Perlunya jaga hati


Sering kita dengar nasihat untuk menjaga hati, namun ada kalanya orang tidak tahu caranya jaga hati. Dalam hal ini, “hati” bukanlah liver yang kita kenal, namun sistem penyimpan informasi yang kemungkinan merupakan bagian dari otak manusia, baik otak secara jasmani maupun otak secara rohani. Seorang pengkotbah Kristen berkata bahwa rekaman-rekaman di otak lah yang menjadi bukti aktivitas seseorang yang dengan itu menjadi dasar penghakiman. Apakah sistem otak ini langsung punya akses ke “kitab kehidupan”, saya tidak tahu. Ada dua versi: versi pertama (dari agama tetanga) berkata bahwa perbuatan seseorang dicatat oleh malaikat Rakib dan Atid sebagai pencatat perbuatan baik dan buruk; tetapi kalau menurut saya, apakah ngak repot mencatat sekian milyard perbuatan manusia dalam waktu yang bersamaan; lalu yang kedua adalah dimana perbuatan manusia langsung direkam di sistem default manusia, sehingga ketika manusia mati, memang otaknya kembali menjadi tanah, tetapi rekamannya tetap abadi di “otak rohani” (Ini hanya dugaan saya,…).

“Hati” manusia bagaikan RAM (Random Access Memory) atau mungkin Harddisk komputer yang dapat diisi dengan data, tetapi juga bisa dihapus.

Manusia mempunyai beberapa piranti masukan (input device) yang melalui itu informasi masuk, diantaranya: mata, telinga, lidah, hidung dan kulit. Tidak semua informasi yang masuk ke “input device” disimpan ke dalam “hati”. Misalnya ketika Anda masih sekolah SMU ada pelajaran yang kurang disukai atau menurut Anda cukup sulit, maka uraian ibu Guru yang disampaikan secara panjang lebar mungkin hanya “masuk telinga kiri keluar telinga kanan”, atau hanya berapa persen yang masuk. Untuk kasus-kasus semacam ini, latihan adalah salah satu cara “memaksa” informasi itu untuk berubah menjadi DATA dan “memaksanya” pula masuk ke sistem memory.

Ketika saya SMP, saya sulit membaca “busy” lantaran waktu itu huruf hidup “u” dalam bahasa Inggris saya pahami dibaca sebagai “a”, maka “busy” saya baca sebagai “bAsi”, lalu pak Umar Sukarno, guru English saya marah dan bilang: “bAsi, bAsi,… bisiiii,…” kata beliau. Peristiwa itu cukup membekas, sehingga pemahaman tersebut langsung masuk ke sistem memory saya, sehingga setelah itu saya membacanya dengan benar. Rupa2nya kejadian2 khusus mempermudah masuknya sebuah “DATA” ke sistem memory manusia.

Dalam hidup sehari hari, celakanya, banyak peristiwa negatif yang sering manusia jumpai yang memungkinkan informasi2 negatif dengan mudah masuk ke sistem memory manusia, atau masuk ke “hati” manusia. Sedangkan informasi positif terkadang kurang memberikan “shock” sehingga lebih mudah untuk “keluar lewat telinga kanan”.

Omongan yang menghina, yang merendahkan, yang melecehkan, akan dapat menyinggung ego seseorang yang dengan itu mungkin menimbulkan “shock” sehingga dengan mudahnya masuk dalam bilik-bilik “hati” dan tersimpan dengan MANTAP disitu. Seseorang yang diwaktu kecil sering menyaksikan kebrutalan orang tua, menyaksikan mereka bertengkar, menyaksikan papah dan mamah berkelahi dan lain sebagainya dan apalagi mengalami perlakuan kasar dari orang tua maupun orang lain, akan menjadi SHOCK-SHOCK yang lain yang akan terekam kuat “sampai kapanpun.”

Banyaknya rekaman buruk dalam hati manusia sedikit banyak akan mempengaruhi kejiwaan orang tersebut; mungkin dia menjadi pribadi yang mudah tersinggung, mudah marah, mudah menyakiti dsb; seperti meniru rekaman-rekaman di hatinya.

Mengenai ini Tuhan Yesus sudah memberikan peringatan:

18 Tetapi apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang. 19 Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat. 20 Itulah yang menajiskan orang,… (Mat 15:18-20)

Hati macam apakah yang menimbulkan segala pikiran jahat?

Itu adalah hati yang penuh dengan rekaman-rekaman buruk,…………..

