Mengenal sistem pembelajaran masyarakat Yahudi

Sistem pembelajaran dalam masyarakat Yahudi adalah sistem pengelompokan umur. Ketika anak-anak sudah berumur 5 tahun, maka ia sudah bisa diajar tentang kitab suci atau Alkitab, meskipun sejauh mendengarkan ceritera atau penuturan ayahnya, atau dilakukan secara verbal.  Pada umur 10 tahun, mereka diajar tentang Mishna (repetisi). Mishna adalah dasar-dasar pengajaran dan menjadi bagian dari kitab Talmud yang berisi tulisan-tulisan para pemimpin agama Yahudi. Mishna juga masih diajarkan secara verbal oleh seorang rabi (guru) kepada murid.

Pada umur 13 tahun, anak-anak Yahudi diajarkan tentang hukum-hukum Tuhan (10 Hukum). Lalu pada usia 15 tahun, mereka diajarkan tentang Talmud.

Pada umur 18 tahun, remaja-remaja Yahudi diajarkan tentang bagaimana mendapatkan seorang isteri. Pada era Perjanjian Lama, sistem pembelajaran Yahudi hanya ditujukan untuk kaum pria, sedangkan anak-anak perempuan akan diajar oleh ibu mereka mengenai tugas-tugas wanita dalam sebuah rumah tangga.

Pada umur 20 tahun, pemuda-pemuda Yahudi didorong untuk suatu panggilan.

Pada umur 30 tahun, pemuda Israel diajar untuk otoritas. Apakah karena itu, maka Yesus mulai melakukan pekerjaan-Nya? yang disesuaikan dengan tradisi yang berlaku di Israel pada waktu itu? Kemungkinan besar adalah begitu.

Pada umur 40 tahun untuk penajaman pemikiran. Pada usia 50 tahun untuk menjadi anggota konsil, mungkin setara anggota DPR di Indonesia saat ini. Pada umur 60 tahun menjadi tua-tua (elder). Terakhir pada umur 70 tahun untuk rambut putih dan kekuatan khusus.

Perlu juga kita ketahui, bahwa sesuai tuntunan Taurat, maka setiap hari seorang kepala rumah tangga diseyogyakan mengajari keluarganya untuk merenungkan Taurat Tuhan.

Jika sistem pembelajaran Yahudi ini dibandingkan dengan kebiasaan orang-orang Kristen saat ini, mungkin kita perlu merasa malu. Sebab ada gereja yang kurang mendorong jemaat untuk mempunyai waktu setiap hari untuk merenungkan Firman Tuhan, seperti tradisi Yahudi tersebut. Malah tidak sedikit yang membaca kitab suci hanya satu kali dalam seminggu, yaitu saat mengikuti ibadah. Yang lebih parah lagi adalah gereja yang tidak menganjurkan jemaat membawa dan membaca kitab suci dalam suatu ibadah atau kebaktian.

Jika bangsa Yahudi diberkati lebih, oleh sebab mereka patuh untuk merenungkan Firman Tuhan siang dan malam, maka kita tidak perlu mengeluh jika merasa kurang diberkati Tuhan, apabila selama ini memang kita kurang melakukan ibadah harian kepada Tuhan.

Sumber: Ceramah Dr. Marulak Pasaribu

Galau Arwah Wanita yang Terpaksa Murtad

Gereja Kerasulan Baru Magelang Jl Brigjen Katamso 12 Kota MagelangKisah nyata wanita Kristen (Kerasulan Baru) yang karena menikah dengan pria lain agama (non Kristen) terpaksa murtad, tetapi sebenarnya hatinya senantiasa rindu untuk beribadah di Gereja (GKBI – Gereja Kerasulan Baru di Indonesia), namun tidak diijinkan oleh suaminya, sampai suatu pagi tiba-tiba saja wanita ini meninggal dunia, lalu dikuburkan secara Islam, akan tetapi petang hari setelah dikuburkan, arwahnya merasuki saudari iparnya dan arwah itu berkata:”Aduh, tolong, semuanya gelap, tidak tahu harus lewat mana,..” kira2 seperti itu, lalu didoakan oleh keluarganya, dan    setelah doa selesai, yang kerasukan langsung sadar.

