Kesempatan Emas


Sebuah kisah,.. ada seorang kepala suku memiliki kegemaran berburu. Suatu ketika ia mengajak beberapa orang termasuk penasehatnya untuk berburu ke hutan belantara yang biasa ia kunjungi. Menjelang sore hari beberapa binatang buruan telah ia dapatkan cukup banyak. Sang kepala suku merasa letih sehingga ia mengajak rombongan berburunya untuk istirahat.

Di tengah keheningan tiba-tiba sang kepala suku berteriak dengan keras. ” Aduh,.. aduh tanganku digigit ular,.. tanganku di gigit ular ,…” demikian sang kepala berteriak dengan keras, sampai semua rombongan mengerumuni sang kepala suku. Terjadi hiruk pikuk dan kekacauan,… sampai sang penasehat berkata: ” Tenang semua, tenang. Ular yang menggigit jari sang kepala suku sudah berhasil ditangkap dan ternyata termasuk jenis ular beracun, dan maaf,… ” sang penasehat dengan cepat mengambil pisau dipingganya dan mendekati sang kepala suku. Apa yang terjadi kemudian ? Di luar dugaan semua orang yang ada di tempat itu, ternyata sang penasehat segera meraih jari kepala suku yang baru terluka karena digigit ular dan memotongnya sampai putus. Terdengar lengking kesakitan dari mulut sang kepala suku.

” Apa yang kamu lakukan pada jariku ? ” teriak sang kepala suku.

” Maaf ketua,.. hal ini saya lakukan untuk menyelamatkan jiwa kepala suku,.. kalau tidak dipotong, maka racun segera menjalar ke jantung, dan jiwa kepala suku sangat terancam” sang penasehat menjelaskan alasannya mengapa ia harus memotong jari kepala sukunya.

” Mengapa harus kamu potong jari ku, he !!,..” sang kepala suku terus marah-marah,

” Bersyukurlah hanya jari yang hilang, dari pada nyawa melayang,..” sang penasehat mencoba menjelaskan.

Sang kepala suku tidak mau tahu,.. ia segera memerintahkan pengawalnya agar menangkap sang penasehat dan memenjarakannya.

Dua tahun sejak peristiwa itu sang kepala suku kembali berburu. Ia sudah mengangkat sang penasehat yang baru untuk selalu mendampinginya. Begitu senangnya sang kepala suku mengejar binatang buruannya, sampai ia terpisah dengan rombongannya. Demikianlah sang kepala suku beserta sang penasehatnya samakin jauh terpisah dengan rombongannya,.. sampai mereka sadar ketika sekelompok orang mengepungnya.

Singkat cerita sang kepala suku dan penasehatnya ditangkap oleh suku lain. Mereka di ikat dan dibawa ke perkampungan mereka, dan mereka dipersiapkan untuk dikorbankan kepada sesembahan mereka. Suku ini memang biasa mempersembahkan korban kepada roh-roh yang selama ini dianggap sebagai pelindung mereka. Korban selalu yang terbaik dan tanpa cacat.

Malam sebelum dikorbankan, kepala suku dan penasehatnya dimandikan terlebih dahulu,.. dan ternyata sang kepala suku kedapatan cacat, karena ada jarinya yang putus. Akibatnya sang kepala suku tidak memenuhi syarat sebagai korban persembahan. Dan malam itu juga ia dilemparkan keluar kampung itu. Tinggal sang penasehat seorang diri menunggu nasib. Sementara itu sang kepala suku yang merasa lolos dari lubang jarum dengan cepat segera berlari dan terus berlari tanpa kenal lelah sampai akhirnya sampailah ke perkampungannya.

Sementara ia terengah-engah kelelahan, maka terjadi kegemparan melanda perkampungan itu.

” Kepala suku telah kembali,.. kepala suku telah kembali,.. ” teriak banyak orang yang banyak mengerumuni kepala sukunya.

” Bawa pengawal yang ku penjarakan dua tahun yang lalu,,. bawa cepat !!,.. teriak sang kepala suku. Maka segera dihadapkan sang penasehat yang sudah mendekam selama dua tahun gara-gara memotong jari kepala sukunya.

