Kebahagiaan Tuhan


Pernahkah kita membayangkan apa aktifitas Tuhan setiap ‘hari’ ? Manusia menjalani rutinitas hidup: bangun pagi, bersaat teduh, mengucap syukur, menyerahkan kepada Tuhan untuk semua aktivitas yang akan dikerjakan dalam 12 jam atau lebih ke depan, mandi, sarapan pagi, mulai kerja dan seterusnya sampai jelang tidur, mengucap syukur untuk berkat dan penyertaan Tuhan sepanjang ‘hari ini’ , bersaat teduh, lalu menyerahkan kepada Tuhan untuk sepanjang malam ini sampai bangun keesokan hari. Tetapi bagaimana dengan Tuhan? Sebab satu hari bagi manusia adalah 24 jam menurut hitungan manusia, sementara bagi Tuhan tidaklah demikian.

Kalau setiap saat Tuhan mengetahui apapun yang terjadi kepada setiap manusia, entahkah dia orang benar ataukah manusia yang masih menyimpang dari kebenaran, itu berarti tidak ada waktu ‘tidur’ bagi Tuhan. Jika Yesus, ketika Dia menjadi manusia seutuhnya dahulu, beliau juga melakukan tidur (istirahat fisik), itu karena pada saat tersebut Dia ‘diam’ dalam tubuh jasmani yang menjalani metabolisme tertentu. Namun saat ini, ketika Yesus sudah duduk di samping Allah Bapa, maka Beliau tidak lagi memerlukan tidur. Lalu apa kegiatan Yesus dan Allah Bapa saat ini?

Banyak orang tidak menyadari bahwa maksud Tuhan menciptakan manusia adalah untuk berinteraksi dengan makhluk ciptaan-Nya itu. Kitab Kejadian menceriterakan bagaimana Allah sering mengunjungi Adam dan Hawa di Taman Firdaus. Banyak orang menyangka bahwa Allah adalah Tuhan yang ‘tidak tersentuh’ , parahnya lagi, saya pernah mendengar bahwa : “Masa iya Tuhan bisa ngomong?”. Persangkaan seperti ini akan menampakkan Tuhan sebagai sesuatu yang nun jauh di sana, dan sungguh berlawanan dengan maksud Tuhan terhadap ciptaan-Nya itu.

Dari interaksi yang terjadi antara Tuhan dengan manusia ini, maka Tuhan dapat memperoleh ‘salah satu’ kebahagiaan.

Kitab para nabi menyatakan isi hati Tuhan, tentang keluhan Tuhan mengenai orang-orang yang acuh tak acuh pada-Nya. Coba kita simak salah satu ayat berikut:

Dan Tuhan telah berfirman: “Oleh karena bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku, dan ibadahnya kepada-Ku hanyalah perintah manusia yang dihafalkan ” (Yesaya 29:13).

Dalam hal yang khusus ini, ibadah diartikan sebagai kegiatan kebaktian misalnya di rumah ibadah, entahkah pada waktu berdoa maupun di saat mendengarkan Firman Tuhan. Ternyata sungguh, bahwa Tuhan membenci ibadah formalitas, yang sekedar menjalani kewajiban. Tuhan benci perilaku seperti ini. Lalu ibadah dengan cara bagaimana yang dikenan Tuhan?

Tuhan merindukan perhatian kita, Dia rindu bahwa hati kita tertuju HANYA kepada Dia, terutama jika sedang beribadah,…….

Melakukan ibadah dengan SEGALA PERHATIAN, itulah yang dikenan Tuhan, itulah yang membahagiakan-Nya.

Melakukan ibadah dengan segenap CINTA kasih tulus, yakni cinta atau kasih seorang anak berbakti kepada bapak kandungnya, seperti itulah yang Tuhan dambakan. Itulah perilaku yang membahagiakan-Nya.

Tuhan bukanlah Allah yang mempunyai isteri untuk memperoleh kebahagiaan dari perkawinan-Nya. Sama sekali tidak. Tuhan menciptakan manusia untuk memperoleh kebahagiaan dari ciptaan-Nya itu.

Sikap egois manusia yang tidak mau peduli kepada kebutuhan Tuhan, dalam hal ini : perhatian manusia kepada-Nya, itulah salah satu perilaku manusia yang menyakiti hati Tuhan.

Ada banyak manusia yang mau datang kepada Tuhan di saat yang salah, atau dalam situasi yang salah, atau dalam sikap hati yang salah.

Ada banyak manusia yang ketika sedang diberkati, dia tidak peduli ‘siapa Tuhan itu’ , namun justru ketika dia sedang alami kesulitan, taruhlah contoh sederhana, disaat lagi mau punya acara, tetapi hujan deras terjadi sehingga merusak acaranya, cenderung ia akan ingat Tuhan dan berkata: “Bagaimana sich Tuhan itu? Hujan koq ngak berhenti-berhenti,…:) “.    Sepertinya jarang orang yang berkata: “Sialan kamu iblis, gara-gara kamu yah, hujan ngak berhenti-berhenti”.

Ya. Banyak orang mau ketemu Tuhan ketika hendak memaki-maki Tuhan. Tidak ada rasa bahagia yang dapat diterima Tuhan dari sikap manusia kurang ajar yang seperti ini.

Tetapi Tuhan memberlakukan hukum tabur-tuai, sebab-akibat.

“Perlakukanlah orang lain sebagaimana kamu ingin diperlakukan” (bd. Matius 7:12).

Ketika kita memberikan perhatian lebih kepada Tuhan, maka Tuhan pun akan memberikan perhatian lebih kepada kita. Kalu kita ngak pernah perhatian sama Tuhan, lantas kita menuntut perhatian lebih dari Tuhan, namanya ngak fair dunk?

Tetapi Tuhan juga mengajar kita bahwa : ketika kita memberikan perhatian kepada sesama kita, maka Tuhan juga dapat memberikan perhatian kepada kita, karena ‘orang lain’ itu pun adalah milik-Nya juga. Sama seperti, jika Anda mempunyai seekor kucing cantik, kebetulan jatuh ke dalam got, lalu seseorang menolong binatang kesayangan Anda itu, maka Anda akan merasa senang oleh perlakuan orang tersebut kepada sang kucing milik Anda itu.

Mengisi hidup dengan memberikan perhatian kepada kebutuhan Tuhan, kepada kebahagiaan-Nya, kepada apa saja yang dapat membuat-Nya merasa nyaman, tidak bisa tidak akan membuat hidup kita dikenan Tuhan, atau ‘diridloi’ oleh Tuhan. Sebaliknya, gaya hidup tidak peduli kepada Tuhan akan mengarahkan seseorang kepada kehidupan abadi yang penuh tanda tanya,….:)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s