Sejarah Gereja Kerasulan Baru


A. Sejarah Berdirinya Gereja Kerasulan.

1. Gereja Kerasulan “sempalan“ dari Gereja Roma Katholik.

Dimulai pada tahun 1828, di Negeri Inggris khususnya pada kalangan Gereja Roma Katolik terjadi perubahan politik dan kerohanian yang luar biasa. Berdasarkan Buku Pertanyaan dan Jawaban perihal Kepercayaan Kerasulan Baru yang ditulis Richard Fehr dikatakan:

Revolusi politik dan kerohanian yang ada pada masa itu menyebabkan ketidak percayaan yang semakin hari semakin meluas, yang pembenarannya mereka dasarkan kepada pengakuan-pengakuan baru yang tidak sempurna, bahkan yang seringkali hanya merupakan tipuan belaka, dari ilmu pengetahuan yang sedang berkembang.

Banyaknya aliran kepercayaan pada masa itu, membuat para pencari kebenaran yang percaya di negara-negara mohon pewahyuan Tuhan yang baru, demikian juga untuk penggenapan perjanjian Tuhan bagi zaman akhir, yang mereka akui telah tiba pada masa mereka itu. Dari sumber yang sama yaitu Buku Pertanyaan dan Jawaban perihal Kepercayaan Kerasulan Baru dikatakan:

John Bate Cardale

Dari tahun 1828 sampai 1832 orang-orang yang percaya di Jerman dan Inggris menerima wahyu Allah, bahwa Tuhan akan memberikan lagi tertib rasuli sebagaimana pada awalnya (dibangkitkannya kembali karunia-karunia Roh dan pemulihan kembali Jawatan Rasul). Pada tahun 1832 oleh nubuat Roh Kudus terpanggillah John Bate Cardale sebagai Rasul yang pertama dari 12 Rasul yang bekerja di Inggris.

Kepercayaan Kerasulan Baru percaya bahwa jabatan rasul memainkan peranan penting. James A. Griffin menulis dalam bukunya: ”Pencurahan Roh Kudus atas diri para Rasul pada hari Pentakosta merupakan permulaan suatu zaman baru dalam hubungan Allah dengan umat-Nya, zaman Gereja”. Soetarman Soedirman Partonadi menulis dalam bukunya yang berbicara tentang peran rasul pada waktu itu.

Mereka percaya bahwa para rasul adalah pemimpin gereja yang sah sejak Perjanjian Baru hingga kedatangan Kristus yang kedua. Kedudukan para rasul yang tinggi terbukti dalam kata-kata lagu ini: ”Jabatan rasul adalah batu karang tempat kami harus membangun. Ia adalah Tuhan kami kini, kepada siapa kami percaya”.

I.H. Enklaar dalam bukunya mencatat tentang bidat-bidat yang bermunculan pada waktu itu, salah satu tulisannya demikian.

Bidat ini didirikan kurang lebih tahun 1830 di Inggris oleh Edward Irving. Penganutnja jakin bahwa kedatangan kembali Tuhan telah dekat. Ada jang tahu berbitjara dengan ”bahasa lidah” dan ada pula jang menjembuhkan orang. Akan tetapi tjiri istimewa bidat Apostolis ialah mereka berpendirian, bahwa Geredja harus membaharui djabatan-djabatan lama (nabi dan ”malaekat”, Wahyu 2:1, dsb.) dan terutama djabatan rasul (”apostolos”, J.).

Gerakan ini sekalipun termasuk kecil, tetapi sangat berpengaruh pada perkembangan kekristenan di Inggris pada waktu itu. I.H. Enklaar kembali menjelaskan pada tulisannya.
Pada tahun 1836 ”keduabelas rasul” diutus untuk menjiapkan Geredja di Eropah pada kedatangan Kristus dan untuk ”memeteraikan” segala orang pilihan Anak Domba. Sedjak tahun 1840 bidat ini makin menjerupai Geredja Rum dalam tatakebaktiannja. Tatkala terdjadi lain dari pada jang dinanti-nantikan, jakni beberapa rasul meninggal sebelum kedatangan Tuhan, terbitlah perselisihan tentang soal perlu tidaknja djumlah mereka ditambah. Pertikaian itu mengakibatkan perpisahan orang ”Irvingian-Baru” atau Djumat Apostolis sejak tahun 1863 ; mereka menambah bilangan rasul-rasul.

Ke 12 rasul yang bekerja di Inggris akhirnya meninggal satu demi satu dan setelah kematian beberapa orang rasul terpanggillah lagi rasul-rasul lain, yang hanya diterima oleh sebagian kecil sidang-sidang jemaat yang ada. Para rasul yang masih hidup di Inggris tidak mengakui hal ini. Keadaan ini menimbulkan perpecahan kembali.

Richard Fehr dalam Buku Pertanyaan dan Jawaban perihal Kepercayaan Kerasulan Baru kembali menulis: ”Perpisahan yang terjadi (1863) adalah saat kelahiran Gereja Kerasulan Baru. Gereja yang dipimpin oleh para Rasul yang di Inggris, sejak tahun 1849 menamakan dirinya ”Gereja Kerasulan Katolik”. Perkembangan Gereja Kerasulan senantiasa berkembang semakin luas, dan di beberapa daerah Eropa berdirilah sidang-sidang jemaat baru. Di kemudian hari pekerjaan ini dapatlah juga di mulai di benua-benua lain dan pada zaman sekarang ini masih terus berkembang di seluruh dunia.

Berdirinya Gereja Kerasulan yang juga disebut Apostolisch Kerk ditulis oleh Soetarman Soediman Partonadi demikian.