Nama wanita ini Ibu Latiati, dulunya warga Gereja Kerasulan Baru di desa Gunung Reja, dulunya nama desa tsb Tjidrudju (Cidruju), kec Sidareja, kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Pernah menikah dengan suami pertama, tetapi meninggal, lalu janda ini menikah dengan seorang lelaki muslim, inisialnya Thrn, mereka menikah sekitar 3 th lalu. Dengan suami kedua ini praktis sdr Latiati tidak boleh kebaktian di Gereja, dan di bawah kondisi ini terpaksalah wanita ini murtad. Kabar baiknya adalah: bahwa Ibu Latiati seringkali mengeluh kepada saudara-saudaranya bahwa sebenarnya hatinya masih Kristen, ingin beribadah ke Gereja, namun apa boleh buat, nggak diijinkan suaminya.

Sampai pada suatu pagi, hari Minggu tanggal 21 Oktober 2012, wanita ini kedapatan tergeletak di dekat daun pintu kamar tidurnya dengan tangan masih memegang handphone, tetapi di kamar tsb dia bersama anaknya yang masih berumur 3 tahun. Mengira ibunya tidur dan nggak mau dibangunin, anak 3 th ini menyeret kursi untuk mengambil anak kunci yang digantungkan di atas, dan dia membuka pintu kamar. Ketahuanlah oleh keluarganya bahwa ternyata Ibu Latiati ini sudah meninggal, sekitar pukul 04.30 WIB.

Sekitar jam 11 siang, jasad Latiati dikuburkan secara muslim.

Lalu sore harinya, seorang kakak ipar (wanita) baru datang dari luar kota, dan mengeluh kakinya kesemutan, minta dipijitin dan “diblonyohi”, sementara Ibu Endang, yang menuturkan kesaksian ini, yakni adik dari Ibu Latiati, Ibu Endang menyiapkan air panas buat merendam kaki kakak iparnya yang kesemutan. Belum lagi siap, sang kakak seperti pingsan, tangan dan kakinya dingin sekali, dan bermanifestasi, kesurupan.

“Aduh, peteng, ora weruh dalan, kudu liwat ngendi yo? Aku bingung, aku bingung,…” (Aduh, gelap, tidak bisa lihat jalan, harus lewat mana? … ). Begitu kira-kira kata-kata yang keluar dari mulut sang kakak ipar yang kesurupan.

Lalu anggota keluarga (Kristen, GKBI) berkumpul dan berdoa. Ada yang berdoa Bapa Kami, lalu berdoa untuk minta pengampunan dan pertolongan Tuhan Yesus agar arwah Ibu Latiati ditolong Tuhan Yesus.

Ajaibnya, ketika doa selesai, sang kakak ipar yang kesurupan langsung sadar, puji Tuhan.

Seperti diketahui, Gereja Kerasulan Baru mempunyai acara rutin, Kebaktian Istimewa yang dilakukan 3 bulan sekali, yakni Kebaktian khusus melayani orang-orang mati, dan dua minggu setelah kejadian meninggalnya Ibu Latiati adalah tepat diadakan Kebaktian Istimewa, yaitu hari Minggu, 4 November 2012. Liwat kebaktian ini, seorang arwah diwakili oleh seorang yang masih hidup untuk dibaptis dalam nama Bapa, Tuhan Yesus dan Roh Kudus, memenuhi Hukum Kerajaan Allah.

Tidak lama sesudah Kebaktian Istimewa tersebut, seorang kerabat bermimpi ditemui Ibu Latiati yang berkata bahwa sekarang dia sudah bahagia.

Jika kejadian ini benar demikian, maka benang merahnya adalah: sekalipun seseorang – oleh karena keadaan – terpaksa murtad, akan tetapi hatinya masih tetap percaya kepada Tuhan Yesus, jadi meskipun fisiknya non-Kristen, akan tetapi dengan kondisinya itu bathinnya sebenarnya merindukan Tuhan Yesus, maka sesungguhnya Tuhan adalah Dia yang melihat hati.

