi diantara kita, seperti yang disampaikan kepada kita oleh mereka, yang dari semula adalah saksi mata dan pelayan Firman. Karena itu, setelah aku menyelidiki segala peristiwa itu dengan seksama dari asal mulanya, aku mengambil keputusan untuk membukukannya dengan teratur bagimu, supaya engkau dapat mengetahui, bahwa segala sesuatu yang diajarkan kepadamu sungguh benar.”
    Perspektif Santo Lukas yang unik akan Yesus bisa dilihat dalam enam mukjijat dan delapan belas perumpamaan yang tidak ditemui dalam Injil yang lain. Injil Santo Lukas adalah Injil bagi orang miskin dan keadilan sosial. Hanya Injil Lukas yang mengisahkan tentang Lazarus dan Orang Kaya (Lukas 16:19-31). Santo Lukas-lah yang menggunakan “Berbahagialah orang miskin…” dan bukannya “Berbahagialah orang yang miskin dihadapan Allah” dalam Sabda Kebahagiaan (Lukas 6:20-26, Matius 5:1-12). Hanya dalam Injil Lukas kita mendengar Nyanyian Pujian Maria dimana Maria menyatakan bahwa “Allah menurunkan orang-orang yang berkuasa dari tahtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah. Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar dan menyuruh orang kaya pergi dengan tangan hampa” (Lukas 1:52-53)
    Santo Lukas juga punya hubungan yang khusus dengan wanita-wanita dalam hidup Yesus, terutama Bunda Maria. Hanya dalam Injil Lukas kita mendengar kisah tentang pemberitahuan akan kelahiran Yesus, kunjungan Maria ke Elisabet, Nyanyian Pujian Maria, Yesus dipersembahkan di Bait Allah, dan Yesus yang hilang di Yerusalem. Kepada Santo Lukas-lah kita harus berterima kasih atas bagian ayat-ayat Alkitab dari doa Salam Maria: “Salam Maria penuh rahmat, Tuhan sertamu” yang diucapkan oleh malaikat Gabriel dan “Terpujilah engkau diantara wanita dan terpujilah buah tubuhmu, Yesus” yang diucapkan oleh sepupunya, Elisabet.
    Pengampunan dan belas kasih Allah kepada para pendosa juga sangat penting bagi Santo Lukas. Hanya dalam Injil Lukas kita mendengar kisah tentang anak yang hilang (Lukas 15:11-32). Hanya dalam Injil Lukas kita mendengar wanita pendosa yang membasuh kaki Yesus dengan airmatanya (Lukas 7:36-50). Sepanjang Injil Lukas, Yesus berpihak kepada yang ingin kembali kepada kemurahan Tuhan. Membaca Injil Lukas memberi gambaran yang jelas akan sifatnya yang mengasihi orang miskin, yang menginginkan pintu Kerajaan Allah terbuka bagi semua orang, yang menghargai para wanita, yang melihat adanya harapan belaskasih Allah bagi semua orang.
    Kisah Santo Lukas setelah meninggalnya Santo Paulus tidak diketahui dengan pasti. Beberapa penulis sejarah mengatakan bahwa ia menjadi martir, sementara lainnya mengatakan ia berumur panjang. Dalam dunia seni, dia digambarkan dengan seekor lembu atau domba (karena Injil karangannya dimulai dengan adegan kurban persembahan di Sinagoga/Bait Suci). Lambangnya adalah seekor lembu yang bersayap. Santo Lukas adalah santo pelindung para dokter dan ahli bedah. Dirayakan tiap tanggal 18 Oktober.

    Santo Markus, Penginjil:
    Nama lengkapnya, Yohanes Markus (Kisah Para Rasul 15:37). Dia adalah sepupu Santo Barnabas dan merupakan anggota komunitas Kristen yang pertama di Yerusalem. Baik Santo Yohanes Markus maupun ibunya dihormati oleh komunitas Gereja purba dan rumah ibunya sering digunakan sebagai tempat berkumpul bagi umat Kristen.
    Dia mendampingi Santo Paulus dan Santo Barnabas dalam tugas-tugas misionaris mereka (Kisah Para Rasul 12:12 dan 15:35-41) melalui pulau Siprus. Lalu dia hanya mendampingi Santo Barnabas. Kemudian dia juga berada di Roma bersama Santo Paulus dan Santo Petrus (1 Petrus 5:13).
    Dia menulis Kitab Injil kedua mungkin di Roma sebelum tahun 60. Dia menulis Injilnya dalam bahasa Yunani bagi kaum non-Yahudi yang menjadi Kristen. Injil karangannya adalah yang paling pendek diantara keempat kitab Injil. Menurut tradisi Santo Markus diminta oleh orang-orang Romawi untuk menuliskan ajaran-ajaran Santo Petrus. Hal ini dikuatkan oleh posisi Santo Petrus dalam Injil Markus. Injil Markus melukiskan hidup Yesus melalui pandang mata Santo Petrus, pemimpin para rasul.
    Menurut tradisi dia mendirikan Gereja di Alexandria, Mesir, dan menjadi uskup disana, dan menjadi martir di jalanan kota tersebut. Dalam dunia seni, dia dilambangkan dengan seekor singa yang bersayap, yang melambangkan Santo Yohanes Pembaptis sebagai suara yang berseru-seru di padang gurun, seperti tertulis pada awal Kitab Injil karangan Santo Markus. Dirayakan tiap tanggal 25 April