Berdirinya Apostolische Kerk pada mulanya merupakan usaha membangun kembali kehidupan spiritual gereja yang didorong oleh perasaan bahwa kehidupan spiritual gereja yang ada mengalami kemunduran. Para anggotanya menginginkan jemaat yang serupa dengan gereja zaman dahulu yang dipenuhi oleh kuasa, semangat, dan berbagai kharisma, yang dipimpin oleh rasul-rasul yang menanti kedatangan Kristus yang kedua dengan setia.

Tidak hanya di Inggris, tetapi juga di Jerman dan Belanda Apostolics Kerk atau Gereja Kerasulan berkembang dengan pesat. Suatu pertentangan mengenai suksesi jabatan rasul di samping masalah-masalah lain, mengakibatkan perpecahan yang tak terelakkan. Soetarman Soediman Partonadi dalam bukunya mengatakan.

Sebuah denominasi baru yang menamakan diri Hersteld Apostolische Zending Gemeente muncul. Rasul Schwartz, yang mentahbiskan Anthing sebagai rasul pada tahun 1879, adalah anggota kelompok ini. Penggantinya Krebs, dianggap oleh rasul-rasul lain sebagai tunggul batang kayu, yang terbaik, terunggul) dan pada tahun 1897 ia mendirikan Hersteld Apostolische Zendings gemeente in de Eenheid der Apostolen.

2. Visi dan Misi Gereja Kerasulan di Indonesia

Secara spesifik, Gereja Kerasulan Baru di Indonesia tidak mencantumkan visi maupun misinya pada buku-buku tertentu termasuk Buku Pertanyaan dan Jawaban perihal Kepercayaan Kerasulan Baru. Tetapi penulis dapat menangkap ungkapan yang tertulis dalam tulisan Richard Fehr dalam bukunya yang bisa dikatakan Visi Gereja: “… setiap jiwa yang mencari kemurahan berkemungkinan untuk mencapai tujuan yang telah dijanjikan Tuhan Yesus”. Demikian juga tentang Misi Gereja. Bisa disimpulkan berdasarkan tulisan Richard Fehr dalam bukunya yang dikatakan: “… mempersiapkan jiwa-jiwa yang percaya bagi kedatangan Tuhan Yesus kembali”.

3. Organisasi Gereja Kerasulan di Indonesia.

Secara organisatoris Gereja Kerasulan Baru di Indonesia mengacu pada organisasi Gereja Kerasulan Baru International yang berpusat di Negeri Swiss. Mengacu pada buku yang ditulis oleh Richard Fehr dimana sebagai pimpinan tertinggi Gereja Kerasulan Baru dan hirarki kepengurusan seluruh dunia adalah Jawatan, yang dikatakan sebagai berikut: “Rasul Kepala, Rasul Distrik, Rasul, Uskup, Oudste Distrik (=Ketua Distrik), Evangelist Distrik, Oudste Sidang, Gembala (=Herder), Evangelist Sidang, Priester (=Imam), Diaken, Diaken Pembantu.” . Pengertian dari istilah jawatan adalah bentuk pelayanan yang dilaksanakan sesuai dengan tugas yang diberikan. Suatu jawatan rohani adalah bentuk pelayanan yang dilaksanakan oleh penugasan ilahi dan di dalam tenaga Roh Kudus. Richard Fehr dalam bukunya menulis:

Tuhan Yesus Kristus hanya melembagakan satu Jawatan saja, yaitu Jawatan Rasul. Dari dalam Jawatan Rasul ini dilahirkanlah Jawatan-jawatan lain di dalam gerejaNya. Mereka ditahbiskan sesuai dengan kebutuhan dan berasal dari karunia-karunia Roh yang beraneka macam. Baru di kemudian hari berkembanglah suatu tertib yang mapan berkenan dengan Jawatan-jawatan gerejani.

4. Perkembangan Gereja Kerasulan di Indonesia.

Gereja Kerasulan Baru masuk di Indonesia dibawa oleh orang Belanda yang bernama Anthing. Muller Kruger mencatat latar belakang Anting dalam bukunya: ”Mr. Anting jang lahir pada tahun 1820, dapat dianggap sebagai seorang jang terkemuka di lapangan Pekabaran Indjil di Indonesia pada abad ke-19. Ia memegang djabatan jang paling tinggi di pengadilan Semarang, kemudian di Djakarta (1865)”. Pada permulaan pekerjaan penginjilan Anthing, ia mendapat pertolongan dari Perhimpunan Pekabaran Injil di dalam dan di luar Gereja. Apa yang terjadi kemudian Muller Kruger mencatat dalam bukunya.
Kemudian ia mentjoba untuk memperoleh pertolongan dari perhimpunan-perhimpunan Pekabaran Indjil di Belanda. Akan tetapi usahanja itu gagal, sehingga ia ketjewa dan tertarik kepada bidat ”Kerasulan” jang baru muntjul ketika itu di Eropa. Ia sendiri mendjadi anggota bidat itu, serta diangkat menjadi ”rasul” di Djawa.