Shalom.

Paduan Suara Tanpa Ujud di RS Bethesda Yogyakarta

Kisah ini sebagaimana dituturkan oleh sdr Rina yang menceriterakan sebuah kejadian misterius mengiringi saat-saat jelang meninggalnya ayahanda tercinta. Nama almarhum adalah bp. Hendro Hartono, seorang warga Gereja Kerasulan Baru Magelang. Selama beberapa minggu beliau dalam keadaan sakit (diabetes?) dirawat di RS Bethesda Yogyakarta, dan meninggal dini hari, sekitar pukul 04.30 WIB dinihari di rumah sakit tersebut, tetapi dalam waktu 2,5 jam di bangsal tersebut terdengar paduan suara yang cukup keras yang didengar oleh setidaknya 4 (empat) orang yang mendengar secara bersamaan, dalam bahasa asing (diduga bahasa Belanda – pen).

Almarhum mempunyai dua orang puteri, yaitu Dian (sulung) dan Rina (bungsu) dan seorang isteri. Almarhum dulunya seorang muslim, lalu convert ke Kristen, menjadi warga Gereja Kerasulan Baru Magelang, dan penulis cukup dekat dengan keluarga ini.

Pada hari itu, almarhum yang berada di salah satu bangsal RS Bethesda, ditunggui oleh isterinya, yaitu Ibu Hendro (Ibu Yanti), dan mbak Dian (sulung), sementara itu Rina, si bungsu, berada di rumah, di Magelang (45 km arah utara Kota Yogyakarta). Sekitar jam 02.00 dinihari, Rina mendengar seseorang mengetuk pintu depan rumah, lalu sambil terkantuk-kantuk Rina mengintip dari kaca jendela: “Eh, papa,..” gumamnya dalam hati. Lalu Rina membuka pintu depan rumah.

“Lho, pah, kok pulang sendirian? Sama siapa?” tanya Rina. Dia melihat papanya memakai pakaian putih, tetapi kok sendiri saja.

“Rin, tolong besok kamu ke Bethesda, papa dibawain Jas warna ABU-ABU, dan bawakan juga baju2 yang bagus buat mamah dan kakamu Dian. Besok mau ada pesta” kata pak Hendro.

Pak Hendro sempat masuk ke dalam rumah, lalu berpamitan untuk kembali ke RS Bethesda. Anehnya, begitu sampai ke halaman luar, papahnya Rina terus menghilang.

Rina menutup pintu depan dan kembali masuk ke kamar tidur dengan perasaan aneh, tetapi dia tidak membangunkan pakdenya.

Tidak berapa lama, ada telpon dari Mamahnya, kalau papah koma,…

Jam 04.30 ada telpon masuk, papah meninggal dunia. Rina menangis,… Lalu mamahnya pesan kepada Rina agar paginya ke RS Bethesda sambil membawa setelan jas almarhum papahnya. Pakdenya Rina membantunya mencari setelan jas almarhum, dan tanya warna apa.

“Yang mana Rin? Setelan jas yang hitam pa?” kata pakdenya Rina.

“Bukan, pakde. Papa udah pesan ke Rina, untuk dibawakan setelan jas warna ABU-ABU” jawab Rina.

“Lho, kapan papahmu bilang ke kamu?” tanya pakdenya sedikit heran.

“Tadi, jam 2 an papa ke sini nemuin Rina” jawab gadis itu. Lalu Rina secara singkat menceriterakan bagaimana “papahnya” datang sekitar jam 02.00 malam tadi.

Sedikit kilas balik.

Ketika roh pak Hendra menemui Rina (paragraf 2&3 di atas) saat itu lebih kurang jam 02.00 WIB dini hari.  Sementara itu, pada saat yang sama, di RS Bethesda ternyata ada kejadian cukup misterius. Mulai jam tersebut, mbak Dian mendengar suara ada paduan suara yang cukup keras, seperti paduan suara sebuah gereja. Selain mbak Dian, sedikitnya dilaporkan ada tiga orang lainnya yang mendengar suara aneh itu. Kejadian ini tercatat tanggal 25 September 2004 (jika ada kesalahan tanggal, segera akan kami koreksi) di RS Bethesda Yogyakarta.