    ________________________________________
    Yudas Iskariot:
    Kitab-kitab Injil hanya menulis sedikit fakta-fakta seputar Yudas Iskariot, sang rasul yang menghianati Kristus. Satu-satunya orang non-Galilea diantara bilangan ke-12 Rasul, dia berasal dari Carioth, sebuah kota di sebelah selatan Yudea. Dia adalah bendaharawan para Rasul. Dia disebut sebagai maling kecil oleh Santo Yohanes. Dialah yang menyuarakan ketidak-senangannya akan penghamburan uang, yang disebutnya bisa digunakan bagi orang-orang miskin, sehubungan dengan peristiwa pengurapan Yesus di Betania. Dia berinisiatif mengatur penghianatan terhadap Yesus Kristus. Setelah itu, dia mengaku bahwa dia telah menghianati seorang yang tidak bersalah dan membuang uang yang telah diterima sebagai pembayarannya ke dalam Bait Allah. Mengenai kematiannya, Matius mengatakan bahwa Yudas menggantung diri, sedangkan Kisah Para Rasul menyatakan bahwa ia jatuh tertelungkup, perutnya terbelah dan isinya menghambur keluar. Kedua laporan ini lebih menekankan segi makna daripada cara Yudas meninggal – yaitu kesengsaraan kematian seorang pendosa. Konsensus umum tentang sebab mengapa Yudas berhianat terhadap Yesus difokuskan pada imaginasi Yudas yang salah dan penolakan untuk menerima konsep Juru Selamat (Mesiah, Kristus) yang menderita, dan penderitaan dirinya sendiri sebagai seorang Rasul

  4. EKSKLUSIF ??? Apa benar GKBI Gereja yg paling benar ? sudah benarkah kehidupan rohani jemat-2 GKBI ? Apa tidak terlalu FARISI menyebut dirinya EKSKLUSIF ? Lantas kenapa anda bersaudara mengikuti gereja lain ?

  5. Shalom.
    Entah GKBI merasa diri eksklusive ataukah karena prinsip-pirinsip fundamentalnya yang mau tak mau menimbulkan kesan eksklusive bagi orang lain, namun – sepuluh tahun yang lalu dan sebelum itu – GKBI memang berkeyakinan dan mengajarkan kepada jemaatnya bahwa Yesus hanya mengutus para rasul, sehingga praktis gereja-gereja lain (paus, pendeta dll) tidak diakui.
    Dear Mr “X”,
    Saya sadar ini masalah yang sensitif, tapi kami berharap ada konfirmasi dari otoritas GKBI untuk mengklarifikasi soal ini.
    Seperti kita ketahui, eksklusivisme membuat seseorang merasa paling benar, dia merasa mengantongi kebenaran dan menutup diri dari SETIAP share yang berseberangan dengan prinsip dia. Tapi kita tahu bahwa setiap orang BISA merasa paling benar, itulah sebabnya sebuah diskusi memberi jalan tengah, namun eksklusivisme mempersempit kemungkinan ke arah diskusi.
    Karena itu, kami tidak menyukai – dalam hal ini – eksklusivisme.
    Besar kemungkinan, eksklusivisme di GKBI merupakan manifestasi roh agamawi atau roh FARISI, seperti kata Anda, dear Mr X.
    Blog ini saya buat bukan berdasar KEBENCIAN, namun sebagai ungkapan rasa syukur kami yang oleh kemurahan Tuhan Yesus boleh lepas dari eksklusivisme.
    Saya rasa bp Gideon Agusswt dapat lebih menjelaskan.
    Shalom.

  6. ikutan sher ya “eksklusivisme” atau Merasa paling benar dll saya kurang sependapat, dalam sebuah organisisi ( Kelembagaan ) doktrin selalu ada, hal ini juga timbul bukahn hanya merasa benar tapi lebih kepada Memproteksi, karena adanya rasa takut, kehawatiran, curiga yang berlebihan ( takut umat berpindah gereja atau yg sejenisnya dan yang lain lainnya ) hal ini pula yg di alami di kepercayaan yg lain sehingga muncul pemikiran ( Kristenisasi ) , hal spt ini pernah saya sher di facebook dalm bentuk yg lain dan lebih luas

    Thanks

  7. Berikut cuplikannya

    POTRET TENTANG DEMOKRASI

    Negri ini belajar Berdemokrasi Tetapi Pluralisme menjadi Pudar, Budaya Ketimuran Mulai Luntur, Tatakrama mulai tak jelas, Kebebasan beragama mulai terusik, Sopan santun menjadi nomer ke sekain, Kerukunan mulai renggang, semua kasus mulai terangkat, yg Baik merasa punya hak, yg jahat pun merasa punya hak, semua berkomentar, semua menghakimi, merasa paling benar dan yg lainnya salah. dan Aliran Alairan Radikal mulai mengembangkan sayap karena juga merasa punya hak .itu semua terjadi karena RASA TAKUT, KECURIGAAN, KEHAWATIRAN dan lain lain dan lain lain dan lain lainnya…? tapi ketahuilah wahai NEGRI ku Baik dan buruk, Salah dan Benar Itu adalah ukuran Manusia, Tetapi Ukuran Tuhan Baru Berprasangka Buruk saja Sudah BERDOSA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s