Selanjutnya muncul seorang tokoh dari Jawa yang dikenal dengan nama Sadrach. Sejarah Gereja Indonesia menulis bahwa Sadrach berasal dari Jepara. Nama asli Sadrach ialah Radin, ketika ia muda ia adalah seorang pemuda yang gemar mencari ilmu. Ia pernah masuk pesantren di Jombang. Kemudian ia juga dikenal sebagai seseorang yang gemar mengembara, misalnya ke Semarang dengan memakai nama Radin Abas. Ada penginjil Belanda bernama Hoezoo yang mempengaruhi Radin Abas ini sehingga ia tertarik pada Kristen. Sampai kemudian ia bertemu dengan seorang Kyai yang lebih dahulu mengenal Yesus Kristus yang bernama Kyai Tunggul Wulung. Oleh Tunggul Wulung ia dianjurkan agar bertemu dengan Anthing di Jakarta. Sadrach pun akhirnya ke Jakarta dan seterusnya tinggallah ia di rumah Anthing dua tahun lamanya. Pada tanggal 14 April 1867 ia dibaptis di Gereja Sion di Jakarta. Seiring dengan berjalannya waktu dan gejolak yang terjadi antara penginjil Belanda dan pribumi pada waktu itu, terjadilah saling silang pendapat yang berakibat perpecahan. Penginjil Sadrah ketika diperkenalkan dengan Kerasulan merasa lebih tepat di situ sehingga akhirnya Sadrach pindah ke Kerasulan. Peristiwa itu dicatat pada tahun 1939 oleh J.D Wolterbeek orang Belanda dalam bahasa Jawa yang dikatakan demikian.

Ing djaman poenika Kjai Sadrach wiwit tetepangan kalijan pasamoean Karasoelan, ingkang wonten ing Magelang. Goeroenipun Kristen Karasoelan ingkang kawitan poenika satoenggaling pandita Inggris, asalipun saking tanah Schot asma Ds. E. Irving ingkang ngadegaken pasamoean ingkang nganggep, bilih kalenggahan rasoel nalika sasedanipun para rasoelipun Goesti Jesoes boten sirna, nanging bilih djaman samangke ingkang ngadjengaken rawoehipoen Goesti Jesoes, preloe wonten rasoel oegi. ( Terjemahan bebas penulis: ”Pada waktu itu Sadrach mulai berkenalan dengan Gereja Kerasulan yang ada di Magelang. Guru Kristen Kerasulan yang pertama adalah orang Inggris yang berasal dari daerah Schot yang bernama Ds. E. Irving yang mendirikan gereja yang menganggap bahwa jabatan rasul ketika meninggalnya rasul-rasul Tuhan Yesus tidak hilang, tetapi pada jaman akhir diperlukan lagi jabatan rasul ”).

Sadrach dikenal oleh para pengikutnya sebagai sosok sederhana yang kental dengan budaya Jawa. Selain dikenal arif dan bijaksana juga dikenal sakti dan memiliki banyak ilmu kejawen. Soetarman Soedirman Partonadi menulis tentang Sadrach yang tertarik kesederhanaan Apostolische Kerk dalam bukunya:

… beberapa rasul di Belanda telah menerima wahyu dari Tuhan yang menyatakan Sadrach seharusnya ditunjuk sebagai rasul Jawa. Pandangan lain mengatakan bahwa karena Anthing juga telah ditahbiskan sebagai rasul di Apostolische Kerk, Sadrach semakin yakin akan kebenaran panggilan itu, lalu mengikuti jejak mantan gurunya.

Banyak kisah beredar di antara pengikutnya, bagaimana Sadrach memiliki kelebihan dibanding dengan orang-orang kebanyakan pada jamannya. Perkembangan Sadrach selanjutnya dicatat oleh Muller Kruger dalam bukunya.

Selanjutnya gerakan Sadrach itu menempuh djalannya sendiri. Beberapa tahun kemudian, jaitu pada tahun 1898, gerakan itu bergabung dengan bidat “Kerasulan”. Sadrach sendiri diangkat mendjadi “Rasul Djawa”. Djalan ini merupakan djalan jang satu-satunja bagi dia supaja diakui oleh pemerintah. Tetapi adjaran bidat itu tidak mempunjai arti apapun didalam gerakan itu.

Lebih jauh tentang Sadrach, Soetarman Soediman Partonadi mengatakan dalam bukunya: ”Kesederhanaan Apostolische Kerk dalam hal organisasi, jabatan gereja (mereka tidak menuntut latar belakang pendidikan teologi yang istimewa untuk menjadi seorang rasul atau pejabat gereja)”. Tata cara kebaktian yang sederhana mungkin merupakan faktor yang penting dan menarik bagi Sadrach, hal ini diulas kembali oleh Soetarman dalam bukunya: ”Sadar bahwa ia sendiri ”tak berpendidikan” seperti anggota-anggota jemaatnya, Sadrach sangat tertarik dengan Apostolische Kerk. Faktor lain yang mendukung keputusannya adalah perasaan direndahkan oleh kecurigaan para pekabar Injil Belanda,…”. Sadrach yang dikenal sebagai Rasul Jawa memang sangat terkenal di kalangan Gereja Kerasulan Baru. Tokoh yang dikenal sakti oleh para jemaatnya, banyak ilmu kejawen dan memiliki kharisma dihati para pengikutnya. Kembali Soetarman menyoroti hubungan antara Sadrach dengan Gereja Kerasulan yang menulis dalam bukunya.

Di sisi lain, hubungan antara Sadrach dengan Apostolische Kerk menjadi lebih formal, yang pada akhirnya mengakibatkan Sadrach ditahbiskan menjadi rasul Jawa. Apostolisch Kerk (yang dianggap suatu sekte) didirikan oleh pendeta Presbyterian Skotlandia, Edward Irving. Karena itu sekte ini kadang-kadang disebut Irvingisme.

