Apa ruginya mati berhutang?


Tulisan ini tidak membahas soal hutang duit ataupun harta dunia lainnya. Tetapi tentang ‘hutang’ lain, yang justru jauh lebih buruk akibatnya dari sekedar hutang harta, karena kalau hutang duit dapat dilunaskan oleh ahliwaris, tetapi ‘hutang’ yang lain ini masih menjadi polemik mengenai: apakah bisa dilunasi oleh orang lain?

Kitab Suci dengan jelas ‘mengajar’ kita bahwa setiap dosa pada hakikatnya adalah sebuah hutang. Versi Perjanjian Lama berkata: hutang nyawa bayar nyawa, gigi ganti gigi. Artinya: jika seseorang dengan sengaja menghilangkan nyawa orang lain karena sesuatu kebencian atau karena sikap permusuhan, maka kasus seperti ini merupakan dosa yang disengaja, dan pelakunya menanggung ‘hutang darah’ dan hanya dapat impas dengan menjalani hukuman mati. Tetapi apakah dengan menjalani hukuman mati, lantas semua dosanya yang lain (baca = hutang) juga ikut lunas? Tidak adal ayat yang menjamin untuk soal ini.

Contoh lain. Jika seseorang menonton video porno, seperti kasus Arifinto, salah seorang anggota DPR dari fraksi PKS yang kepergok menonton video haram justru ketika sedang berlangsung sidang Paripurna DPR. Sangat sulit untuk menjelaskan bahwa dari tontonan tersebut tidak menimbulkan hasrat ‘zinah’ walau hanya di dalam hati, dan kalau hal ini dihubungkan dengan ajaran tentang perzinahan versi Yesus Kristus, maka ini termasuk dosa, termasuk hutang juga yang jika tidak dibereskan akan membuat pelakunya terus ditempeli hutang dosa perzinahan dengan ancaman hukuman sesuai perintah Hukum Taurat.

Kitab Suci mencatat banyak hal yang termasuk perbuatan-perbuatan dosa. Ini dapat menjadi sebuah daftar yang sangat panjang.

Mencuri, korupsi, membunuh, tidak menghormati orangtua, tidak menghormati ‘Hari Sabbat’ , mengingini harta orang lain, mengingini isteri orang lain, dan seterusnya,… itu hanya sebagian kecil daftar dosa atau ‘daftar hutang’.

Kitab Suci lebih jauh lagi mengajarkan bahwa Sorga adalah tempat Mahasuci, dimana sebuah jejak dosa sebesar ‘zarrah’ atau sebesar setitik debu tidak boleh terbawa masuk. Apalagi jika itu merupakan jejak dosa-dosa fatal.

Setiap hutang dosa yang belum lunas, secara PASTI akan dibawa ke Pengadilan Besar, yaitu di Hari Penghakiman dimana Yesus Kristus dengan segala kemuliaan-Nya akan berdiri sebagai Hakim Agung, dan ‘semua orang’ akan diadili oleh Yesus Kristus, entahkah mereka atheis, Kristen, Islam, Hindu, Budha, Khong Hu Chu dan lain sebagainya.

Tetapi bagaimana caranya agar setiap ‘hutang’ dosa dapat dilunaskan selagi seseorang masih hidup? Mempercaya ajaran yang ‘kira-kira’ akan merugikan diri sendiri.

“Perbuatan baik akan menutupi dosa, perbuatan baik akan menebus dosa.”  Kalimat-kalimat tersebut adalah “Ajaran kira-kira” , karena memang Alkitab tidak mengajarkan bahwa perbuatan baik seseorang dapat menebus dosanya. Jika ajaran tersebut benar, maka beruntung orang yang banyak berbuat amal baik, tetapi jika ‘ajaran kira-kira’ hanya perkiraan manusia yang kebenarannya tidak diakui Tuhan, maka manusia penganut ajaran itu akan rugi. Lagipula, jika perbuatan baik dapat menghapus dosa, maka Pengorbanan Yesus tidak perlu,…

Tetapi ajaran yang PASTI adalah ajaran yang datang dari Allah sendiri. Kitab Musa mencatat perintah Allah soal berbagai jenis dosa, dan bagaimana ‘membayarnya’ .

Sangat beruntung adalah umat Kristen, lantaran sudah diberi cara untuk memperoleh penghapusan dosa yang SESUAI FIRMAN Tuhan.

Percaya bahwa Yesus telah mati menebus dosa kita yang percaya dan melakukan sabda-Nya, maka dosa-dosa kita benar-benar dihapus dengan Korban Yesus.

Mengampuni SEMUA kesalahan SEMUA orang adalah perintah Yesus, yang jika seseorang yang percaya kepada Yesus Kristus Sang Penebus melakukan itu (mengampuni semua orang oleh karena mengingat pesan Yesus itu) maka betul-betul semua dosa dan jejak dosanya sudah dihapus, dan ini bukan ajaran kira-kira, melainkan SEBUAH KEPASTIAN!

Tetapi ada satu hal yang dapat mengecoh orang Kristen, yaitu sikap sombong. menyembunyikan dosa adalah sebuah perbuatan yang seringkali dipicu oleh sebuah kesombongan: takut dipandang rendah.

Setiap orang yang menyembunyikan sebuah dosa dan tidak mengakuinya di hadapan Tuhan, akan membuat dosanya itu merupakan CATATAN HUTANG yang BELUM TERBAYAR!!

Jika “catatan hutang” itu belum juga dibereskan ketika maut sudah menjemput, maka sesungguhnya orang tersebut mati dengan membawa catatan hutang dosa, yang harus dipertanggung-jawabkannya di Pengadilan Agung kelak.

Oleh karena itu, sikap merendahkan diri di hadapan Allah akan membuat seseorang senantiasa hidup dalam pengampunan, dan perdamaian dengan Allah. Setiap keteledoran yang kita lakukan akan jauh lebih baik kalau kita secepatnya mengakui di hadapan Tuhan, dan membereskannya sesuai aturan Tuhan, agar tidak menjadi catatan hutang dosa.

Hidup adalah serangkaian atau sederetan hari-hari. Beruntunglah setiap orang yang memperhatikan hari-harinya, dan memperhitungkan langkah-langkahnya, dan mengisi setiap detiknya sebagai seseorang yang ‘bebas hutang’ dosa, karena jika suatu saat harus ia mati, dengan apakah kelak ‘pendakwa’ (Iblis) akan mendakwanya?

Jika tidak ada ‘bahan dakwaan’ , maka Sorga adalah tempat yang PASTI!

Salam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s