Mengenal sistem pembelajaran masyarakat Yahudi

Sistem pembelajaran dalam masyarakat Yahudi adalah sistem pengelompokan umur. Ketika anak-anak sudah berumur 5 tahun, maka ia sudah bisa diajar tentang kitab suci atau Alkitab, meskipun sejauh mendengarkan ceritera atau penuturan ayahnya, atau dilakukan secara verbal.  Pada umur 10 tahun, mereka diajar tentang Mishna (repetisi). Mishna adalah dasar-dasar pengajaran dan menjadi bagian dari kitab Talmud yang berisi tulisan-tulisan para pemimpin agama Yahudi. Mishna juga masih diajarkan secara verbal oleh seorang rabi (guru) kepada murid.

Pada umur 13 tahun, anak-anak Yahudi diajarkan tentang hukum-hukum Tuhan (10 Hukum). Lalu pada usia 15 tahun, mereka diajarkan tentang Talmud.

Pada umur 18 tahun, remaja-remaja Yahudi diajarkan tentang bagaimana mendapatkan seorang isteri. Pada era Perjanjian Lama, sistem pembelajaran Yahudi hanya ditujukan untuk kaum pria, sedangkan anak-anak perempuan akan diajar oleh ibu mereka mengenai tugas-tugas wanita dalam sebuah rumah tangga.

Pada umur 20 tahun, pemuda-pemuda Yahudi didorong untuk suatu panggilan.

Pada umur 30 tahun, pemuda Israel diajar untuk otoritas. Apakah karena itu, maka Yesus mulai melakukan pekerjaan-Nya? yang disesuaikan dengan tradisi yang berlaku di Israel pada waktu itu? Kemungkinan besar adalah begitu.

Pada umur 40 tahun untuk penajaman pemikiran. Pada usia 50 tahun untuk menjadi anggota konsil, mungkin setara anggota DPR di Indonesia saat ini. Pada umur 60 tahun menjadi tua-tua (elder). Terakhir pada umur 70 tahun untuk rambut putih dan kekuatan khusus.

Perlu juga kita ketahui, bahwa sesuai tuntunan Taurat, maka setiap hari seorang kepala rumah tangga diseyogyakan mengajari keluarganya untuk merenungkan Taurat Tuhan.

Jika sistem pembelajaran Yahudi ini dibandingkan dengan kebiasaan orang-orang Kristen saat ini, mungkin kita perlu merasa malu. Sebab ada gereja yang kurang mendorong jemaat untuk mempunyai waktu setiap hari untuk merenungkan Firman Tuhan, seperti tradisi Yahudi tersebut. Malah tidak sedikit yang membaca kitab suci hanya satu kali dalam seminggu, yaitu saat mengikuti ibadah. Yang lebih parah lagi adalah gereja yang tidak menganjurkan jemaat membawa dan membaca kitab suci dalam suatu ibadah atau kebaktian.

Jika bangsa Yahudi diberkati lebih, oleh sebab mereka patuh untuk merenungkan Firman Tuhan siang dan malam, maka kita tidak perlu mengeluh jika merasa kurang diberkati Tuhan, apabila selama ini memang kita kurang melakukan ibadah harian kepada Tuhan.

Sumber: Ceramah Dr. Marulak Pasaribu

4 thoughts on “Mengenal sistem pembelajaran masyarakat Yahudi

  1. saya ras kita tdk perlu mersa malu karena sistem pengajaran ank hingga dewasa di sistem pengajaran kerohanian kami bahkan lebih dini : di usia 2-4 tahun kami ajarkan Pra sekolah atau level PAUD/TK minggu (mendengar cerita,,di ajar berdoa) kemudian di usia 5 – 10 tahun Sekolah minggu Level SD ( di sini mulai di ajarkan ttg sejarah 2 para nabi dll yg ada dlm alkitab)bahkan mulai di ajarkan membuka Alkitab. dan di usia 11 – 13 Sekolah Agama I ( level SMP) di sini di ajarkan pendalaman di level sebelumnya, sejarah,Alkitab dll) kemudian Sekolah Agama II ini di usia 15 – 16 tahun dan sekolah agama III ( Level SMA ) di sini di ajarkan sejarah pendalam alkitab,bahkan menata hidup sebagai seorang remaja, bagai mana bersosialisasi kepada lingkungan dengan mencerminkan keteladanan kristus. kemudian ke level Katekisasi di mana di level ini lebih di pertajam ttg alkitab,Doktrin, gaya hidup,juga termasuk mencari pasangan hidup bahkan untuk sampai kepada bagaimana cara mendidik Anak anak sekolah minggu yang semuanya berorientasi pada pengajaran Yesus. dan di usia yg sudah matang melalui proses itu memungkinkan untuk di promosikan/pengkaderan untuk seornag pelayan(diaken) dan di level ini seringkali di adakan pelatihan pelatihan (DIKLAT) malaman/kebaktian khusus para pelayan. yg hasilnya memungkinkan untuk level selanjutnya. jadi kita tdk perlu merasa malu. hanya membaca kitab yg perlu intens.
    Salam Damai sejajh tera bersama Dia yang telah bangkit dari wafatnya.

  2. Saya sangat setuju dengan cara orang Yahudi bahwa mereka mengajarkan firman Tuhan kepada anaknya sejak dini. Dan saya membaca dan merenungkan firman Tuhan itu sungguh memberkati hidup orang yang percaya, karena firman itu dapat mengubahkan dan menjadikan orang kedalam kebenaran. Tetapi mengapa anak-anak orang Kristen itu sulit untuk beribadah apalagi membaca Alkitab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s