Dalam perkembangan selanjutnya, Sadrach meninggal dunia, seperti yang dicatat Soetarman dalam bukunya: ”Pada tanggal 14 Nopember 1924 dalam usia lebih dari 90 tahun, tokoh besar dalam pekabaran Injil di Karangjasa, Radin Abas Sadrach Suropranoto meninggal dengan tenang di rumahnya”. Sepeninggal Sadrach, rasul Schmidt datang dari Cimahi untuk menanyakan anak angkat Sadrach yang bernama Yotham, apakah mau ditunjuk sebagai rasul. Soeparman kembali menulis dalam bukunya: ”Yotham tidak segera memberikan jawaban, tetapi meminta waktu untuk memperhitungkan tawaran itu. Beberapa hari kemudian Yotham menulis surat yang menyatakan bahwa ia tidak bersedia menjadi rasul,…”.

5. Pemangku Jawatan sebagai Pekerja di Gereja Kerasulan.

Pemangku adalah orang yang mengemban tugas. Jawatan adalah pelayanan yang dilaksanakan sesuai dengan tugas yang diberikan. Pemangku Jawatan adalah orang yang ditahbiskan dalam pelayanan yang dilaksanakan sesuai dengan tugas yang diberikan. Jawatan rohani adalah pelayanan yang dilaksanakan oleh penugasan ilahi dan di dalam Roh Kudus. Richard Fehr dalam bukunya mengatakan, ”Jawatan apakah yang dilembagakan oleh Tuhan Yesus dengan hal itu ?. Tuhan Yesus melembagakan jawatan Rasul, yaitu jawatan Roh”. Lebih lanjut Richard Fehr menjelaskan tentang apakah Jawatan itu: ”Tuhan Yesus Kristus hanya melembagakan satu Jawatan saja, yaitu Jawatan Rasul. Dari dalam Jawatan Rasul ini dilahirkanlah Jawatan-jawatan lain di dalam gereja-Nya”. Dalam Gereja Kerasulan dikenal Hirarki Pemangku Jawatan. Jawatan apa sajakah yang ada dalam Gereja Kerasulan, Richard Fehr kembali menulis sebagai berikut: ”Rasul Kepala, Rasul Distrik, Rasul, Uskup, Oudste Distrik (=Ketua Distrik), Evangelist Distrik, Oudste Sidang, Gembala (=Herder), Evangelist Sidang, Priester (=Imam), Diaken, Diaken Pembantu”. Mereka ditahbiskan sesuai dengan kebutuhan dan berasal dari karunia-karunia Roh yang beraneka macam. Di dalam sidang-sidang jemaat gereja awal para rasul memiliki pembantu-pembantu di dalam jawatan sebagai berikut : Diaken-diaken ( Kisah Para Rasul 6:3-6), Ketua-ketua (oudste), lihat ( Kisah Para rasul 15:2,4,6), Uskup-uskup (Kisah Para rasul pasal 20, pasal 28). Gereja-sidang jemaat gereja awal belum memiliki tertib Jawatan yang mapan. Baru dikemudian hari berkembanglah suatu tertib yang mapan berkenaan dengan Jawatan-jawatan gerejani.

B. Doktrin Gereja Kerasulan di Indonesia.

1. Tugas dan wewenang para Rasul di Gereja Kerasulan.

a. Rasul Kepala.

Rasul Kepala adalah ‘Kepala Gereja’ yang kelihatan dan nyata, serta di dalam segala macam soal kegerejaan merupakan lembaga yang tertinggi. Richard Fehr menjelaskan kedudukan Rasul Kepala dalam bukunya:

Rasul Kepala dianggap sebagai wakil Tuhan di atas bumi ini oleh semua anggota Gereja Kerasulan Baru, dan beliau sendiri senantiasa menyatakan dirinya sebagai penolong kepercayaan bagi para pemangku Jawatan dan saudara-saudarinya. Adalah kehendak Tuhan Yesus, agar gereja-Nya memiliki kepala yang kelihatan, yang kepadanya semua rasul dan semua percayawan menengadah (bandingkan dengan Yohanes 21:15-17). Oleh hal ini pekerjaan Tuhan dituntun kepada tujuan yang pasti dan manunggal.

Dari kalangan pada Rasul, seorang Rasul ditahbiskan ke dalam tugas Jawatan Rasul Kepala berdasarkan tanda Ilahi yang diungkapkan kepada Rasul Kepala yang masih aktif atau kepada para rasul. Rasul Kepala khususnya mendapat tugas untuk menciptakan dan mempertahankan persatuan dan kesatuan di dalam kalangan para Rasul, sebagaimana yang diperintahkan, di inginkan dan dimohonkan oleh Tuhan Yesus (Yohanes 15:17). Selanjutnya Rasul Kepala bertugas untuk menetapkan Pemangku-pemangku Jawatan tertentu menjadi seorang Rasul, mengabarkan pengajaran Kristus.

b. Para Rasul.

Pembantu-pembantu Rasul Kepala yang terdekat adalah para Rasul Distrik dan para Rasul yang diperbantukan kepadanya. Apakah tugas para rasul pada zaman sekarang ini, Richard Fehr kembali menulis dalam bukunya:

Seperti pada zaman para Rasul yang pertama, para pengemban tugas Jawatan Rasul pada masa kerampungan memiliki tugas-tugas :
– Mengkhotbahkan Injil Yesus Kristus tanpa dipalsukan.
– Sebagai terang dunia untuk menyebar-luaskan terang kebenaran ilahi.
– Mempertahankan kebaktian-kebaktian di dalam tertib ilahi.
– Membaptis dengan air.
– Mengampuni dosa-dosa.
– Membagikan Perjamuan Kudus di dalam roti tanpa ragi dan anggur.
– Memetaraikan dengan Roh Kudus.
– Mengelola gereja.
– Mentahbiskan Jawatan-jawatan yang diperlukan.
– Mengabarkan kedatangan Kristus kembali
– Menghimpun para pilihan dan menghantarkan pengantin perempuan
kepada Tuhan.

