Iman dan kesabaran


Seekor burung rajawali memiliki sepasang sayap dan dia harus menggunakan kedua sayapnya untuk bisa terbang tinggi. Sekuat apapun burung ini, jika hanya menggunakan salah satu dari kedua sayapnya, ia tidak mungkin dapat terbang, tetapi hanya bisa berputar-putar.

Iman dan kesabaran juga bagaikan sepasang sayap rajawali. Jika seseorang memiliki iman, namun ia tidak mempunyai kesabaran, maka sulit baginya untuk mencapai kenaikan level rohaninya.

Abram adalah seorang yang dikemudian hari menjadi “bapa” dari orang-orang percaya. Ini merupakan status khusus, yang untuk mencapai tingkatan rohani sekelas ini, Tuhan mengujinya sedemikian rupa yakni dalam hal iman dan kesabaran.

Alkisah, Tuhan berbicara kepada Abraham, dan menjanjikan akan memberinya keturunan yang seperti pasir banyaknya. Dan Abraham percaya saja kepada janji Tuhan tersebut. Tetapi iman Abraham yang ternyata dengan rasa percaya – yakni pengakuan yang timbul dari dalam hatinya bahwa janji Tuhan itu benar – harus diuji juga dengan kesabaran.

Pastilah Tuhan tahu kapan Abram benar-benar sudah memiliki iman, barangkali saat Tuhan mulai menjanjikan itu, ataukah dalam hari yang sama, ataukah dalam satu minggu setelah pengucapan janji Tuhan, atau jugakah dalam tahun pertama lelaki itu mendengar janji Tuhan.

Taruhlah bahwa di hari ketika Tuhan mengucapkan janji-Nya kepada Abraham, maka Abraham sudah memiliki iman kepada Tuhan, dan anggaplah juga bahwa selama setahun penuh itu Abraham masih tetap bertahan dengan imannya, tetapi bagaimana dengan tahun kedua, ketiga, keempat, kesepuluh dan seterusnya, ketika janji Tuhan tidak kunjung digenapi?

12:1. Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: “Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu;

12:2 Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat.

12:3 Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.”

12:4. Lalu pergilah Abram seperti yang difirmankan TUHAN kepadanya, dan Lotpun ikut bersama-sama dengan dia; Abram berumur tujuh puluh lima tahun, ketika ia berangkat dari Haran.

12:5 Abram membawa Sarai, isterinya, dan Lot, anak saudaranya, dan segala harta benda yang didapat mereka dan orang-orang yang diperoleh mereka di Haran; mereka berangkat ke tanah Kanaan, lalu sampai di situ. (Kejadian 12:1-5).

Di (ayat 2) Tuhan mulai berjanji kepada Abram, dan saat itu usia Abram adalah 75 tahun (ayat 4) dan Sarai 65 tahun. Sekarang kita lihat kisah berikut:

16:1. Adapun Sarai, isteri Abram itu, tidak beranak. Ia mempunyai seorang hamba perempuan, orang Mesir, Hagar namanya.

16:2 Berkatalah Sarai kepada Abram: “Engkau tahu, TUHAN tidak memberi aku melahirkan anak. Karena itu baiklah hampiri hambaku itu; mungkin oleh dialah aku dapat memperoleh seorang anak.” Dan Abram mendengarkan perkataan Sarai.

16:3 Jadi Sarai, isteri Abram itu, mengambil Hagar, hambanya, orang Mesir itu, –yakni ketika Abram telah sepuluh tahun tinggal di tanah Kanaan–,lalu memberikannya kepada Abram, suaminya, untuk menjadi isterinya.

16:4. Abram menghampiri Hagar, lalu mengandunglah perempuan itu. Ketika Hagar tahu, bahwa ia mengandung, maka ia memandang rendah akan nyonyanya itu (Kejadian 16:1-4).

Setelah sepuluh tahun menerima janji Tuhan, maka rupa-rupanya Sarai sudah tidak tahan, atau mungkin terpikir olehnya bahwa Tuhan sudah lupa atau tidak peduli lagi kepada janji-Nya, sehingga ia mengambil inisiatif untuk memberikan Hagar, budak Mesirnya, untuk diperisteri Abram (ayat 3). Tidak berapa lama kemudian, Hagar mengandung anak Abram (ayat 4), dan kurang dari satu tahun, lahirlah Ismael, lebih kurang 11 tahun setelah janji Tuhan kepada Abram.  Lalu kapan Tuhan menggenapi janji-Nya?

21:1. TUHAN memperhatikan Sara, seperti yang difirmankan-Nya, dan TUHAN melakukan kepada Sara seperti yang dijanjikan-Nya.

21:2 Maka mengandunglah Sara, lalu ia melahirkan seorang anak laki-laki bagi Abraham dalam masa tuanya, pada waktu yang telah ditetapkan, sesuai dengan firman Allah kepadanya.

21:3 Abraham menamai anaknya yang baru lahir itu Ishak, yang dilahirkan Sara baginya.

21:4 Kemudian Abraham menyunat Ishak, anaknya itu, ketika berumur delapan hari, seperti yang diperintahkan Allah kepadanya.

21:5 Adapun Abraham berumur seratus tahun, ketika Ishak, anaknya, lahir baginya (Kejadian 21:1-5)

Ishak lahir ketika usia Ismael 14 tahunan, atau 25 tahun sesudah Tuhan mengucapkan janji-Nya kepada Abram atau Abaham, dimana saat itu Sarai sebenarnya sudah “layu”.

Ternyata iman Abram juga diuji dengan waktu, sehingga dibutuhkan kesabaran untuk dapat berhasil melewati “lautan” waktu. Kisah ini menunjukkan keberhasilan Abram mempertahankan imannya selama mengarungi “lautan” waktu sampai Tuhan benar-benar menggenapi janji-Nya, pada waktu-Nya, yang tidak terlambat, namun juga tidak terlalu cepat, sampai iman Abraham telah menjadi matang. Dan kelulusan Abram melayakkannya menjadi bapa orang beriman.

Salam.

2 thoughts on “Iman dan kesabaran

  1. Syalom!!
    Saya ada sedikit pertanyaan, perihal ketaatan Abraham. Kita salut atas iman Abraham perihal ketaatannya kepada Tuhan waktu mengorbankan anak tunggalnya, maupun penyelesaian masalah hambanya dengan hamba Lot. Tetapi, kenapa dia tidak sabar dengan janji Tuhan sehingga dia mengawini Hagar, hamba Sara.

    Dhana

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s