Ada yang komplain kepada perawat: “Mbak, tolong tape recordernya dikecilkan, suaranya terlalu keras. Kasihan pasien, khan terganggu.”

“Suara apa? Kami tidak mendengar suara apa-apa. Ini kan rumah sakit” jawab petugas, karena memang dia tidak menghidupkan perangkat semacam tape recorder.

Ya, dilaporkan, suara paduan suara yang didengarkan oleh 4 orang itu cukup keras, dan tidak tahu sumber suaranya dari mana. Ini aneh. Tidak semua orang mendengar suara itu.

Masih ada kejadian lain yang dilaporkan. Ada orang yang melihat “dua orang” berpakaian putih berada di sekitar bangsal tempat almarhum pak Hendro terbaring, tetapi tidak semua orang melihat sosok dua orang itu.

Lebih kurang pukul 04.30 dinihari, pak Hendro dinyatakan telah meninggal dunia, menghembuskan nafas terakhirnya. Tepat pada jam tersebut, suara paduan suara seketika berhenti, dan sosok “dua orang berpakaian putih” juga lenyap.

TUJUH SINAR

Ketika dilakukan prosesi pemakaman, seseorang melakukan pemotretan kepada peti jenazah, menggunakan kamera digital. Dilaporkan, ada terlihat tujuh sinar memancar dari peti jenazah ke atas.

Seorang sahabat berkata kepada saya: “Tahu tidak, mas Hari, apa arti tujuh sinar itu?”

“Lha, apa?” tanyaku.

“Malaikat” jawab teman saya mantap.

Puji Tuhan

Ampuhnya memperkatakan Mazmur 91

Seorang hamba Tuhan mengisahkan sebuah peristiwa yang beliau pernah alami, bagaimana seorang paranormal kehilangan beberapa ekor jin yang selama ini dia piara. Hamba Tuhan ini pernah melayani di gereja Tiberias selama beberapa Tahun, dan hampir semua mall besar di Jakarta sudah beliau kunjungi (kotbah), tetapi ketika Tuhan menyuruhnya, dia sekarang pindah ke Jogyakarta untuk menggembalakan kota Gudeg ini.

Pada waktu itu beliau sedang dalam perjalanan, berada dalam sebuah kendaraan umum (kereta api?). Beliau sudah membiasakan diri, sebelum bepergian ke suatu tempat, apalagi untuk tugas pemberitaan injil, beliau terlebih dahulu memperkatakan dengan iman, beberapa ayat dari kitab Mazmur 91.

Sebab TUHAN ialah tempat perlindunganku, Yang Maha Tinggi adalah tempat perteduhanku.
malapetaka tidak akan menimpa aku, dan tulah tidak akan mendekat kepada rumahku.
Sebab malaikat-malaikat-Nya akan diperintahkan-Nya kepadaku untuk menjaga aku di segala jalanku. (bd Mazmur 91:9-11)

Di kereta itu, hamba Tuhan itu tertidur lelap. Tetapi tepat di kursi seberang lorong kereta, adalah seorang yang gelisah, celingukan, dia seorang paranormal, merasa sedang “diserang” seperti sebuah serangan santet.

Dia pandang ke kiri kanan mau cari tahu siapa yang yang sedang menyerangnya. Tatapan matanya tertuju kepada seorang lelaki di seberang lorong, ialah sang hamba Tuhan kita,: “Ah, mana mungkin dia, karena dia sedang tidur, mustahil dia sedang nyantet pula” pikir orang tersebut.

Penasaran, dengan kemampuan yang dia miliki, sang paranormal melihat isi kopor yang berada dekat orang yang sedang tidur itu. Alkitab, ya, di dalam kopor ada alkitab, dan orangnya sedang tidur,tetapi dia curiga bahwa orang itulah pelakunya.
Tak berapa lama, sang hamba Tuhan terjaga, dan singkat ceritera mereka terlibat pembicaraan.

