Derita berkepanjangan sebuah keputusan yang salah


Semenjak manusia memakan buah pengetahuan baik dan jahat, sesudah itu juga timbul keinginan dan berbagai gagasan, dan Tuhan memberikan kehendak bebas kepada anak-anak manusia untuk tetap mengasihi Dia ataukah untuk memilih berpihak kepada keinginannya sendiri. Dan efek yang ditimbulkan oleh buah pengetahuan baik dan jahat ternyata bukan hanya berhenti sampai di Adam dan Hawa saja, melainkan terus menurun pada semua anak cucu mereka yang merupakan ‘belahan sel’ dari tubuh jasmani Adam dan Hawa. 

Celakanya, efek yang ditimbulkan bukannya semakin memudar, namun semakin ‘menggila’.

Jika dosa Adam yang tercatat Kitab Suci ‘hanya’ soal ketidak taatannya dalam hal memakan buah terlarang, maka ternyata Kain, anak sulung mereka memperbesar ‘kejahatan’ orang tuanya dengan menjadi pembunuh manusia pertama, dengan membunuh adiknya sendiri yang ‘tidak berdosa’ , Habel.

Pada mulanya, Hawa dan Adam yang masih ‘polos’ tidak menyadari bahwa mereka sedang diperdaya Iblis, si ular tua, untuk ‘belajar’ meragukan perintah Tuhan, dan MEMILIH untuk mencoba mentaati ‘orang asing’ yang tidak keruan juntrungnya, Iblis. Dan keputusan yang salah itu berimbas kepada seluruh keturunannya.

Saya berpendapat: kalau saja Adam dan hawa tidak berdosa, maka terlalu mudah bagi Tuhan untuk memerintahkan bumi menghasilkan buah-buahan yang siap santap tanpa manusia harus bekerja keras,..:)

Sebuah contoh lain dapat kita lihat pada rumah tangga Abraham yang sebelumnya bernama Abram. Secara resmi Abram telah menikah dengan Sara atau Sarai, dan isteri syahnya ini juga merupakan “belahan jiwa” Abram, ialah wanita pertama yang menjadi sedaging dengan Abram, sehingga di hadapan Allah, maka Sarai adalah ‘tulang rusuk’ Abram.

Tetapi Kitab Suci mencatat bahwa karena tidak sabar, maka Sarai (bukan Abram) mengeluarkan ide agar suaminya itu menghampiri budak Sarai. Usul ini menjadi bukti KETIDAKYAKINAN Sarai dengan janji Tuhan yang akan membuat mereka mempunyai keturunan ‘seperti pasir di laut’ banyaknya. Dan ‘kemenurutan’ Abram menjadi bukti juga bahwa lelaki inipun mengambil pilihan yang salah untuk menuruti ide isterinya dan ‘mengabaikan’ janji Tuhan.

Oleh ‘ide’ mereka (bukan ide Tuhan) maka memang dengan segera Abram mempunyai keturunan dari Hagar, budak Sarai yang dihamilinya, namun itupun bukan rencana Tuhan. Tetapi sejarah Alkitab mencatat bahwa Tuhan cukup berpanjang sabar, sebab ketika Hagar, si budak itu, kemudian mempunyai anak, maka ia tidak siap dengan kondisi itu, sehingga ada kesan ‘tinggi hati’ dan merendahkan sang ‘nyonya’ yang kemudian berdasarkan itu, maka Sarai menindas Hagar sehingga wanita malang ini terpaksa harus lari dari tuan dan nyonya-nya, tetapi Tuhan tetap menghargai anak yang dikandung Hagar, wanita Mesir itu, dan berjanji untuk menjadikan keturunan Hagar menjadi bangsa yang besar, sebab anak yang dikandung Hagar adalah anak Abram, sahabat Tuhan. Tetapi sejarah juga membuktikan bahwa ratusan, bahkan ribuan tahun kemudian, sering terjadi pertikaian antar anak-anak Abram, yakni keturunan Ismael (anak Hagar) dengan keturunan Ishak (anak Sarai).

Ya. Keputusan yang salah untuk ‘meragukan’ janji Tuhan dan mengambil inisiatif sendiri yang notabene tidak percaya sepenuhnya akan janji Tuhan terbukti membawa dampak pahit berkepanjangan bahkan sampai kepada puluhan bahkan ratusan keturunan, entah sampai kapan.

Lalu Salomo, anak Daud, yang diberkati Tuhan begitu berlimpah, sehingga ‘kapanpun dia mau’ dia mampu untuk mencari isteri-isteri muda yang cantik dan ‘berkelas’. Mungkin di dunia ini hanya Salomo yang paling kenyang ‘berkelana’ diantara berbagai type wanita.

Tetapi Kitab Suci mencatat bahwa akhir hidup Salomo bukanlah sesuatu yang dapat diteladani. Setelah Tuhan memenuhinya dengan roh hikmat yang luar biasa, maka justru dia menjadi raja pertama Israel yang menjadi penyembah berhala yang dibawa oleh isteri-isterinya yang berjumlah 700 orang wanita, dan mungkin juga oleh gundik-gundiknya yang 300 orang itu,…:)

Oleh ‘kejahatan’ Salomo ini maka Tuhan menjadi ‘berang’, murka bukan kepalang. Hanya karena menghormati Daud, ayah Salomo, maka Tuhan inijkan Salomo menikmati hidup sampai di hari kematiannya, namun setelah Rehabeam, anaknya menggantikan dia menjadi raja, maka Tuhan ‘membelah’ bangsa Israel menjadi dua buah kerajaan, yaitu kerajaan Israel dan Yehuda. Salah satu dipimpin oleh raja Rehabeam, lainnya oleh Yerobeam.

Sekali lagi, keputusan yang salah, yaitu untuk memilih sendiri sesuatu langkah dengan mengabaikan aturan , ketetapan dan larangan Tuhan, ternyata membawa kepahitan berkepanjangan.

Salam.

Iklan

2 thoughts on “Derita berkepanjangan sebuah keputusan yang salah

  1. Setuju!!! kadang kita ini membingungkan diri sendiri…..padahal hidup kita ini hanya sebatas PerkataanNYA dan KuasaNYA, jadi tidak pada tempatnya kita mengobrak abrik KedaulatanNYA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s