Jika perbuatan baik tidak menghapus dosa, memang Yesus perlu menebus dosa orang mati


Artikel dengan topik ini sedang saya unggah DISINI, dan berikut saya pindahkan kesini beserta komentar yang masuk dari komunitas blogger Kristen http://www.sabdaspace.org dan jawaban saya (saya sebagai “mujizat“). Jika Anda memiliki pendapat, silahkan menambahkan di komentar. Alinea berikut akan memulai topik ini.

Alkitab mengajarkan bahwa perbuatan baik tidak menghapus dosa. Jika seseorang pernah mencuri (berdosa) lalu ia bersedekah dengan memberi makan orang miskin dengan sebagian hasil curiannya itu, maka menurut Firman Tuhan dosa mencuri nya itu belum hilang. Masih banyak contoh lain tentang perbuatan jahat dan perbuatan baik. Sekalipun ada agama yang mengajarkan untuk menimbang (membandingkan?) perbuatan baik dan jahat seseorang yang dengan itu menentukan nasibnya di hari penghakiman, namun bukan demikian yang diajarkan Alkitab. Kitab Suci dengan gamblang mengajarkan hukum tentang curi-mencuri, bunuh membunuh, sumpah palsu dan lain sebagainya. Kitab Musa mengatur tata cara memperoleh pengampunan dosa tertentu, dan Paulus mengajarkan bahwa penebusan dosa dengan korban sembelihan berupa kambing, domba dan lembu merupakan “bayangan” dari pengorbanan Yesus, dan Korban Yesus itulah yang sejatinya berkuasa menghapus dosa.

“Nasib baik” dialami oleh orang yang lahir setelah Yesus menjadi Juruselamat dan memperoleh iman yang benar sehingga menikmati jasa penebusan Yesus Kristus dimana semua dosanya yang mengenai itu dia telah bertobat, maka semua dosanya sudah dibayar lunas oleh salib Yesus Kristus, sehingga ia boleh benar-benar rest in peace: mati sebagai orang yang dosanya sudah ditebus oleh Yesus. Tentu saja golongan ini tinggal menantikan Yesus datang kedua kali dan dijemput-Nya di awan-awan,…

Namun tidaklah begitu dengan orang2 yang tidak kenal Yesus, yang tidak mempercayai Yesus, termasuk orang2 yang lahir di zaman yang salah: lahr terlalu dini, sehingga tidak sempat mengenal apalagi beriman kepada Yesus. Maka golongan ini akan mati sebagai orang2 yang BELUM DITEBUS oleh darah Yesus; artinya mereka BELUM DIKUDUSKAN,… artinya lagi: mereka masih berhutang dosa, tidak kudus, tidak suci,…

Kalau syarat untuk masuk Sorga adalah kekudusan, maka golongan orang2 yang dosanya belum ditebus itu PASTI ngak boleh masuk Sorga, kecuali kalau Tuhan menurunkan atau mengubah standard untuk masuk Sorga, atau kecuali kalai syarat masuk sorga memang hasil timbang-menimbang perbuatan baik dan jahat,… tetapi jika ini yang terjadi, berarti Sorga tidak lagi merupakan tempat yang kudus, karena berisi juga orang2 yang tidak kudus,…

Tetapi jika salah satu syarat untuk seseorang masuk Sorga adalah kekudusan, dan kalau faktanya semua orang telah pernah berbuat dosa (baca = tidak kudus) , maka semua orang perlu untuk dikuduskan agar boleh masuk Sorga.

Di alam nyata, fasilitas penebusan dosa sudah disediakan oleh Yesus Kristus. Bagian manusia tinggal mengimani dan bertindak sesuai imannya kepada Yesus, maka ia akan dikuduskan oleh penebusan Yesus, sebagaimana Firman berkata bahwa kita dibenarkan oleh iman kepada (penebusan) Yesus. Namun sayangnya masih banyak orang yang tidak dapat memanfaatkan fasilitas sorgawi ini, sehingga mereka yang tidak mempercayai Yesus akan mati sebagai orang2 yang BELUM DIKUDUSKAN,…

Lalu bagaimana nasib orang2 yang mati sebelum Yesus lahir?