Dari pembicaraan itu tahulah sang hamba Tuhan bahwa orang yang mengajaknya bicara adalah seorang paranormal. Dia memelihara (bekerjasama dengan) banyak jin, yang dengan jin-jin itulah ia juga bisa menyantet seseorang. Paranormal itu mengaku memiliki ilmu setingkat dengan para pemburu hantu. Merasa dapat momen yang bagus, penginjil kita memberitakan injil kepada sang paranormal, kemudian mereka bertukar nomor telpon.

Dan ketika tiba di sebuah stasiun, mereka berpisah, namun sang paranormal masih dengan tatapan seperti seseorang yang keheranan.

Kemudian penginjil kita keluar dari stasiun dan naik taksi, dan sebuah sms masuk, rupa-rupanya dari sang paranormal, dia berkata bahwa dia kehilangan 9 ekor jin. Rupa-rupanya ada 9 ekor jin yang mengikuti sang hamba Tuhan, sepertinya untuk menyerangnya, tetapi tidak bisa.

Handai taulan yang dikasihi Tuhan.

Ketika kita meyakini bahwa Alkitab adalah Firman Tuhan, misalnya ayat-ayat di Mazmur 91:9-11 diyakini sebagai sebuah kebenaran dan kita ucapkan dengan tanpa ragu-ragu, maka Tuhan akan memperlakukan kita, orang-orang yang berhak memperoleh keselamatan, sesuai iman kita, yang dalam hal ini, TUHAN akan mengirimkan malaikat-malaikat-Nya untuk melindungi kita dari marabahaya.

Jika seorang selebriti mampu menyewa body-guard, maka mereka masih bisa tertidur dan mengantuk, namun juga tidak akan mampu menjagai selebritis dari serangan-serangan yang tidak kasat mata, yang memang ada. Tetapi kalau kita dikawal malaikat-malaikat, maka sesungguhnya kita bisa mendapatkan perlindungan yang sempurna.

Salam.

Penginjil Pantang Jera

Seorang dosen Misiologi mengisahkan riwayat pelayanannya yang luarbiasa. Pertobatan beliau sekitar tahun 1980 an, dari seorang muslim menjadi penginjil luar biasa. Mengawali pertobatannya, beliau saat itu sebenarnya berencana untuk nyantri di Tebu Ireng, sebuah Pondok Pesantren terkenal di Jawa Timur. Di sebuah penginapan, seorang ibu tua yang buta huruf menemukan sebuah Traktat, lebih kurang berjudul “Apakah Anda sudah merasa bahagia? Sebagai seorang awam, ibu itu mengambil Traktat yang di tempat sampah namun masih bagus dan dia menyebutnya sebagai “layang” (surat) kemudian memberikannya kepada mas Har, begitu saya sebut nama dosen yang saat itu masih muslim.

Ketika dia membaca traktat, dia sungguh tersentak, dan membuatnya hampir-hampir gak bisa tidur. Traktat itu ternyata dari sebuah misi penginjilan Kristen. Lalu dia putuskan untuk pulang sambil diam-diam membawa traktat itu, dan ditaruhnya di bawah kasur.

Singkat ceritera, dia akhirnya bertemu juga dengan team misi Kristen itu, dan diam-diam ia mengikuti kursus penginjilan. Ia begitu bersemangat, walapun saat itu ia belum sepenuhnya memahami ajaran Kristen. Dalam benaknya hanya ada sebuah dorongan, bahwa SETIAP ORANG BUTUH YESUS,…

Setelah mengikuti kursus singkat selama seminggu, ia diajak seorang tutornya untuk menginjil. Mereka membawa traktat serupa, lalu ia disuruh mengetuk setiap pintu di setiap rumah di pedesaan. Setiap kali ia memberikan kepada penghuni rumah sebuah traktat, sambil bilang: “Pak, ini ada bacaan gratis,…”

Pernah suatu ketika, ketika ia memberikan sebuah traktat, orang tersebut berkata: “Mas, tunggu sebentar, sini duduk ! ” Lalu penginjil kita ini duduk. Kemudian orang itu meremas-remas traktat di depan penginjil kita, kemudian menghamburkan serpihan-serpihan traktat itu ke muka penginjil kita, dan meludahinya. Penginjil kita hanya bersuara: “Haleluya, puji Tuhan”. Kemudian ia pergi dari tempat itu tanpa rasa dongkol, dan pergi ke rumah lainnya, diiringi tatapan kebencian dari orang yang meludahinya.