2. Liturgi yang digunakan Gereja Kerasulan.

Liturgika Kebaktian.

a. Doa Pembukaan.

Segera setelah berdiri di belakang mezbah pemimpin kebaktian hendaknya mohon sekali lagi pertolongan Allah yang istimewa di dalam sebuah doa yang pendek dengan mata tertutup, serta tidak bersuara. Richard Fehr dalam bukunya mengatakan: ”Pemimpin kebaktian memulai kebaktian dengan doa pembukaan : Di dalam Nama Allah Sang Bapa, Sang Putera dan Roh Kudus” (tanpa ”Amin”).

Richard Fehr menjelaskan dalam bukunya tentang doa pembukaan ini dengan mengatakan: ”Setiap Pemangku Jawatan haruslah menyadari, bahwa tidak semua yang timbul di dalam hatinya, dapat diucapkan. Oleh sebab itu doa hendaknya singkat, tetapi berbobot dan bertenaga”. Tuhan Maha mengetahui, Tuhan sangat mengenal anak-anak-Nya, Tuhan akan mendengarkan dan mengabulkan, juga apa yang tidak dikatakan, bila hal tersebut mendatangkan berkat. Doa pembukaan diakhiri dengan kata-kata kira-kira sebagai berikut : Berdasarkan kehendak Tuhan Yesus (PuteraMu yang kekasih) ”atau” Di dalam Nama Tuhan Yesus. Amin !”.

b. Pembacaan Nas Alkitab.

Sebagai dasar untuk kebaktian digunakan firman di dalam Alkitab yang disebutkan di dalam ”Berita Jawatan” atau yang diberikan oleh Rasul Distrik. Segera setelah doa pembukaan nas Alkitab dibacakan dengan nyaring dan jelas.

c. Penyampaian firman (khotbah).

Kehendak Allah yang sesuai dengan keadaan dan waktu dikabarkan di dalam kebaktian melalui khotbah. Ini adalah suatu tugas yang penuh tanggung jawab dan berlimpah berkat, yang jangkauannya harus disadari oleh setiap Pemangku Jawatan. Richard Fehr mengatakan dalam bukunya: ”Semakin yang melayani menjadi alat yang menyenangkan dalam tangan Allah dan membiarkan diri dituntun sepenuhnya oleh dorongan Roh Kudus, maka pelayanannya akan semakin penuh berkat”.

d. Membantu melayani.

Bila Pemangku Jawatan yang hadir banyak, pemimpin kebaktian meminta beberapa Jawatan untuk membantu melayani. Waktu membantu melayani ditentukan sedemikian rupa, sehingga waktu kebaktian yang telah ditentukan tidak terlampaui. Dalam bukunya Richard Fehr menulis tentang khotbah yang melayani: ”Mengkritik dan mengoreksi khotbah yang telah disampaikan adalah tidak pada tempatnya dan hanya mengungkapkan, bahwa yang membantu melayani tersebut tidak timbul dari Roh Kristus”. Di dalam kebaktian semua hendaknya ditujukan untuk kepujian dan kehormatan Allah; oleh sebab itu tidaklah pada tempatnya untuk memuji-muji perihal apa yang telah dikatakan atau yang telah melayani.

e. Membantu melayani oleh para Diaken Pembantu.

Richard Fehr berbicara tentang pelayanan oleh diaken dengan mengatakan: ”Diaken dan Diaken Pembantu dari waktu ke waktu dapat diminta untuk membantu melayani, walaupun jawatan-jawatan keimaman yang lain hadir”. Adalah baik, jika Diaken dan Diaken Pembantu sewaktu-waktu mendampingi seorang Priester di dalam suatu sidang jemaat yang kekal, bila di sana Priester tersebut ditugaskan sebagai pemimpin kebaktian.

f. Persiapan perayaan Perjamuan Kudus.

Adalah sangat penting, bahwa pemimpin kebaktian mempersiapkan sidang jemaat, agar dapat menikmati Perjamuan Kudus dengan kepatutan dan senantiasa menunjukkan kembali akan arti sekramen ini. Sangat dianjurkan untuk senantiasa menunjukkan pada kalimat-kalimat tertentu di dalam doa ”Bapa Kami”. Selanjutnya hendaknya senantiasa ditunjukkan kembali kepada para peserta kebaktian perbedaan-perbedaan antara pengampunan dosa dan perayaan Perjamuan Kudus.

g. Perayaan Perjamuan Kudus secara umum.
– di dalam kebaktian-kebaktian hari Minggu.
– di dalam kebaktian-kebaktian pada hari-hari raya gerejani.
– di semua kebaktian Rasul.
– di dalam kebaktian-kebaktian, di mana dilaksanakan Baptisan Suci
dengan air, Penerimaan (Adopsi dan Konfirmasi).
– di dalam setiap kebaktian tengah minggu.

h. Tata cara perayaan Perjamuan Kudus.

Setelah khotbah, sidang jemaat berdoa “Bapa Kami”. Di dalam doa Yesus ini, yang mencakup segalanya, sebagai anak-anak Allah kita membuka jiwa kita kepada Tuhan. Tentang pengampunan dosa Richard Fehr menulis dalam bukunya:

Kemudian pemimpin kebaktian mengabarkan pengampunan dosa dengan kata-kata: Demi tugas pengutus dan Rasulku, kukabarkan kepadamu kabar yang menggembirakan: di dalam Nama Tuhan Yesus Kristus Sang Putera Allah yang hidup dosamu telah diampunkan, serta damai dari Yang Bangkit dari wafatnya menyertaimu. Amin.