Mereka telah mati sebagai YANG BELUM DKUDUSKAN OLEH Penebusan Yesus, maka hal itu berarti mereka semua tidak layak masuk Sorga.

Tetapi jika tulisan Petrus benar, bahwa ketika Yesus meninggal, Beliau ternyata memang memberitakan injil kepada orang2 mati, maka sebagai hasilnya adalah arwah-arwah yang menjadi percaya bahwa Yesus telah mati disalib sebagai Korban Tebusan untuk MENGUDUSKAN semua orang percaya, termasuk mereka juga (yang sudah tidak bertubuh jasmani lagi,…).

Oleh iman mereka, maka pengorbanan Yesus juga berlaku buat mereka, sehingga mereka DIKUDUSKAN dari semua hutang dosa mereka di saat masih hidup,……….

Jika dugaan saya ini benar, maka Sorga tetap hanya akan berisi (dari kalangan manusia) orang2 yang telah dikuduskan oleh Penebusan Yesus, dan tidak perlu cemar karena jiwa2 yang belum dikuduskan.

Semoga bermanfaat,…

Shalom.

TANGGAPAN-TANGGAPAN:

Yang berikut, hijau untuk penanya dan hitam untuk jawaban saya.

@ Mujizat, pertanyaan

[ Tetapi jika tulisan Petrus benar, bahwa ketika Yesus meninggal, Beliau ternyata memang memberitakan injil kepada orang2 mati, maka sebagai hasilnya adalah arwah-arwah yang menjadi percaya bahwa Yesus telah mati disalib sebagai Korban Tebusan untuk MENGUDUSKAN semua orang percaya, termasuk mereka juga (yang sudah tidak bertubuh jasmani lagi,…). ]

Deta:

Harusnya jangan bilang “jika tulisan Petrus benar”, mana opini anda? Menurut anda tulisan Petrus benar atau tidak?

Jawab:

Menurut saya, tulisan Petrus memang benar. Saya menduga, Petrus dapat info dari Tuhan Yesus dalam penampakan-Nya selama 40 hari sesudah bangkit, karena tidak mungkin Yesus hanya berdiam diri, tapi tentulah berceritera banyak kepada murid2-Nya, atau mungkin lebih banyak lagi kpd Petrus. Atau kalau tidak, tentulah Petrus memperoleh “wahyu baru” namun kalau memang dia memperoleh wahyu baru, harusnya dia ngomong mendapat wahyu baru, seperti ketika mendapat penglihatan tentang kain lebar dengan binatang2 menjalar yang haram,.

Sesuai tulisan Petrus, saya yakin Yesus memang memberitakan injil, dan bagi yang percaya, mereka terima penebusan dosa.

Deta:

Pertanyaan lain dari saya: Bagaimana dengan bayi yang mati dalam kandungan dan bayi yang mati setelah lahir. Masuk Sorga or neraka?

Jawab:

Saya mempercayai dosa warisan, makanya bayi yang mati dalam kandungan juga perlu pengudusan, dan saya juga yakin bahwa bayi seperti ini secara roh akan mengalami pertumbuhan, dan tidak bayi selamanya. Saya mungkin tidak dapat menjelaskan keyakinan ini, karena dasarnya baru pengalaman pribadi, Deta.

Kalau bayi spt itu masuk neraka tanpa proses menentukan iman, keadilan Tuhan pantas dipertanyakan.

Deta:

Wow, anda benar2 percaya ada penginjilan orang mati? Sudah baca artikel yang INI ?

Saya setuju dengan pembahasan dalam artikel tsb, bahwa tidak ada harapan bagi orang yang sudah mati. Setelah mati maka manusia dihakimi (Ibrani 9:27). Kenapa kontradiksi ya ?

Jawaban pertanyaan soal apakah orang mati masih bisa bertobat akan menjawab soal bayi yang mati. Menurut saya ini berkaitan dengan tulisan Paulus dalam I Korintus  7:14.

Jawab:

Shalom.