” Dengar kalian semua !!” teriak sang kepala suku memecah kesunyian malam.

“ Saya bersyukur dan sangat bersyukur kepada penasehatku yang sudah memotong jariku, karena gara-gara itu saya lolos dari kematian”.

” Sayapun bersyukur telah ketua penjarakan, sebab kalau saya tidak dipenjara dan mengawal ketua, maka sayalah yang menemui kematian”

Dalam suatu percakapan ada yang bertanya, saat kapan manusia dikatakan sebagai yang paling berbahagia ?, dan saat kapan manusia dikatakan yang paling menderita ?. Lawan bicaranya mencoba menjelaskan sebagai berikut.

Dikatakan sebagai yang paling berbahagia adalah ketika hidupnya senantiasa di dalam Dia, di dalam Yesus Kristus, karena di manapun adanya sepanjang bersama dengan Tuhan Yesus yang ada hanya sukacita. Sebaliknya dikatakan sebagai yang paling menderita adalah ketika ditolak Tuhan, ketika di enyahkan oleh Tuhan, ketika tidak dikenal oleh Tuhan, ketika Tuhan tidak berkenan, apapun yang dilakukannya. Kedua hal yang sangat kontradiksi ini akan berujung pada waktu yang sama yaitu kekekalan, artinya tanpa batas waktu. Kalau menderita ya menderita selama-lamanya,.. kalau bersukacita juga selama-lamanya.

Pilihan ini sepenuhnya hak bebas setiap manusia, artinya Tuhan memberikan kebebasan manusia untuk memilih sesuai apa kata hatinya. Mau sengsara kekal,.. atau berbahagia kekal. Kalau sengsara kekal bersama-sama dengan iblis dan kawan-kawannya di neraka,.. sedangkan kebahagiaan kekal bersama Tuhan Yesus Kristus di sorga adanya.

Kapan pilihan tidak bisa berubah ?.. Yaitu saat kematian tiba. Saat itu manusia hanya memetik hasil. Sorga atau neraka. Tidak ada yang bisa protes, tidak ada yang bisa mau-maunya sendiri, tidak ada yang bisa lolos dari hukuman.

Lantas apa maksud tulisan ini dibuat ?.
1. Ingat bahwa saat hidup adalah saat yang paling menentukan kemana setelah mati.
2. Setelah kematian terjadi, tidak ada penyelamatan lagi ( Ibrani 9:27).
3. Jangan main-main dengan hidup, karena tidak ada seorangpun yang tahu kapan kematian menjemput.
4. Camkan baik-baik. Tuhan Yesus mau menjadi manusia, mati, menderita, disalibkan karena kita, karena mau menyelamatkan kita, mau menolong kita dari kematian kekal, dan mau menggantikan hukuman yang sebenarnya untuk kita. Kesempatan yang sangat indah untuk setiap manusia yang mau berbahagia selama-lamanya, sudah Tuhan berikan. Pertolongan sebagai langkah penyelamatan manusia sudah Tuhan berikan seluas-luasnya, berlaku untuk setiap orang yang mau. Sekali lagi yang mau.

Bp. Gideon Agusswt

Saudara mau diselamatkan ?,.. mau lepas dari bahaya api yang kekal ?,.. Jangan sia-siakan kesempatan emas dalam hidup saudara. Hanya Dia, hanya Yesus Kristus sebagai jalan, kebenaran dan hidup yang sanggup, yang bisa, yang mau menyelamatkan saudara dari kematian kekal. Hanya Yesus yang mampu memindahkan arah dari maut kepada hidup.

Mari,.. jangan sia-siakan pengorbanan-Nya, jangan sia-siakan kesempatan emas yang Tuhan berikan. Mari raih kebahagiaan kekal bersama-sama dengan Yesus Kristus dengan mengundang Dia, menerima Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi.