Sewaktu pemimpin kebaktian memanjatkan doa setelah firman Pengampunan dosa, Pemangku Jawatan yang telah ditentukan membuka piala Perjamuan Kudus. Doa yang selanjutnya hendaknya berisi pujian dan ucap syukur dan juga permohonan dan doa perantara. Untuk itu secara khusus pemimpin kebaktian memohonkan berkat untuk kurban yang telah dipersembahkan. Perjamuan Kudus adalah sesuatu yang sakral. Richard Fehr mengingatkan dalam bukunya: “Adalah penting, bahwa senantiasa ditunjukkan kembali akan arti Perjamuan Kudus, agar dapat dinikmati dengan kepatutan”. Meskipun penikmatan Perjamuan Kudus dilakukan hari Minggu dan hari Rabu, tidak boleh ia dijadikan sebagai kebiasaan atau dinikmati secara dangkal.

i. Doa penutup.

Pada akhir kebaktian sidang jemaat menghadap sekali lagi ke hadirat Tuhan. Sebagai penyambung lidah pemimpin kebaktian mempersembahkan ucap syukur kepada Tuhan dengan kata-kata yang mesra, di mana Umat-Nya telah dilayani dan diberkati lagi. Sidang jemaat diserahkan ke dalam perlindungan Yang Mahakuasa, baik untuk perjalanan pulang maupun untuk masa-masa yang akan datang, agar semuanya tetap terlindung di dalam roh, jiwa dan tubuh. Pemimpin kebaktian mengakhiri doa tersebut dengan “Amin”.

j. Berkat penutup.

Setelah doa penutup segera disusul dengan berkat penutup:
“Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus dan kasih Allah dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian. Amin”

k. Akhir kebaktian.

Kebaktian berakhir dengan satu nyanyian paduan suara atau nyanyian terakhir yang ditentukan oleh pemimpin kebaktian, yang dinyanyikan sidang jemaat.

l. Perpisahan/meninggalkan gereja.

Pemimpin kebaktian mohon diri dari sidang jemaat dengan kata-kata yang mesra. Sesuai dengan kebiasaan-kebiasaan setempat, para Pemangku Jawatan memberi kesempatan kepada saudara dan saudari untuk bersalaman. Permainan organ dan/atau orkes; pada kebaktian-kebaktian agung juga nyanyian paduan suara, menyukakan para pendengar selama bersalaman tersebut.

3. Kebaktian Istimewa di Gereja Kerasulan.

a. Secara umum.

Richard Fehr menjelaskan tentang Kebaktian Istimewa dalam bukunya yang mengatakan: ”Selain kebaktian-kebaktian biasa, ada juga kebaktian untuk mereka yang telah wafat”. Adalah suatu kewajiban yang suci bagi para Pemangku Jawatan, untuk mempersiapkan saudara-saudari terlebih dahulu untuk kebaktian tersebut. Meskipun jiwa-jiwa dari alam barzah (tempat sementara bagi roh orang yang sudah meninggal) diundang dan hadir pada setiap kebaktian, suatu penyucian yang khusus hendaknya terjadi sebelum kebaktian istimewa berlangsung. Hal ini membutuhkan doa-doa perantara yang terus menerus bagi para jiwa yang terbelenggu.

Lebih lanjut Richard Fehr menjelaskan tentang mereka yang sudah meninggal: ”Di dalam gereja awal telah dimulai untuk memperantarakan dan mewakili mereka yang telah mati untuk mempersilahkan mereka ambil bagian dalam tindakan-tindakan kemurahan (bandingkan dengan I Korintus 15:29; II Timotius 1:16-18)”. Tuhan Yesus mempercayakan kunci kerajaan sorga kepada Rasul Petrus. Berdasarkan kuasa kunci ini Rasul Kepala senantiasa menggunakannya, agar para jiwa dapat dihantarkan pada mezbah kemurahan di dalam Jawatan Rasul Kepala dan Rasul, di mana mereka sesuai dengan keadaan jiwa mereka menerima pemberkatan yang ada di dalam rumah Allah yaitu Baptisan Suci dengan Air, Kemeteraian Suci dan Perjamuan Kudus.

b. Pelaksanaan.

Kebaktian Istimewa dilaksanakan oleh Rasul Kepala/Rasul Distrik/ Rasul. Richard Fehr menjelaskan cara menolong mereka yang sudah ada di alam barzah:
Setelah perayaan Perjamuan Kudus dengan sidang jemaat, Rasul Kepala/Rasul Distrik/Rasul yang ditugaskan memberikan kepada dua orang Pemangku Jawatan yang ditentukan sebagai wakil jiwa-jiwa yang telah mempersiapkan diri dari alam barzah sakramen-sakramen:
– Baptisan Suci dengan Air.
– Kemeteraian Suci.
– Perjamuan Kudus.

Kemudian sidang jemaat atau paduan suara menyanyikan sebuah nyanyian yang sesuai. Lalu diikuti dengan doa penutup dengan berkat penutup. Kalau kebaktian Istimewa dilakukan oleh pemimpin kebaktian yang lain, setelah perayaan Perjamuan Kudus dan penerangan singkat pemimpin kebaktian di dalam doa menghantarkan jiwa-jiwa yang di alam barzah oleh pelayanan malaikat kepada belas kasihan Kristus pada mezbah kemurahan dari Rasul Kristus. Kemudian sidang jemaat atau paduan suara menyanyikan sebuah nyanyian yang sesuai. Lalu di ikuti dengan doa penutup dengan berkat penutup.