Trims buat linknya, sudah saya pelajari,…

Saya mau ambil beberapa ayat dari tanya jawab itu, ulasan sdr “BP” di link tsb., antara lain:

Yoh 5:28 Janganlah kamu heran akan hal itu, sebab saatnya akan tiba, bahwa semua orang yang di dalam kuburan akan mendengar suara-Nya,
Yoh 5:29 dan mereka yang telah berbuat baik akan keluar dan bangkit untuk hidup yang kekal, tetapi mereka yang telah berbuat jahat akan bangkit untuk dihukum.

Dear Deta,

Mungkin Anda mengira bahwa “perbuatan baik” dan “perbuatan jahat” dalam konteks Yoh 5:29 adalah soal akumulasi dan soal “gede-gedean” antara perbuatan baik dan jahat, akan tetapi benarkah Alkitab mengajarkan soal “neraca” antara akumulasi perbuatan baik dan jahat yang dengan itu manusia ditentukan untuk masuk sorga atau neraka?

Ijinkan saya menunjukkan kepada Anda pemahaman saya tentang “perbuatan baik” dan “perbuatan jahat” dalam konteks Alkitab Firman Allah (silahkan baca Yeh 33:13 dulu,…).

Dua penjahat yang disalib di samping Yesus, salah satunya bertobat dan yang lainnya tidak bertobat. FAKTANYA, kedua penjahat itu PASTINYA banyak dosanya, artinya, keduanya masuk kategori “mereka yang telah berbuat jahat”,… itu berarti keduanya harus dihukum di Pengadilan Agung, … tapi FAKTAnya pula, salah satunya akan masuk Firdaus, artinya adalah “anomali”, ketidak laziman,… berarti Yoh 5:29 relatif,…

Sampai disini semoga Anda mulai paham,…………………………

Oleh karena itu, sekarang kita perlu memahami “perbuatan baik” dan “perbuatan jahat” dengan kacamata yang GRES, yaitu paradigma Perjanjian Baru.

Dengan bahasa sederhana, “perbuatan baik” boleh diartikan sebagai “pekerjaan yang dikehendaki Allah” yaitu melakukan keinginan Allah; sedangkan “perbuatan jahat” dipahami sebagai setiap “pekerjaan yang MELAWAN keinginan Allah”, berdasar ayat ini:

Jawab Yesus kepada mereka: “Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah.” (Yoh 6:29)

Jadi: percaya kepada Yesus adalah perbuatan baik, dan menolak Yesus adalah perbuatan jahat,….

Nah, salah seorang penjahat di samping Yesus yang percaya dan bertobat, maka ia melakukan “perbuatan baik” yaitu percaya kepada Yesus, sehingga pastinya semua kejahatannya masa lalu akan diabaikan dalam Penghakiman Agung kelak, dan tindakan “percaya” masih dapat dilakukan ketika seseorang masih dapat berfikir dan membuat keputusan dan “bekerja” walau hanya sebatas “percaya”.

Dalam kisah Lazarus dan orang kaya, maka si orang kaya yang sudah menjadi ARWAH, ternyata ia MASIH DAPAT BERFIKIR, buktinya ia masih sanggup memikirkan kelima orang saudaranya, sdr Deta. Yesus mengisahkan itu ketika Dia BELUM menjadi korban, Yesus saat itu belum menjadi ANak Domba Allah yang disembelih,…

Deta:

Jawaban pertanyaan soal apakah orang mati masih bisa bertobat akan menjawab soal bayi yang mati. Menurut saya ini berkaitan dengan tulisan Paulus dalam I Korintus  7:14.

Jawab:

Surat Paulus itu sbb:

Karena suami yang tidak beriman itu dikuduskan oleh isterinya dan isteri yang tidak beriman itu dikuduskan oleh suaminya. Andaikata tidak demikian, niscaya anak-anakmu adalah anak cemar, tetapi sekarang mereka adalah anak-anak kudus (1 Kor 7:14)

Jika ayat itu mengajarkan kita bahwa anak2 orang Kristen dikuduskan oleh iman kedua orangtuanya, maka itu tidak merubah FAKTA bahwa: jika bayi yang mati BUKAN anak orang Kristen, lalu bayi “YANG TIDAK BERDOSA” itu harus masuk neraka lantaran kedua orangtuanya ngak percaya Yesus, maka sekali lagi KEADILAN TUHAN dipertanyakan, sehingga pemahaman itu juga masih dipertanyakan, sdr Deta.

