Pertobatan manusia purba, tetangga nabi Nuh


Alkitab mengisahkan manusia purba yang hidup di zaman nabi Nuh. Tercatat di kitab Kejadian pasal 6 bagaimana Allah melihat kerusakan moral manusia, dimana kecenderungan mereka adalah berbuat kejahatan semata, dan hal tersebut sangat memilukan hati Allah (Kej 6:6). Sepertinya “racun” dari buah pengetahuan baik dan jahat yang dimakan oleh Adam dan Hawa tidak berhenti sampai pada kedua orang cikal bakal manusia tersebut, melainkan menurun pada anak cucu cicit mereka, sehingga kecenderungan berbuat dosa mengalami eskalasi sejalan dengan waktu.

Lalu Tuhan menemukan Nuh, seorang yang benar, yang hidupnya selaras dengan kehendak Tuhan. Bahkan Alkitab menuliskan, bahwa Nuh hidup bergaul karib dengan Tuhan (Kej 6:9), artinya, Nuh hidup dalam kekudusan, karena Tuhan adalah Yang Kudus atau Yang Suci, bahkan Mahasuci. Kemudian Allah memakai Nuh, orang benar ini, untuk memperingati umat-Nya yang sudah terlalu jauh menyimpang dari kebenaran, tetapi mereka menolaknya, sehingga akhirnya Allah memutuskan untuk melenyapkan manusia-manusia bumi yang telah rusak moralnya itu dalam air bah yang besar.

Maka datanglah banjir besar yang memenuhi permukaan bumi, sehingga semua makhluk penghuni daratan, mereka semua mati tenggelam, kecuali Nuh dengan keluarganya plus binatang-binatang yang masuk ke dalam bahtera Nuh (Kej 7:13-16). Orang-orang purba tetangga nabi Nuh yang menolak pemberitaan kebenaran oleh nabi Nuh, mereka semua mati tenggelam, namun menyisakan sebuah pertanyaan: Benarkah mereka mati dalam keadaan sudah bertobat? Ataukah mereka mati dalam keadaan tidak bertobat?…..

Kitab Kejadian tidak mencatat secara rinci proses meninggalnya tetangga nabi Nuh satu persatu, karena sepertinya Tuhan tidak mewahyukannya kepada nabi Musa, namun akal budi akan membantu kita memahami kondisi bagaimana yang mengiringi kematian orang-orang purba itu.

Peristiwa banjir besar yang tercatat di kitab Kejadian pasal 7 terjadi melalui hujan deras bagaikan dicurahkan dari tingkap-tingkap langit. Berapa liter/detik debit air yang tercurah, kita tidak tahu persis. Berapa centimeter kenaikan permukaan air per-detik yang menggenangi bumi, kita pun tidak tahu persis. Namun misalnya kenaikan air adalah 1 cm/1 menit sepertinya masih masuk akal. Artinya, para tetangga nabi Nuh masih punya kesempatan untuk berlarian mencari tempat yang lebih tinggi untuk menyelamatkan diri. Hal ini berbeda dengan peristiwa Tsunami dimana air laut sekonyong-konyong datang membanjiri daratan sehingga tidak ada waktu untuk berpikir.

Kita melihat sebuah kemungkinan besar.

Di saat Nuh dan keluarganya masuk ke dalam bahtera, mungkin mereka masih menonton sambil mencibir menghinakan sang nabi. Lalu ketika pintu bahtera itu “menutup sendiri” karena ditutup oleh Tuhan (Kej 7:16) mereka mulai berfikir tentang keanehan itu. Kemudian di saat hujan mulai turun, dan terus tidak berhenti, bahkan semakin deras, mereka lebih sungguh berpikir. Ketika banjir mulai menggenangi permukaan tanah dimana mereka berdiri, dan langit masih gelap dan tidak menampakkan tanda-tanda hujan akan berhenti, mereka mulai ketakutan: jangan-jangan ucapan Nuh benar, bahwa akan datang banjir besar,…

Kesadaran mereka bahwa ucapan Nuh soal banjir besar itu memang sudah terlambat, namun SAAT ITU MEREKA BELUM MATI,….

Mau masuk bahtera tidaklah mungkin, karena pintu sudah ditutup; setidaknya mereka dapat berpegangan pada sisi luar bahtera, tetapi siapa tahan berada di hujan lebat selama empat puluh hari dalam kedinginan dan tanpa makan? Maka akhirnya tewaslah mereka; sebagian kedinginan, sebagian lagi kelaparan, dan sebagian besar lagi mati tenggelam.

Tetapi saya melihat ada jeda waktu yang masih dapat mereka gunakan untuk berpikir. Ini adalah rentang waktu antara mulai datangnya air bah sampai kematian datang menjemput. Ini adalah kesempatan mereka untuk menyesali kebodohannya, kesalahannya, dan ketidak-percayaannya, dan jika orang-orang purba itu memang bertobat, maka sesungguhnya mereka mati dalam keadaan SUDAH BERTOBAT,…

Tubuh mereka memang binasa oleh air bah itu, tetapi jiwa mereka sudah bertobat. Mereka menjadi arwah-arwah yang sudah bertobat,…

Lalu sekian ribu tahun berikutnya datanglah Yesus dalam Roh, dan Yesus memberitakan injil kepada tetangga-tetangga nabi Nuh itu, dan betapa gembiranya mereka mendengarkan kabar baik yang dibawa oleh Yesus (1 Petrus 3:19-20).

Yesus memang harus menginjili arwah tetangga nabi Nuh itu untuk menggenapi ucapan Beliau:

Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” (Yoh 14:6).

Makna ayat itu adalah: bahwa untuk masuk sorga, seseorang harus ditebus dosanya oleh pengorbanan Yesus. Sebenarnya bukan hanya tetangga nabi Nuh, bahkan semua orang, termasuk para nabi, kita semua harus “melalui” Yesus untuk dapat masuk ke Sorga.

Jadi, kemungkinan besar tetangga nabi Nuh ada yang sudah bertobat, dan saat ini BELUM ADA SEORANGPUN yang telah masuk ke neraka.

Silahkan direnungkan, Tuhan Yesus memberkati.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s