Lalau bagaimana caranya agar rekaman-rekaman buruk itu dapat dihilangkan dari “gudang” hati kita?

Alkitab memberitahu caranya: dengan melepaskan PENGAMPUNAN,…

Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup (Yoh 6:63)

Kalau memang sabda Yesus itu benar, bahwa “perkataan” adalah “roh” , dimana “perkataan Yesus” adalah “roh yang menghidupkan” yakni yang membawa seseorang pada kehidupan abadi, maka jika diberlakukan yang setara: setiap perkataan yang “duniawi”, perkataan yang “sampah” dan “negatif” adalah roh juga, tetapi “roh yang (mungkin) mematikan,…”

Melepaskan pengampunan adalah MELAKUKAN FIRMAN Allah, karena perintah untuk mengampuni adalah Firman Allah (Mat 6:14-15), dan dengan perbuatan itu maka Tuhan dimuliakan dan dengan itu juga Roh Tuhan dimuliakan, maka Roh Kudus akan dengan nyaman tinggal di dalam hati, maka jika ini terjadi, Roh Kudus akan bagaikan Lampu Besar yang menerangi hati, maka “sampah-sampah kegelapan” akan pergi, sehingga teranglah hati orang,…

Tanpa pengampunan berarti tidak ada ketaatan, berarti tidak ada kasih kepada Tuhan.

Lalu bagaimana jika untuk melepaskan pengampunan saja baru sebatas kata-kata? karena maksud hati dan niat hati memang mau mengampuni, tetapi hati ini masih SUAAKIIITT sekali lantaran luka yang terjadi begitu parah?

Disinilah pentingnya peranan ROH PENOLONG,…

Ketika seseorang sudah memiliki niat yang baik untuk mengampuni, maka langkah berikutnya adalah minta Roh Kudus untuk memampukannya mengampuni dengan tulus. Pengampunan yang benar adalah: Jika membayangkan “pelaku kejahatan” yang menganiaya Anda, sudah tidak ada lagi rasa sakit hati, dan hati kita tidak mungkin berdusta.

Puluhan orang sudah melakukan langkah ini: meminta pertolongan Roh Kudus agar dimampukan mengampuni, dengan hasil mengejutkan, karena pada waktunya tiba2 hati terasa lapang dan segala dendam hilang entah kemana,….. Kemuliaan bagi Allah,….

Akhinya, menjaga hati adalah tidak membiarkan masukan yang buruk sebagai “DATA”, tetapi menepisnya dengan pengampunan; lalu mengisi hati dengan perenungan Firman Allah, sampai DATA yang ilahi masuk dalam porsi yang cukup, setiap hari,…

Jika hati kita penuh dengan “minyak”,.. maka teranglah “lampu” kita, dan jika hati kita terang, bagaimana mungkin kegelapan masih bisa menguasai????

Tuhan Yesus memberkati.

2 thoughts on “Perlunya jaga hati

  1. Mengampuni, bersukacita, mengasihi bukanlah perintah yang diberikan Allah kepada manusia untuk diletakkan pada kemauan hatinya, tetapi lebih kepada kehendak manusia itu sendiri. Karena jika diletakkan kepada kemauan hati maka manusia menjadi pribadi yang tidak stabil karena sangat dipengaruhi oleh suasana hati. Apakah suasana hati kita baik atau buruk kita tetap akan melaksanakkan perintah Bapa, karena kita sendiri yang menghendakinya. Roh Kudus berfungsi untuk menyucikan kehendak dan hati kita supaya kehendak dan hati kita sejalan dengan pikiran Kristus.
    (menurut hemat saya)

    Salam Kenal
    GBU

    • Shalom,
      Dear Gideon Yudha Tama,
      Anda benar bahwa melakukan Firman Tuhan jangan tergantung suasana hati, tetapi itu adalah sesuatu yang dilakukan dengan kesadaran yang diterangi oleh akal budi. Ketika suasana hati lagi buruk, sumpek, misalnya, maka pada saat itulah akal budi harus mengambil alih komando, sehingga walau suasana hati sedang tidak nyaman, namun dengan akal budi kita tahu ada hak-hak Allah yang harus kita persembahkan, misalnya: pujian, penghormatan, penyembahan dan ucap syukur, yang perlu dilakukan setiap hari. Itulah sebabnya Alkitab mengajarkan: Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu, jiwamu dan AKAL BUDI mu. Saya setuju dengan pendapat Anda soal itu,…
      Tuhan Yesus memberkati.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s