4. Pengajaran para Rasul pada Gereja Kerasulan.

Para rasul mengajarkan bahwa Gereja Kerasulan adalah Gereja Tuhan Yesus Kristus, yang sama dengan sidang-sidang jemaat pada masa rasul-rasul awal. Sebagai pekerjaan kelepasan Tuhan yang telah didirikan kembali, yang diperintah dan dituntun oleh Roh Kudus. Richard Fehr menjelaskan dalam bukunya tentang Gereja Kerasulan:

Di dalam Gereja Kerasulan ini, yang adalah persekutuan antara para rasul, para pemangku jawatan dan para anggotanya dengan Tuhan Yesus Kristus, maka kasih dan kemenurutan kepercayaan yang menjadi tenaga pendukung dari segala tindakan dan usaha. Roh Kristus sendiri adalah tenaga hidup dari semua jiwa yang telah dilahirkan baru di dalam Kristus.

Firman Allah yang dinyatakan oleh Roh Kudus membangkitkan kepercayaan akan Allah yang abadi, akan Putera-Nya Yesus Kristus, akan Roh Kudus dan akan Gereja Tuhan beserta dengan sekramen-sekramennya dan karunia-karunia Jawatan. Tujuan pengajaran kepercayaan Kerasulan adalah mempersiapkan jiwa-jiwa yang percaya bagi kedatangan Tuhan Yesus kembali. Di dalam Gereja Kerasulan pekerjaan kelepasan yang telah dimulai oleh Tuhan Yesus, dirampungkan oleh para rasul. Dengan demikian tergenapkanlah tugas yang diberikan Tuhan Yesus kepada para rasul-Nya: ”Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir dunia ini”. (Matius 28:19-20 – Alkitab Jerman). Oleh firman yang dibangkitkan oleh Roh jiwa-jiwa yang percaya dipersiapkan untuk hidup kekal. Di dalam persekutuan yang erat dengan para Pemangku Jawatan dan oleh penerimaan sakramen-sakramen dengan kepercayaan, maka setiap jiwa yang mencari kemurahan berkemungkinan untuk mencapai tujuan yang telah dijanjikan Tuhan Yesus. Kelepasan manusia adalah pembebasan jiwa dari salah dan dosa oleh jasa kurban Kristus (Roma 3:24) dan persiapan ciptaan yang baru oleh kelahiran baru dengan air dan Roh.

5. Alkitab yang digunakan Gereja Kerasulan.

Gereja Kerasulan menggunakan Alkitab seperti yang digunakan agama Katholik, yaitu ada sisipan Kitab Deuterokanonika di antara Kitab Perjanjian Lama dan Kitab Perjanjian Baru. Kitab Deuterokanonika juga disebut dengan Kitab Apokrif. Richard Fehr menjelaskan: ”Kata ’Apokrief’ berarti kitab-kitab yang tersembunyi. Yang dimaksudkan dengan hal ini adalah kitab-kitab yang tidak mendapat pengakuan penuh sebagai Kitab Suci”. Hal ini sebagian disebabkan oleh perselisihan-perselisihan di antara aliran-aliran agama Yahudi, tetapi kemudian juga berdasarkan beberapa konferensi gereja-gereja yang menyusul. Dr. Martin Luther dengan beberapa pengecualian telah menyalin kitab-kitab Apokrief ini kedalam Bahasa Jerman, dan menerangkannya sebagai kitab-kitab ’yang tidak dapat dipersamakan dengan Alkitab, akan tetapi bermanfaat dan baik sekali untuk di baca’

6. Upacara-upacara di Gereja Kerasulan.

Upacara yang dimaksud adalah mengenai Sakramen-sakramen. Sakramen-sakramen adalah tindakan-tindakan yang suci, yang olehnya Allah mengadakan perjanjian dengan manusia dan mempersambungkan dengan manusia. Sakramen-sakramen ini diberikan oleh hamba-hamba Allah dan membentuk dasar untuk menjadi anak Allah. Dalam Gereja Kerasulan terdapat tiga sakramen yaitu :

a. Baptisan Suci dengan air.

Baptisan Suci adalah sebagian dari kelahiran baru dan syarat mutlak yang dibutuhkan untuk dapat menerima Roh Kudus. Selanjutnya Baptisan Suci adalah Perjanjian dari hati yang suci dengan Allah (Yohanes 3:5; 1 Petrus 3:21). Richard Fehr mengatakan dalam bukunya: ”Berkaitan dengan Baptisan Suci dengan air ini adalah juga penghapusan dosa-dosa warisan, yang ditimbulkan oleh kejatuhan Adam dan Hawa ke dalam dosa, yang menyebabkan dosa warisan umat manusia.” Di dalam pelaksanaan Baptisan Suci dengan air, Allah membukakan jalan yang menuju kepada kelepasan yang sempurna bagi manusia oleh jasa kurban Yesus Kristus. Baptisan yang dilakukan di dalam nama Allah Tritunggal oleh perkumpulan-perkumpulan kristiani lain, diakui oleh Gereja Kerasulan sebagai sakramen yang berlaku.

b. Perjamuan Suci.

