Mengisi hari-hari dengan hal-hal yang mulia


Hidup adalah anugerah. Lahir ke dunia sebagai manusia adalah anugerah Allah. Ada orang-orang yang “beruntung” dilahirkan sebagai anak orang “mulia”, sementara itu banyak juga yang “kurang beruntung”  karena lahir dari orang tua-orang tua yang tidak baik.  Kenyataannya, tiada seorang manusia pun yang dapat memilih untuk lahir di negeri mana, sebagai suku bangsa apa atau dilahirkan sebagai anak siapa. Tetapi, ketika kehidupan seseorang berakhir, maka Allah akan menilai dia menurut apa yang telah dikerjakannya selama ia hidup. Oleh karena itu, penting bagi setiap orang untuk menjalani hidup dengan bijaksana .

Samuel adalah seorang nabi yang “tidak tercela” di hadapan Allah, dan beliau memiliki dua anak laki-laki: Yoel dan Abia, yang diangkat oleh orang tuanya menjadi hakim-hakim atas Israel ketika nabi ini sudah tua, namun kedua anak yang “beruntung” ini – karena dilahirkan dari seorang nabi TUHAN – mereka tidak hidup menurut cara hidup Samuel, ayah mereka, sebab keduanya mengejar laba, menerima suap dan memutarbalikkan keadilan (1 Sam 8:1-3). Yoel dan Abia adalah contoh dua anak manusia yang “beruntung” karena dilahirkan dari seorang nabi, namun mereka telah mengisi hari-harinya dengan ketamakan dan kedagingan, sehingga prestasi akhir hidupnya tidaklah baik.

Saul, raja pertama Israel, dia lahir dengan talenta bagus. Ayahnya, Kish bin Abiel dari suku Benyamin adalah seorang kaya (1 Sam 9:1). Saul sendiri lahir sebagai seorang lelaki muda yang elok rupanya, paling elok diantara seluruh orang Israel pada waktu itu, serta memiliki postur tubuh paling tinggi diantara orang-orang sebangsanya (1 Sam 9:2). Dan TUHAN memilih pemuda ini untuk diangkat sebagai raja pertama Israel, ketika sebelumnya Israel meminta seorang raja kepada TUHAN melalui perantaraan nabi Samuel dan TUHAN  mengabulkannya  (1 Sam 8:4-5,22). Lalu memerintahlah Raja Saul, tetapi ketika TUHAN menguji pengandalan Saul, raja ini gagal (1 Sam 13:8,9) dan ketika Allah menguji ketaatan Saul, maka raja ini kandas, sehingga akhirnya TUHAN menolaknya (1 Sam 15:1-3,9-11,20,21,35).

Lalu Daud, anak Isai, dia adalah anak lelaki ke delapan, dan TUHAN memilih Daud sebagai pengganti Saul. Nabi Samuel mengurapi Daud, dan sejak itu berkuasalah Roh TUHAN atas Daud (1 Sam 16:6-13). Daud ini sebelumnya adalah seorang gembala dengan alat musiknya yang dia gunakan untuk memuji-muji TUHAN dalam kesehariannya. Pada waktu sebelum diangkat menjadi raja, Daud sering diundang raja Saul untuk bermain kecapi dan melalui permainan alat musiknya itu, roh jahat yang sering mengganggu Saul dapat diusir keluar 1 Sam 16:17,23). Lalu sesudah diangkat menjadi raja, Daud tetap mengisi hari-harinya dengan memuji menyembah TUHAN. Dan setalah Daud meninggal, bahkan lama setelah itu, TUHAN tetap mengingatnya sebagai hamba-Nya yang berkenan kepada-Nya. (1 Raja 9:4; 1 Raja 11:6; 1 Raja 15:3; 1 Raja 15:11; 2 Taw 34:2).

Salomo, anak Daud, setelah mengajukan permintaan yang benar, maka TUHAN memberinya hikmat luar biasa, dan ditambahkan-Nya kekayaan melimpah. Tetapi anak yang “beruntung” ini tidak dapat mengelola talentanya dengan baik. Ia mencintai banyak perempuan asing (1 Raja 11:1), ia mengambil banyak isteri, sebanyak 700 isteri dan 300 gundik  yang telah memikat hatinya melebihi TUHAN (ayat 3) . Ketika Salomo masih muda, para isterinya tampaknya tunduk kepada Salomo dan TUHAN, tetapi ketika Salomo telah menjadi tua dan sebagian dari mereka yang berasal dari negeri penyembah berhala , mereka juga ternyata datang dengan membawa berhala masing-masing, ternyata hati wanita-wanita itu masih melekat kepada alah-alah mereka (ayat 4) . Salomo tidak melarangnya, tetapi “toleransi” dengan ikut menyembah Asytoret, dewi orang Sidon, dan Milkom, dewi kejijikan sembahan orang Amon (ayat 5) dan bahkan Salomo mendirikan bukit pengorbanan bagi Kamos, dewa orang Moab di gunung sebelah timur Yerusalem, dan bagi Molokh, dewa bani Amon. Salomo adalah contoh seorang yang dilahirkan sebagai “beruntung” dan sebenarnya telah memulai dengan hal yang benar, namun gagal di tengah jalan lantaran terjerat cinta membabi buta sehingga kehidupannya berakhir dengan prestasi yang sangat buruk.

Itulah beberapa contoh orang-orang yang mengisi hari-harinya dengan hal-hal yang buruk dan yang mengisi hari-harinya dengan hal-hal yang mulia. Sama seperti: bahwa setiap orang tidak dapat menentukan untuk lahir sebagai anak siapa, maka setiap orang juga tidak tahu bilakah akhir hayat akan datang menjemput, itulah sebabnya akan menjadi begitu penting untuk secara serius mengisi hari-hari kita dengan hal-hal yang berkenan kepada Allah, dan yang mulia. Apalagi Alkitab sudah memperingatkan bahwa andaipun seseorang TADINYA adalah orang benar, tetapi jika dikemudian hari ia melakukan kecurangan: berubah menjadi jahat, maka segala kebaikannya di masa lalu sama sekali tidak akan berguna.

Dan engkau anak manusia, katakanlah kepada teman-temanmu sebangsa: Kebenaran orang benar tidak menyelamatkan dia, pada waktu ia jatuh dalam pelanggaran dan kejahatan orang jahat tidak menyebabkan dia tersandung, pada waktu ia bertobat dari kejahatannya; dan orang benar tidak dapat hidup karena kebenarannya, pada waktu ia berbuat dosa.  Kalau Aku berfirman kepada orang benar: Engkau pasti hidup! –tetapi ia mengandalkan kebenarannya dan ia berbuat curang, segala perbuatan-perbuatan kebenarannya tidak akan diperhitungkan, dan ia harus mati dalam kecurangan yang diperbuatnya (Yehezkiel 33:12-13)

Salam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s