Satu lagi: Yesus mengajarkan bahwa orang yang masuk Sorga adalah mereka yang NAMANYA TERCATAT di KITAB KEHIDUPAN, dan Anak Allah ini sama sekali ngak ngupas soal akumulasi perbuatan baik/jahat.

Referensi:

12  Dan aku melihat orang-orang mati, besar dan kecil, berdiri di depan takhta itu. Lalu dibuka semua kitab. Dan dibuka juga sebuah kitab lain, yaitu kitab kehidupan. Dan orang-orang mati dihakimi menurut perbuatan mereka, berdasarkan apa yang ada tertulis di dalam kitab-kitab itu.
13  Maka laut menyerahkan orang-orang mati yang ada di dalamnya, dan maut dan kerajaan maut menyerahkan orang-orang mati yang ada di dalamnya, dan mereka dihakimi masing-masing menurut perbuatannya.
14  Lalu maut dan kerajaan maut itu dilemparkanlah ke dalam lautan api. Itulah kematian yang kedua: lautan api.
15  Dan setiap orang yang tidak ditemukan namanya tertulis di dalam kitab kehidupan itu, ia dilemparkan ke dalam lautan api itu (Wahyu 20:12-15)

One thought on “Jika perbuatan baik tidak menghapus dosa, memang Yesus perlu menebus dosa orang mati

  1. Nyata benar perbedaan pikiran kita dengan pikiran Tuhan. Memang ada yang Tuhan ijinkan agar pikiran kita bisa menjangkau pikiran Tuhan, namun lebih banyak lagi pikiran Tuhan yang manusia tidak bisa menjangkaunya. Kalau semua pikiran Tuhan manusia bisa menjangkaunya, maka ia bukanlah Tuhan.

    Siapakah kita di hadapan Tuhan ? Apakah seorang Gideon secara individual atau berikut istri dan anak-anaknya ?. Kemudian siapakah istri kita di hadapan Tuhan ?. Siapakah anak-anak kita di hadapan Tuhan ?. Mengapa pertanyaan ini saya lontarkan, untuk lebih memudahkan cara pandang kita dengan program keselamatan yang direncanakan Tuhan. Keselamatan sifatnya perseorangan bukan team bukan rombongan bukan keluarga. Keselamatan individu seseorang bukan tergantung pada individu yang lain, melainkan tergantung dari individu itu sendiri disamping karena karunia Tuhan.

    Seorang anak apakah milik ayahnya atau ibunya ? Seorang anak lahir dan dibesarkan melalui kedua orang tuanya adalah ya, tetapi anak merupakan titipan Tuhan yang Tuhan percayakan kepada sepasang suami istri untuk “di kelola” dengan baik dan penuh dengan tanggung jawab. Adalah menjadi tanggung jawab orang tua memperkenalkan Tuhan Yesus sebagai Juruselamat kepada anak.

    Bagaimana dengan orang yang belum pernah mendengar tentang Juruselamat yang benar dan kemudian meninggal dunia. Ini adalah bagian Tuhan, urusannya Tuhan, tanggung jawabnya Tuhan. Tetapi juga menjadi kewajiban murid-murid Tuhan Yesus untuk mengabarkan injil ke seluruh dunia, agar setidaknya mereka pernah mendengar tentang Injil Kerajaan sorga.

    Kalaupun Tuhan sudah menetapkan syarat yang bisa masuk surga itu adalah otoritas Tuhan, tanpa kita dapat memveto dengan alasan mempertanyakan keadilan Tuhan. Mari terus kita mencari hikmat Tuhan agar kita tidak terjebak pada hal-hal yang justru akan membawa kita pada ketidak pastian.

    Tanpa bermaksud meredupkan api “pergolakan” saya percaya kita semakin menjadi dewasa untuk mensikapi pola pikir para pemerhati kebenaran yang hakiki.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s