Pernah juga ketika sedang membagikan traktat itu, ia dipukuli orang ramai-ramai.

“Tahu tidak, ternyata ketika saya dipukuli, hanya sampai pukulan kelima yang terasa sakit, selebihnya hanya kebas dan tidak terasa sakit” katanya mengisahkan.

Namun suatu kali pernah juga, ketika ia dipukul orang sekali, otaknya bekerja, lalu ia menjatuhkan diri. Dia berharap orang-orang mengiranya jatuh pingsan sehingga berhenti memukuli dia. Namun  ternyata perkiraannya meleset, karena ketika ia jatuh, malahan ia diinjak-injak banyak orang. Haleluya.

Demikianlah, beberapa jurus penginjilannya, seringkali setiap kali memberikan traktat, ia mengambil langkah seribu, lari agar tak dipukuli. Pernah dia lari melintasi sawah-sawah, sampai sepatunya hilang satu, tertinggal di sawah yang becek.

Namun Tuhan sangat baik. Banyak orang ternyata memberikan tanggapan terhadap traktat itu,karena ketika mereka kembali sekian minggu setelah traktat dibagikan, banyak orang yang menyambut mereka.

Hingga hari ini, lebih kurang ada 300 KK (Kelompok Kristen) yang berdiri di desa-desa dimana sebelumnya tidak ada seorangpun yang Kristen. Puji Tuhan.

Beliau juga manambahkan, bahwa beliau berkomitmen untuk TIDAK MENGAMBIL PERSEMBAHAN baik perpuluhan maupun yang lain untuk keperluan pribadi. Tapi setiap perpuluhan dia kembalikan untuk jemaat yang miskin. Puji Tuhan. Lalu untuk memenuhi kebutuhannya, ia bekerja keras sambil berdagang.

Sungguh model penginjilan yang patut diteladani.

Salam.

Belajar dari kematian Steve Jobs pendiri Apple Inc

Belum lama, yakni tgl 5 Oktober 2011 lalu, dunia kehilangan Steve Jobs, seseorang yang andil besar dalam teknologi komputer, khususnya di perusahaan raksasa Apple Inc , salah satu penyebabnya adalah diduga komplikasi kanker pankreas bentuk langka (Wikipedia) di usia 56 tahun. Ia meninggalkan kekayaan lebih dari 70 triliun rupiah.

Sebelumnya, selama lebih dari dua tahun kasus penyakitnya, yakni tumor pankreas sudah ditangani secara medis dan dengan berbagai cara yang dianggap terbaik, namun akhirnya beliau dipaksa menyerah pada “suratan takdir”.

Yah, umur manusia, siapa tahu? Kebanyakan manusia, termasuk saya, selalu mengira bahwa umur kita akan panjang, kematian kita masih akan lamaaa,… tapi, umur manusia, siapa tahu?

Handai taulan terkasih,

Jika seandainya kita tahu dan yakin bahwa umur kita tinggal satu minggu, semisal karena penyakit yang secara kedokteran DIPASTIKAN bahwa kematian akan datang selambatnya seminggu ke depan, dan jika, seandainya kita tak punya siapa-siapa padahal kita punya kekayaan BANYAK, sampai trilyunan rupiah, puluhan trilyun rupiah, kira2 apa yang akan kita lakukan yah?

Panik? Menangis? Menjerit? Cari pengobatan alternatif?

Kepanikan, tangisan, jeritan dan upaya alternatif tidak akan berdaya apa2 jika memang Tuhan sudah menetapkan umur seseorang.