2 thoughts on “Kesempatan Emas

  1. Mengenal “Jembatan Emas”

    Theologia kemakmuran mengajarkan bahwa ketika menjadi pengikut Kristus maka akan terbebas dari kemiskinan, terbebas dari penderitaan. Hal ini tidak sejalan dengan perkataan Tuhan Yesus yang mengatakan bahwa untuk mengikut Tuhan Yesus harus menyangkal diri dan memikul salib. Dua kondisis yang tidak nyaman, tidak enak dan bahkan kalau bisa jangan sampai terjadi. Apakah Tuhan tidak bisa membebaskan anak-anakNya dari penderitaan ?. Apakah Tuhan tidak bisa membebaskan anak-anakNya dari sakit dan kelemahan, kemiskinan bahkan keterpurukan ?.

    Pertanyaan yang sama, apakah Tuhan tidak bisa mempercepat perjalanan bangsa Israel dari Mesir ke tanah perjanjian sehingga tidak harus 40 tahun di padang gurun ?. Atau tidak bisakah Tuhan mencegah saudara-saudara Yusup agar tidak dibuang ke sumur tua ?. Pertanyaan yang sangat mudah dijawab, yaitu bisa. Namun mengapa tidak Tuhan lakukan ? Ternyata Tuhan sedang membuat “jembatan emas” bagi mereka. Melalui peristiwa yang mereka alami, membuat mereka menjadi lebih siap ketika mereka diberkati Tuhan.

    Penulis merasakan hal yang sama,.. ketika “jembatan emas” Tuhan bentangkan di depan mata, tempaan demi tempaan, hantaman-demi hantaman datang bertubi-tubi dan ketika hampir-hampir tidak sanggup lagi melalui jalan itu, pertolongan Tuhan dapat penulis rasakan tepat waktu. Pertolongan Tuhan tidak pernah terlambat dan tidak pernah kecepatan. Adik penulis, yaitu HE di Magelang kini juga sedang melalui “jembatan emas”, yang sarat dengan derita dan air mata. Tetapi melalui jembatan emas itu akan sampai pada kelayakan, kematangan dan kesiapan menjadi pemenang, bahkan lebih dari pemenang. Artinya bukan hanya memenangkan diri sendiri tetapi juga memenangkan banyak orang.

    “Jembatan emas” banyak orang yang tidak menyadari atau bahkan tidak tahu, karena terbukti banyak yang menggerutu, putus asa, kecewa ketika mengalami peristiwa yang dikatagorikan sebagai proses pendewasaan iman, proses penyangkalan diri, dan proses memikul salib. Banyak yang tidak menyadari bahwa di ujung jembatan itu Tuhan Yesus terus mengawal perjalanan anak-anakNya. Tuhan tidak pernah membiarkan anak-anakNya jalan sendiri.

    Tuhan Yesus sendiri pernah mengalami lintasan “jembatan emas” yang bernama kematian di kayu salib. Derita Tuhan Yesus sangat luar biasa, tetapi Ia sadar di ujung sana ada kemenangan yang ditunggu-tunggu orang-orang berdosa. Dan karena kemenangan Tuhan Yesus di kayu salib, kita menjadi selamat. Haleluya.

    Tuhan Yesus memberkati.

  2. Saya menyebut “Jembatan Emas” ini dengan Baptisan Api, ialah baptisan pemurnian yang dijalani lewat penderitaan yang BUKAN dilakukan karena seseorang telah melakukan kesalahan MELAINKAN ketika seseorang berkomitmen untuk hidup MENYESUAIKAN DIRI dengan kebenaran Firman Tuhan, dengan pertolongan Roh Kudus.
    Penderitaan yang disebabkan oleh dosa adalah TEGURAN, tetapi penderitaan yang DIIJINKAN oleh Tuhan bagi ORANG BENAR akan MENGUJI sejauh apa dia miliki KEMURNIAN baik iman, baik pengharapan, baik KASIH kepada Tuhan dan kepada sesama maupun PENGANDALAN untuk bergantung pada Tuhan dengan sebuah keyakinan bahwa: bagi setiap orang yang mengasihi Tuhan, maka segala rancangan Tuhan adalah BAIK baginya, untuk kemuliaan Tuhan.
    Shalom.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s