Perjamuan Suci atau Perjamuan Kudus lebih dilembagakan oleh Tuhan Yesus sendiri sebagai peringatan akan kurban-Nya yang tunggal dan sempurna, dan akan kesengsaraan serta kematian-Nya yang teramat pahit (Matius 26:26-28; Lukas 22:19-20). Penikmatan Perjamuan Suci dengan kepatutan mempertahankan hidup kekal jiwa dan memberi jiwa jaminan tetap tinggal di dalam Yesus dan Yesus di dalamnya, dan persekutuan hidup yang erat dan mesra dengan Yesus Kristus Tuhan kita (Yohanes 6:51-58). Orang-orang Kristen Kerasulan menghayati Perjamuan Suci tidak hanya sebagai perayaan peringatan saja, lebih dari itu Sang Putera Allah, yang di ingat oleh para percayawan, ada di tengah-tengah mereka. Selain itu Perjamuan Suci adalah suatu perayaan kesukaan, suatu puja-puji dan suatu ucap syukur. Berdasarkan Matius 26:27 dan 1 Korintus 11:24 berkembanglah pada zaman orang-orang Kristen yang pertama nama ”Ekaristi”(=terima kasih). Sebagaimana Tuhan Yesus mengambil roti dan anggur dan mengucap syukur, demikianlah sidang jemaat datang kepada Allah dengan roti dan anggur untuk memuji-Nya dan berterima kasih kepada-Nya atas jasa kurban Putera-Nya.

c. Kemeteraian Suci dengan Roh Kudus.

Apakah yang dimaksud dengan Kemeteraian Suci, Richard Fehr menjelaskan:
Kemeteraian Suci adalah pemberian Roh Kudus, yaitu bagian yang terpenting dari kelahiran baru (Kisah Para Rasul 8:14-17; Efesus 1:13-14; 4:30). Kemeteraian Suci adalah dasar pembaharuan yang sempurna dari manusia batiniah (Roma 8:9; II Korintus 5:17; Wahyu 21:5. Oleh Kemeteraian Suci seorang manusia menjadi anak Allah dengan hak atas warisan Kristus (Roma 8:17). Dengan demikian pemilikan Roh Kudus adalah jaminan untuk kemuliaan abadi (Yohanes3:5; Efesus 2:17-20). Kemeteraian Suci juga dinamakan:
– Baptis Roh dan api (Matius 3:11; Kisah para Rasul 1:5).
– Pengurapan Suci (II Korintus 1:21-22).

Sebagaimana di gereja awal, begitu juga di dalam Gereja Kerasulan para rasul bekerja untuk memberikan Roh Kudus (II Korintus 3:6,8). Richard Fehr menjelaskan siapa yang dapat menerima Roh Kudus.

Orang yang dapat menerima Roh Kudus adalah orang yang siap sedia dan berkeinginan untuk menerima Roh Kudus dan haruslah memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
– Ia harus sudah menerima baptisan dengan air.
– Ia harus, oleh firman yang berasal dari khotbah memperoleh
kepercayaan pada pengajaran para Rasul.
– Ia harus menerima pengampunan atas dosa-dosanya.
– Ia harus mengakui dan berkeputusan untuk menyesuaikan hidupnya
dengan dasar-dasar pengajaran para rasul, yang adalah pengajaran
Tuhan Yesus.

Anak-anakpun menerima Roh Kudus oleh tumpangan tangan seorang Rasul. Pada diri anak-anak, maka pengakuan ini, telah diwakili orang tuanya pada saat Baptisan Suci, untuk tanggung jawab mendidik anaknya di dalam pengajaran para rasul.
Sebagai bukti yang meyakinkan bahwa Tuhan telah menetapkan ketiga sekramen ini terdapat di dalam tiga hal yang bekerja sebagaimana hal ini didasari oleh ketritunggalan Allah: ”Inilah Dia yang telah datang dengan air dan darah, Yaitu Yesus Kristus, bukan saja dengan air, tetapi dengan air dan dengan darah. Dan Rohlah yang memberi kesaksian, karena Roh adalah kebenaran. Sebab ada tiga yang memberi kesaksian di dalam Surga: Bapa, Firman dan Roh Kudus; dan ketiganya adalah satu. Dan ada tiga yang memberi kesaksian di bumi: Roh dan air dan darah dan ketiganya adalah satu” (1 Yohanes 5:6-8). James A.Griffin menulis tetang Roh Kudus:

”Roh Kudus” adalah nama yang diberikan kepada pribadi ketiga dalam Tritunggal Mahakudus oleh Yesus sendiri (Mat.28:19). Dia adalah napas Allah yang memberikan kehidupan . Dia juga disebut ”Paracletus” karena Dia merupakan pembela kita dihadapan Bapa. Dia disebut ”Roh Kebenaran” karena Dia merupakan sumber semua kebenaran lewat para murid Yesus, dengan mengingatkan mereka ”segala sesuatu yang diajarkan oleh Yesus”.

7. Sikap Gereja Kerasulan yang eksklusif.

Seorang rasul dari Gereja Kerasulan mengatakan dalam tulisannya,”Tidak ada anak Allah yang akan tersesat, apabila mereka dengan setia mengikuti Rasul Kepala dan para rasul”. Hal ini dikuatkan dengan pernyataan penulis buku yang sama yang mengatakan:
Dalam semua peperangan, pengujian, pencobaan dan dalam memenuhi kewajiban-kewajiban hidup kita, kemenangan itu terbatas oleh luasnya kesempatan yang kita berikan kepada Roh Kudus untuk menggenapi tujuan-Nya di dalam jiwa kita. Di luar kepercayaan ini tidak ada kemenangan. Di mana tidak ada kemenangan, tidak ada Roh Kudus – dan juga tidak terdapat hidup yang kekal; karena Yesus dan Pekerjaan Keselamatan-Nya serta Roh Kudus-Nya tidak dapat dipisahkan – dan tidak ada jalan lain lagi yang diberikan.

Dikatakan eksklusif karena pandangan Gereja Kerasulan yang menekankan bahwa pengajaran Gereja Kerasulan adalah yang paling benar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s