Mungkin, jalan terakhir adalah tawar menawar dengan Tuhan. Tapi bagaimana melakukannya? Mendengar suara-Nya pun ngak pernah? Kenal Dia pun tidak? Ber agama pun tak yakin?

Belajar dari itu, selagi kita nggak divonis MATI, maka langkah terdekat kita adalah mencari Tuhan, mencari kehendak-Nya, selagi Ia berkenan ditemui, selagi kita sehat, terus berjuang mencari kebenaran, sampai kebenaran itu tersingkap, hingga kita bisa hidup dengan mantap.

Dalam sebuah kesempatan, Yesus berceritera tentang seorang kaya yang cukup sukses, yang berfikir: “Aku akan memperbanyak lumbung-lumbungku untuk menampung semua hasil panenanku. Lalu aku akan berkata kepada jiwaku: ‘Hai jiwaku, kita punya harta banyak, cukup untuk sekian turunan. Bersenang-senanglah’. Tetapi apa kata Tuhan:’Wahai kamu orang bebal, malam ini nyawamu akan kucabut’ . Begitulah orang yang suka menumpuk kekayaan untuk dirinya sendiri” Kira2 begitu kata Yesus.

Nah saudaraku, vonis mati bisa datang setiap saat, waspadalah. Tapi aku yakin, setiap orang yang berjalan dalam kebenaran, ia tidak akan takut lagi, sebab Kebenaran itu akan memerdekakannya.

Salam.

Adakah Yesus pernah berkata: “Sembahlah Aku,..”

Hari ini Minggu 23 Okt 2011 jam 12:31 pm sebuah sms masuk ke hp saya bilang begini:

“Ada pertanyaan yg susah, bukti Yesus minta disembah atau sbg Tuhan. Yg dari ke-4 injil PB sekaligus,.. yg pasti kalau Yesus itu Tuhan, 1 dari 3 oknum Tuhan. Tp bagaimana Dia bisa jadi Tuhan? Yahudi pun bingung krn ga disebutkan di 4 injil. Jgn pakai injil Yoh awal yg genesis krn palsu, itu hanya sisipan yg ditambahkan pendeta fakta baru2 ini.. Buktinya hrs ada 4 injil, jgn hanya 1 injil saja, n jgn injil Yohanes awal. Di www.sarapanpagi.org hanya injil Yoh 1:1 yang dipakai.”

Jawabku (jam 01:31 pm)

“Yesus tau bhw manusia hanya boleh menyembah Allah (Mat 4:10). Fakta: Yesus tak pernah menolak ketika org2 menyembah-Nya (Mat 8:2; Mat 9:18; Mat 14:33; Mat 28:9; Mat 28:17, dll “

Kusambung (jam 01:37 pm)

Malaikat menolak disembah (Wahyu 22:8-9), Petrus menolak disembah (Kisah 10:25-26) Jadi konteks menyembah di dlm Injil hanya boleh kpd Allah. Yesus inkarnasi Allah, Yesus adlh Immanuel yg berarti Allah menyertai manusia. Tak sulit khan? “

sms itu masuk lagi (jam 01:42 pm)

“Maksudnya kata Yesus sendiri yg mengucapkan disembah sbg Tuhan dr ke 4 injil, bukan slh 1 injil?”

Jawabku (jam 01:54 pm)

“Iblis minta disembah (Mat 4:9), Allah TIDAK PERNAH MINTA DISEMBAH, silahken temanmu cari di seluruh Alkitab bhw Allah minta disembah. Permintaan untuk disembah bukan ukuran bhw suatu pribadi adalah Allah. Frase ‘sembahlah Allah’ muncul di Wahyu 19:10 itu adalah ucapan malaikat, dan bukan ucapan langsung Tuhan Allah sendiri. Dan fakta Yesus tidak pernah menolak ketika seorg manusia menyembah-Nya, membuktikan bhw Yesus memang Tuhan.”

Sekarang sudah jam 20.31 pm, sudah 7 jam lebih dan dia belum sms lagi. Semoga teman muslimnya sudah paham.